Menyoal Kepahlawanan

Hari ini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Berbagai ucapan beredar di seantero media sosial dalam rangka memperingati hari ini. Wajah-wajah sosok yang dianggap pahlawan, atau memang secara resmi telah disematkan gelar pahlawan oleh negara, beredar pula mengiringi ucapan-ucapan tersebut. Seperti biasa, setiap kali ada sebuah peringatan, seperti hari ini, saya bertanya-tanya. Kali ini, pertanyaan di benak saya berkutat pada satu isu: siapa yang sebenarnya layak disebut “pahlawan”?
Selama ini pahlawan selalu diidentikkan sebagai sosok yang rela mengorbankan nyawanya demi kepentingan orang banyak. Pada intinya: pahlawan adalah mereka yang rela menukar nyawanya sendiri demi nyawa-nyawa orang lain dalam jumlah yang lebih besar secara kuantitas dibandingkan nyawanya seorang diri. Oleh karena itu, negara memahlawankan orang-orang yang gugur di medan perang. Oleh karena itu, Captain America dijadikan pahlawan (setelah ia mengorbankan nyawanya pada film “The First Avenger”). Dalam konteks sejarah yang dipenuhi darah dan peperangan, adalah wajar ketika orang-orang yang gugur menjadi pahlawan bagi pihak yang dibelanya. We don’t trade lives, but in the reality yes, we did trade lives. Dan pada tataran ini, menurut saya mereka layak disebut pahlawan, atas penukaran nyawa mereka demi sebuah visi yang jauh melampaui pemenuhan ego pribadi, seperti untuk kemerdekaan bangsa atau untuk menyelamatkan nyawa-nyawa ribuan manusia lainnya.
Dalam konteks yang lebih luas, pahlawan lebih dari sekadar gugur di medan perang atas visi yang jauh lebih besar ketimbang memenuhi ego pribadi. Pahlawan, menurut saya, adalah mereka yang berani membela apa yang menjadi kepentingan orang banyak, bukan hanya sekadar apa yang menurut mereka benar. Pahlawan, menurut saya, adalah mereka yang tulus mengesampingkan ego pribadi mereka demi perwujudan kepentingan kolektif yang visioner. Pahlawan, menurut saya, dimulai dari adanya jiwa pahlawan dalam diri manusia, yang diwujudkan melalui aksi dan tindakan, bahkan dalam skala sekecil apapun dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pahlawan dalam konteks tersebut, sayangnya, susah ditemukan.
Mengapa susah ditemukan? Karena pada dasarnya, sifat kepahlawanan itu sendiri sudah parsial sejak awal mulanya. Captain America adalah pahlawan bagi rakyat Amerika. Namun bagi pihak yang menjadi musuh Amerika dalam perang, ia adalah teror. Thanos bisa jadi merupakan musuh bagi para superhero dan pihak-pihak yang berseberangan pendapat dengannya, The Mad Titan. Namun bagi para pengikutnya dan pihak-pihak yang sependapat dengannya, ia adalah pahlawan, The Great Titan. Ia membunuh demi masa depan semesta yang lebih baik, menurutnya. Apakah ia salah? Ya, ia salah dengan membunuh. Namun apakah ia salah dengan mengharapkan semesta yang lebih baik dan terjamin kehidupannya di masa mendatang? Tidak, ia tidak salah.
Pertanyaannya: apakah Thanos pahlawan? Jelas bukan. Apakah Captain America pahlawan? Tidak bisa sepenuhnya dibilang iya. Toh dalam perang, ia juga membunuh musuh-musuhnya. Sehingga, tidak ada definisi pahlawan yang bersifat universal. Pahlawan, sejak awal mulanya hingga kini, selalu bersifat parsial dan paradoksal. Pahlawan bagi yang satu belum tentu merupakan pahlawan bagi yang lain.
Apabila mencari definisi pahlawan secara universal, bisa jadi “orang yang mengorbankan kepentingan pribadinya demi orang banyak” sudah cukup. Dengan demikian, seseorang dapat menjadi pahlawan bagi masyarakat atau rakyat atau pihak yang ia bela. Hanya saya, definisi universal tersebut tetap tidak sanggup menjadikan seseorang sebagai sosok pahlawan yang universal; ia akan tetap menjadi musuh atau teror bagi pihak lainnya yang berseberangan. Pada masa lampau, utamanya zaman peperangan, garis batas tersebut terlihat jelas. Mereka yang gugur di medan perang demi kemerdekaan Indonesia adalah pahlawan bagi rakyat Indonesia. Pertanyaannya kemudian: adakah pahlawan di masa kini?
Jangankan menemukan pahlawan masa kini, mencari orang dengan jiwa pahlawan yang tulus saja susah sekarang ini. Dunia akhir-akhir ini dipenuhi dengan orang-orang sok pahlawan; yang melakukan perjuangan semata hanya karena dorongan atas upaya pemenuhan ego mereka sendiri, alih-alih benar-benar memerhatikan kebutuhan orang lain, apalagi orang banyak. Bung Tomo mungkin bersedih meratapi realita apabila ia masih hidup sampai sekarang. Saya rasa Tuhan memang adil, dalam keputusannya untuk mematikan orang tertentu pada zaman tertentu.
Sebenarnya, sederhana saja: antara mengorbankan diri demi orang banyak atau membela kepentingan orang banyak. Namun, pada praktiknya, hal sederhana tersebut menjadi rumit ketika bahkan dalam melakukan sesuatu yang ia anggap sebagai aksi/tindak kepahlawanan, seseorang tidak benar-benar mendengarkan/mengetahui/memahami apa yang menjadi kepentingan kolektif. Sehingga pada akhirnya, pengorbanan diri dan pembelaan/perjuangan yang ia lakukan sebagai aksi/tindak kepahlawanan hanya berujung pada pemenuhan kepentingan pribadi. Dunia ini kekurangan orang yang mau mendengar alih-alih berbicara. Dunia ini kekurangan orang yang mampu memahami alih-alih bersikap apatis. Dunia ini kekurangan orang yang sanggup berempati alih-alih menjustifikasi. Mari kita mulai dari sana; belajar untuk mendengar, memahami, dan berempati.
Sebagai penutup, saya berikan kutipan yang saya dapatkan dari sebuah serial drama Korea yang baru-baru ini saya tonton:
Those who hurt others are dumb. They are not warriors.

Dengan seluruh angkasa raya memuji pahlawan negara
Nan gugur remaja di ribaan bendera, bela nusa bangsa
Kau kukenang wahai bunga putra bangsa
Harga, jasa, kau cahya pelita bagi Indonesia merdeka
-Mengheningkan Cipta

Share:

0 komentar