Mereka Sebut Ini Halaman Persembahan: edisi Tesis

Hari ini adalah salah satu hari bersejarah dalam kehidupan seorang Mashita Fandia. Ya, hari ini saja menjalani prosesi wisuda S2. Dalam rangka memperingati hari bersejarah ini, saya akan menerbitkan tulisan yang mengisi halaman persembahan pada naskah tesis saya. Selamat menikmati.

Akhirnya, si anak bandel ini lulus master juga ... .
Kelulusan ini tidak akan saya raih tanpa melewati satu tahapan yang paling berat dalam proses pembelajaran S2, yaitu mengerjakan tesis. Salah satu hal esensial yang saya pelajari dari proses mengerjakan tesis adalah: merevisi tulisan yang sudah jadi cenderung lebih susah dibandingkan memulai tulisan yang baru, walaupun prosesnya sama-sama melelahkan. Pada tataran ini, mengerjakan tesis itu seperti menjalin relasi percintaan; merevisi hubungan yang sudah berjalan sekian lama cenderung lebih susah dibandingkan memulai hubungan yang baru, walaupun prosesnya sama-sama melelahkan. Setelah direvisi, belum tentu langsung mendapat tanggapan “bagus, lanjut ke bab berikutnya ya.” Kemungkinan besar masih akan revisi lagi, dan begitu seterusnya, mengulangi proses yang sama hingga kalimat sakti itu terdengar. “Ini sudah bagus, lanjut ke bab berikutnya, ya.” Sama. Perbedaannya, terkadang hubungan yang sudah berjalan sekian lama cenderung lebih berharga untuk dipertahankan ketimbang memulai hubungan yang baru. Toh, sama-sama melelahkan, kan. Namun, dalam penulisan tesis saya diajari untuk menjadi ‘raja tega’ terhadap tulisan saya sendiri. Berpuluh halaman sudah saya pangkas demi mendapatkan karya tesis yang efektif. Pada tataran ini, membuat tulisan yang baru cenderung lebih berharga dibandingkan merevisi tulisan yang sudah jadi.

Salah satu hal esensial lainnya yang saya pelajari dari proses mengerjakan tesis adalah untuk menjadi rendah hati atas ilmu yang kita miliki. Benar memang kata pepatah. Idealnya, orang berilmu itu seperti padi; semakin berisi semakin merunduk. Namun, adakah sesuatu yang ‘ideal’ itu? Lagi-lagi, idealitas adalah hasil dari konstruksi sosial. (Duh, memang penyakit, saya lupa siapa tepatnya yang pernah berkata begitu. Untung ini bukan tulisan ilmiah, jadi saya tak harus menyertakan sumbernya. Haha! Kalau tidak, saya pasti sudah dimarahi Bu Nana.) Bahkan gambaran yang kita punya mengenai kekasih yang ideal pun merupakan hasil konstruksi sosial. Meskipun kita merasa bahwa konsep idealitas itu datang dari dalam diri kita sendiri, sesungguhnya pandangan-pandangan yang kita punya, perspektif kita, serta sistem keinginan dan kebutuhan yang ada dalam diri kita telah dipengaruhi oleh aspek-aspek sosial yang berada di luar diri kita. Sehingga, tidak ada idealitas yang murni datang dari dalam diri kita sendiri; apalagi soal kekasih yang ideal. Namun, setiap dari diri kita memiliki kemampuan untuk mengolah segala pengaruh struktur sosial, meresapinya, dan menjadikannya nilai-nilai dalam diri kita. Mungkin, esensi dari ‘semakin merunduk’ berada di sana; pada cara kita memilih dan mengolah nilai-nilai dalam diri kita.
Meskipun memberi arti yang begitu besar, pengerjaan tesis bukan satu-satunya tahapan yang memberi arti dalam proses pembelajaran untuk meraih gelar master. Adalah pengalaman yang kita dapatkan, orang-orang yang kita temui, ilmu pengetahuan, diskusi, dan kisah-kisah yang dirangkai diantara semua itu. Bagi saya, tiga tahun ini adalah masa-masa yang menakjubkan; yang tak mungkin saya nikmati tanpa adanya sosok-sosok tertentu yang masuk dalam episode kehidupan saya tersebut.

