Tentang Identitas: dalam Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Oh, rupanya hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda, toh. Baiklah. Pantas saja semangat kepemudaan dan sumpah-sumpahan mulai merajalela di linimasa media sosial. Menurut indikator ‘pemuda’ atau ‘kaum muda’ yang ditahbiskan oleh Undang-Undang Kepemudaan (saya lupa nomor dan tahun berapa, dan sedang malas mencari di mesin Google, maafkan), usia saya sekarang ini termasuk dalam golongan tersebut. Ya, saya adalah pemuda. Terlebih, saya adalah pemuda Indonesia; yang pada hakikatnya telah disumpah dengan Sumpah Pemuda.
Saya bertanah air satu, tanah air Indonesia. Saya berbangsa satu, bangsa Indonesia. Saya berbahasa satu, bahasa Indonesia. Iya, tanah air saya tanah air Indonesia, bukan Majapahit atau Mataram (meskipun tanah yang saya huni adalah tanah warisan leluhur). Iya, bangsa saya bangsa Indonesia, bukan Jawa atau Sunda atau Jawa Timuran (meskipun saya lahir dari keturunan suku tersebut). Iya, bahasa saya bahasa Indonesia, bukan Inggris atau Korea (meskipun saya sering menggunakan dua bahasa tersebut dalam keseharian).
Kita beramai-ramai merayakan Sumpah Pemuda. Namun, apakah kita benar-benar memahami esensi dari Sumpah Pemuda itu sendiri? Sumpah Pemuda lahir melalui hal yang mulia: semangat perjuangan kemerdekaan. Mengapa kemudian persoalan ‘tanah air’, ‘bangsa’, dan ‘bahasa’ menjadi isu yang diangkat dalam sumpah ini? Para bapak pendiri bangsa ini adalah sosok-sosok yang visioner. Sumpah ini sesungguhnya dirancang oleh para bapak pendiri bangsa sebagai motor penggerak pembentukan identitas bangsa, yang digawangi oleh kaum muda, karena para bapak pendiri bangsa ini menyadari bahwa kaum muda merupakan tulang punggung sebuah negara.
Sumpah Pemuda memuat semangat revolusioner yang dicita-citakan oleh bapak pendiri bangsa; bahwa kaum muda Indonesia harus terbebas dari belenggu kolonialisme dan wacana-wacana pascakolonialisme yang, sayangnya, masih menjerat identitas bangsa kita hingga saat ini. Contoh sederhana: masih kuatnya pandangan di masyarakat bahwa lulusan kampus luar negeri dinilai lebih berkualitas dibandingkan lulusan kampus dalam negeri. Contoh sederhana lainnya: masih langgengnya pandangan bahwa produk-produk dari luar negeri dinilai lebih bergengsi daripada produk-produk buatan dalam negeri. Pandangan pascakolonialis seperti contoh-contoh itulah yang sebenarnya ingin dihapus dengan pembentukan identitas kaum muda bangsa melalui revolusi mental dan Sumpah Pemuda.
Lalu, apakah revolusi mental itu gagal? Secara optimis saya berani berkata tidak... atau setidaknya, belum. Revolusi tersebut tidak gagal, hanya sempat tertunda (atau direpresi oleh sistem) selama lebih dari tiga dekade masa rezim Orde Baru. Dimulainya era Reformasi pada dua dekade lalu seharusnya bisa menjadi titik balik bagi bangsa untuk memulai lagi langkah revolusi mental yang sempat dikerdilkan rezim. Namun, pekerjaan rumah pemuda sepertinya justru bertambah. Kini, tidak hanya revolusi mental dari wacana pascakolonialisme saja yang harus dibenahi, melainkan juga revolusi mental dari residu-residu yang masih tertinggal dari opresi rezim Orde Baru.
Bukan pekerjaan rumah yang mudah, memang. Apalagi ketika sistem telah menjadikan wacana sebagai sesuatu yang hadir secara serta-merta (taken-for-granted), alih-alih sebagai sesuatu yang dipahami secara sadar merupakan hasil konstruksi sistem. Oleh karena itu, pekerjaan rumah sesungguhnya dapat dimulai dari upaya pembangkitan kesadaran tersebut. Dan saya lihat, meskipun tertatih, usaha itu telah mulai nampak, setidaknya dari beberapa kalangan kaum muda yang saya lihat. Generasi kita butuh pencerahan; pencerahan yang membebaskan dari wacana-wacana yang membelenggu, sebagai langkah awal dari revolusi mental, guna pembentukan identitas bangsa.
Sebagai upaya nyata, semua itu sesungguhnya dimulai dari satu langkah sederhana: membacalah. Mengapa? Karena membaca sanggup menumbuhkan daya kritis kita. Dan jangan pilih-pilih terhadap bacaan, siapa penulisnya, atau genre apa tulisannya. Mengapa? Karena hanya dengan membaca sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya, kita menjadi sahih untuk memberi kritik terhadap tulisan tersebut. Setelah membaca, berdiskusilah sebanyak-banyaknya. Mengapa? Karena berdiskusi mengasah daya kritis kita. Dan jangan pilih-pilih terhadap rekan berdiskusi. Mengapa? Karena hanya dengan menghadapi sebanyak dan seluas mungkin perspektif, kita bisa menjadi lebih rendah hati dengan apa yang kita punya.
Itu saja. Mudah memang dituliskan. Namun nyatanya sukar untuk diwujudkan. Nyatanya, masih banyak pemuda yang enggan membaca. Pun ketika mau membaca, masih banyak yang pilih-pilih bacaan. Sesungguhnya, bukan label yang mendefinisikan diri kita, melainkan cara berpikir. Tidak pernah ada nasionalis yang mengaku nasionalis. Orang-orang lain yang menyematkan label itu padanya. Tidak ada feminis yang mengaku feminis. Orang-orang lain yang memberikan sebutan itu padanya. Oleh karena itu, setelah membaca dan berdiskusi, beraksilah. Dan menulis adalah salah satu bentuk dari aksi tersebut. Maka, jika kita bisa, menulislah.

Malam Rindu. Hatiku ketar-ketir.
Ku tak tahu apakah demokrasi dapat mengantarku
ke pelukanmu dengan cara saksama
dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Sebelum Ahad tiba, anarki bisa saja muncul
dari sebutir benci atau sebongkah trauma,
mengusik undang-undang dasar cinta, merongrong
pancarindu di bibirku, dan aku gagal
mengobarkan Sumpah Pemuda di bibirmu.
-Joko Pinurbo, Malam Rindu

Share:

0 komentar