Menjadi Manusia: Refleksi Peringatan Hari Jadi ke-7

Pagi ini saya terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa, serta rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh. Sepertinya beban emosional sudah mulai menyerang fisik, atau wadah ini saja yang semakin menua. Apapun penyebabnya, hari ini saya merasa enggan beranjak ke mana-mana.
Hari ini 11 November. Tepat tujuh tahun yang lalu, pada tanggal dengan angka cantik 11-11-11, blog ini lahir. Blog ini lahir pada bulan November, bulan musim penghujan. Blog ini lahir pada bulan November, menandai salah satu lagu favorit saya sepanjang masa, “November Rain” dari Guns N’ Roses, lagu yang menemani saya bertumbuh dewasa sedari saya masih kanak-kanak. Blog ini lahir tujuh tahun yang lalu pada tanggal yang dimanfaatkan orang-orang untuk menyelenggarakan hajatan pernikahan atau melahirkan anak melalui proses operasi. Pada tanggal ini tujuh tahun yang lalu, saya memilih untuk melahirkan blog alih-alih menjadikannya tanggal anniversary jadian atau nikahan atau hari peringatan lainnya.
Hari ini, blog ini berulang tahun yang ke-7. Sebuah angka yang dibilang cantik atau penuh keberuntungan oleh beberapa pihak. Saya sendiri suka angka 7. Itulah mengapa momen hari jadi blog ini yang ke-7 sengaja saya rayakan dengan sebuah tulisan khusus. Ada apa dengan angka 7? Mengapa saya menyukainya? Entahlah. Kali ini saya tidak tahu dan merasa tidak membutuhkan alasan untuk menyukai angka tersebut. Sama seperti cinta yang tulus; tak butuh alasan.
Banyak yang berkelebatan dalam kepala saya hari ini. Namun, saya ingin membicarakan tentang ‘menjadi manusia’ dan ‘memanusiakan manusia’. Wah, berat ya? Terdengar filosofis sekali. Namun tenang saja, ini tidak akan seberat yang mungkin Anda kira. Justru sebaliknya, tulisan hari ini (mungkin) akan menjadi lumayan ringan dan cukup singkat.
Saya menyadari bahwa pendidikan yang diterima seseorang akan memengaruhi pola pikirnya. Oleh karena itu, pendidikan dasar sebenarnya sangat penting sebagai peletak fondasi pola pikir seseorang, karena sekolah adalah lingkungan pemberi pendidikan terbesar kedua setelah rumah/keluarga/orang tua. Kasus yang mencuat akhir-akhir mengenai pelecehan seksual di kampus menimbulkan banyak keresahan dalam diri saya; salah satunya adalah perbedaan pola pikir antara civitas akademika di satu fakultas dan fakultas lainnya (atau secara gamblangnya, perbedaan pola pikir antara civitas akademika sosio-humaniora dan sainstek).
Saya menyadari ada yang salah di sini: seringnya, setelah menempuh pendidikan tinggi, manusia lupa (atau sengaja melupa) untuk ‘menjadi manusia’. Sehingga imbasnya, mereka lupa (atau sengaja melupa) untuk ‘memanusiakan manusia’. Dan hal ini memprihatinkan.
Mungkin kita hanya perlu mengingat kembali, bahwa sebelum kita adalah seorang pimpinan universitas, sebelum kita adalah seorang dosen, sebelum kita adalah seorang pengusaha, sebelum kita adalah seorang mahasiswa, kita semua adalah manusia. Pengetahuan tidak diciptakan untuk meng-dehumanisasi kita. Pengetahuan ada untuk memperkaya hakikat kita sebagai manusia. Apabila selama ini kita melupakannya, ada baiknya kita mengingat kembali.
Adik saya yang laki-laki saat ini berkuliah di jurusan Teknik Perminyakan di salah satu universitas negeri di kota ini. Kepada dia saya berkata: “Tidak apa-apa  mempelajari bebatuan, tetapi jangan sampai lupa untuk jadi manusia.” Kemudian, “Tidak apa-apa mempelajari bebatuan, tetapi jangan sampai lupa memanusiakan manusia.” Dengan wajah kebingungan dia menatap saya dan bertanya, “Maksudnya gimana itu, Mbak?” Saya menjawab sembari menepuk bahunya, “Suatu saat nanti kamu akan tahu. Sekarang, cukup diingat-ingat saja kata-kata itu. Jangan dilupakan.”

Kau bisa hitamkan putihku, kau takkan gelapkan apapun
Kau bisa runtuhkan jalanku, kan ku temukan jalan yang lain
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
-Tulus, Manusia Kuat

Share:

0 komentar