Anak kedua saya ini tak akan lahir tanpa bantuan dokter yang telah luar biasa sabar menghadapi segala turbulensi mental saya selama setahun belakangan ini, Ibu, Mbak, Doktor, Ratna Noviani. Tanpa ketegasan beliau, sosok Mashita tidak akan mencapai kesadarannya untuk menyelesaikan karya ini. Tanpa pengertian beliau, sosok Mashita tidak akan mendapat kekuatan untuk berlari hingga garis finish. Tanpa kecerdasan beliau, sosok Mashita tidak akan memeroleh inspirasi untuk merangkai segala temuan lapangan yang memenuhi kepalanya. Singkat kata, tanpa adanya beliau, sosok Mashita tidak akan sampai pada titik yang sakral ini. Tak cukup perbendaharaan kata dalam KBBI untuk menyampaikan rasa maaf saya kepadanya. Tidak cukup pula segala kata di dunia untuk menggambarkan betapa saya berterima kasih padanya. Atas segalanya, saya berterima kasih, Bu. (Sesuai janji, selepas ini saya akan memanggilnya “Mbak” karena sudah lulus. Haha!)
Dalam hasil penelitian saya ditemukan bahwa dalam media sosial, relasi yang dibangun informan cenderung mengalami detachment dari anggota keluarganya, terutama orangtua. Saya pun cenderung demikian. Namun, pada tataran realitas offline, mereka adalah struktur sosial paling mikro yang akan selalu dapat saya andalkan setiap saat. Banyak terima kasih untuk keluarga batih saya: Mama Diah Palupi, Papa Muhammad Irfan, adik lanang Difa Hascarya Parawita, dan adik wedhok Ghina Tsabitah. Terima kasih atas kesabarannya melihat dan menemani si anak sulung ini berproses selama tiga tahun untuk meraih gelar master. Semoga kalian bangga dengan master pertama dalam keluarga batih kita ini. Haha!

Relasi pertemanan, menurut Giddens, adalah relasi penyokong masyarakat modern. Tanpa basa-basi, banyak terima kasih untuk teman-teman saya:
Keluarga besar KBM angkatan 2015, Dian Dwi Anisa, Ari Kesuma Dewi, Yusrina “Ussy” Pradipta, Vica “Caca” Astrilia, Sumayya, Intihaul Khiyaroh, Nastitya Dewi, Abbas Fauzi, Azzan Wafiq, Arief Zuhdito, Citra, Dewi, (alm.) Vanda, Bu Marti, dan Mas Nasa. Begitu juga dengan keluarga besar prodi KBM, Pak Budiawan, Mbak Nova, Prof. Heru, Mas Budi Irawanto, Pak Kris, Pak Bayu, Pak Wisma, Tante Suzie, Bu Wening, Prof. Susetiawan, dan Mas Arie Sujito. Kajian Budaya dan Media, bagi saya, bukan hanya sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan juga rumah yang telah memberi saya keluarga baru. Terima kasih telah mengizinkan seorang Mashita untuk berproses di sini. Terima kasih atas ilmu pengetahuan dan kisah-kisah yang telah dibagi. Terima kasih atas canda tawa dan tangis haru yang telah diukir. Lebih dari kelulusan ini, bagi saya, proses pembelajaran di KBM adalah harta berharga yang tak tergantikan oleh apapun. Terima kasih telah memberi benak dan pikiran saya tempat untuk pulang, ketika kapitalisme dunia menghimpit begitu sesaknya.
Keluarga besar yang saya kenal di Komunikasi UGM, para wanitaku, sumber kekuatan, keceriaan, dan panutanku dalam berbagai hal, Dian Arymami, Syaifa Tania, Lidwina Mutia, dan Mufti Nurlatifah, serta keluarga besar Bravo Alpha, Mas Ni’am, Mas Widas, Prof. Nunung Prajarto, Mas Sulhan, Mas Wisnu, dan Cak Budhy. Sebagai anggota termuda dalam keluarga besar ini, saya selalu merasa bersyukur dengan seluruh kasih sayang dan perhatian yang telah diberikan. Terima kasih atas kesabarannya menghadapi si paling muda nan bandel ini. Terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Terima kasih atas waktu-waktu dan kehangatan yang telah dibagi. Ya, adik kecil ini telah lulus master sekarang, namun saya tahu bahwa saya akan tetap selalu menjadi “adik kecil” bagi mereka. Tidak apa-apa, karena justru itu yang membuat saya bahagia. Terima kasih telah menjadi rumah bagi anak kecil yang kadang merasa hilang di antara dua dunia ini.

Keluarga kecil Blackpink, Destiathree, Roziana Hasnun, dan Alief, serta perempuanku semenjak masa Komedian, Anggie Pradani. Mereka semua adalah sosok-sosok yang turut andil dan berkontribusi dalam proses pembelajaran saya di jenjang S2 ini. Mungkin mereka tidak sadar bagaimana bentuk kontribusi mereka, namun saya tetap sangat berterima kasih. Kehadiran mereka telah memberi makna pada eksistensi seorang Mashita hingga ia menyelesaikan tesisnya. Bagi saya, mereka bukan hanya sekadar teman atau sahabat; mereka adalah keluarga. Dan saya bersyukur bahwa kehidupan saya sempat bersentuhan dengan kehidupan mereka di dunia ini.
Riset etnografi tentunya tidak akan berhasil tanpa adanya kerjasama dari satu pihak bernama “informan”. Untuk itu, dengan tulus saya berterima kasih kepada keenam orang informan saya dalam penelitian ini: Army Ramadhan, Fidela Triste, Nisa Nuraini, Bondan T.M., Yuramia Oksilasari, dan Leonardus Hernawan. Tanpa kesediaan mereka untuk menjadi informan saya, tesis ini tidak akan lahir. Tanpa kejujuran mereka dalam berbagi kisah dengan saya, gelar master tidak akan saya dapatkan. Tanpa ketulusan mereka untuk meluangkan waktu bagi saya, proses pembelajaran di S2 ini tidak akan dapat saya selesaikan. Mereka adalah pribadi yang ramah dan menyenangkan. Tanpa kebaikan mereka, penelitian ini tidak akan terwujud. Terima kasih yang sedalam-dalamnya. Semoga impian mereka diwujudkan oleh semesta.

Terakhir namun yang pertama dalam prioritas saya, Vidi Mahatma. Wah, saya sampai bingung harus melabelinya dengan julukan apa. Bagi saya, ia lebih dari sekadar kekasih atau sahabat atau pasangan atau partner; ia adalah belahan jiwa. Ia lebih dari sekadar rumah; ia adalah suaka. Kami bercanda tawa layaknya teman, bertengkar layaknya saudara kandung, saling menjaga layaknya keluarga, saling mengejek layaknya sahabat, bermesraan layaknya sepasang kekasih, bertukar cerita layaknya buku harian, berbagi pikiran, mimpi, dan rasa takut layaknya pasangan hidup dan jiwa, berkeluh kesah layaknya rekan kerja, dan saling merawat layaknya teman hidup. Banyak kata puitis yang bisa (dan sudah) saya tulis untuknya, baik untuk memuja maupun mencaci, baik untuk merayu maupun menyakiti, namun seringnya saya kehilangan kata ketika akan menuliskan rasa terima kasih untuknya. Terlalu banyak dan terlalu dalam, sehingga rasanya kata-kata apapun akan menjadi dangkal dan percuma untuk menggambarkan rasa terima kasih itu. Semoga umur hidup saya cukup untuk mewujudkan rasa terima kasih saya padanya. Semoga semesta memberkati kita.

Tiba di penghujung Halaman Persembahan ini, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa perjalanan tidak usai dengan selesainya tesis dan diperolehnya gelar master. Perjalanan sebagai seorang akademisi masih panjang. Ini adalah awal bagi babak yang baru. Dan saya sadar bahwa dengan gelar yang baru ini maka bertambah pula tanggung jawab saya sebagai seorang akademisi. Semoga semesta melimpahi saya dengan kekuatan, keberanian, dan kerendahan hati untuk mengemban tanggung jawab tersebut.
 
Yogyakarta, 30 Juli 2018

Share:

0 komentar