Tentang Berproses dalam Kajian Budaya dan Media



Mungkin saya masih dalam euforia kelulusan pada sidang tesis yang lalu. Mungkin saya mulai memasuki fase kehampaan sindrom-setelah-lulus. Apapun itu, yang jelas, saya merasa aneh. Beberapa hari yang lalu saya sudah selesai mengurus yudisium, yang itu berarti saya hanya tinggal mengurus berkas-berkas untuk wisuda pada bulan Oktober nanti. Sebentar lagi, status “mahasiswa” akan ditanggalkan dari diri saya. Bersamaan dengan itu, secara resmi satu gelar baru akan disematkan pada diri saya, yaitu Master. Pada tulisan sebelumnya tentang berproses bersama tesis, saya mengungkapkan betapa bahagianya ketika kerja keras dan usaha saya selama mengerjakan tesis akhirnya terbayar lunas di ruang sidang. Kini, setelah proses yudisium selesai, saya merasa resah bukan main. Mungkin karena saya sadar, bahwa seiring dengan pencapaian seseorang, maka sesungguhnya semakin bertambah besar tanggung jawab yang ia pikul untuk peradaban.
Selesai tesis, lulus S2, dan meraih gelar Master bukan akhir dari perjalanan, melainkan suatu awal dari babak perjalanan yang baru. Seseorang tidak boleh bersuka cita terlalu lama dan larut dalam kebahagiaan atas pencapaiannya. Ia harus segera sadar dan bangkit untuk melakukan sesuatu yang lebih besar lagi. Dan itu yang sedang saya resahkan sekarang. Saya harus mulai dari mana?
Setelah sempat kebingungan, saya memutuskan untuk mengulas kembali proses pembelajaran yang saya lalui selama S2 tiga tahun terakhir ini. Mungkin dari situ saya sanggup mendapatkan pencerahan. Dan kalau Anda tidak keberatan, saya ingin mengajak Anda untuk turut serta dalam perenungan saya atas proses pembelajaran itu melalui tulisan ini.
Saya menempuh pendidikan S1 di Jurusan (sekarang menjadi Departemen) Ilmu Komunikasi UGM, di mana positivisme menjadi paradigma yang menjalankan roda keilmuan pada lembaga pendidikan tersebut. Sebelum lulus dari sana, saya telah direkrut untuk bekerja pada pusat studi yang berada di bawah naungan jurusan tersebut. Hingga lulus, bahkan hingga saat ini, saya terus berada di sana. Sebenarnya, alasan saya memulai pendidikan S2 adalah alasan yang cukup strategis dan cenderung pragmatis: saya butuh gelar dalam bidang pekerjaan yang saya tekuni, yaitu sebagai peneliti dan akademisi. Yang menarik kemudian adalah saya menemukan bahwa UGM memiliki sebuah program studi (prodi) di Sekolah Pascasarjana yang bernama Kajian Budaya dan Media (KBM). Walaupun sebenarnya saya telah mengetahui keberadaan prodi tersebut sejak saya masih S1, saya tidak benar-benar menginginkannya hingga saya tahu apa yang dipelajari di sana. Beberapa bulan setelah lulus S1, saya mulai bimbang apakah harus melanjutkan sekolah di KBM atau Ilmu Komunikasi murni, di saat gelar yang akan didapatkan sama (lulusan S2 KBM dan Ilmu Komunikasi UGM hingga saat ini mendapatkan gelar Master of Arts atau disingkat M.A).
Diri saya terus bergulat dengan kebimbangan tersebut hingga tidak terasa dua tahun berlalu (saya lulus S1 pada tahun 2013, tetapi baru melanjutkan S2 pada tahun 2015), dan saya pun didesak waktu untuk menjatuhkan pilihan. Saya lupa persisnya kejadian apa, atau mungkin tidak secara khusus merujuk pada satu kejadian saja melainkan rangkaian peristiwa, namun pada akhirnya saya memiliki keputusan yang bulat untuk memilih KBM. Pertama, saya ingin bertemu dan lebih tepatnya, diajar, oleh orang-orang baru. Apabila saya melanjutkan di Ilmu Komunikasi, saya akan bertemu dosen-dosen yang sama ketika saya S1 dulu, yang beberapa sudah menjadi teman saya sendiri karena pekerjaan yang saya jalani. Di KBM, saya memiliki kesempatan untuk diajar oleh dosen-dosen dari jurusan lain karena KBM adalah prodi multidisiplin (oleh karena itu ia berada di Sekolah Pascasarjana, karena bidang keilmuannya adalah multidisiplin. Sejauh ini, pengajar di KBM berasal dari Ilmu Komunikasi, Sosiologi, Ilmu Sejarah, Antropologi, Sastra, dan Ilmu Budaya). Kedua, dan ini menjadi alasan yang paling signifikan, adalah saya ingin belajar.
KBM, seperti halnya Cultural Studies di belahan dunia lain, memiliki paradigma kritis dalam menjalankan roda keilmuannya. Ya, saya harus mengakui bahwa pilihan untuk melanjutkan studi di KBM pada akhirnya menjadi pilihan yang tidak lagi strategis dan pragmatis, melainkan idealis. Semester pertama saya cukup tertatih dalam menggeser paradigma dari positivisme ke kritis, terlebih karena saya masih bekerja di institusi dengan paradigma positivisme. Apabila saya hanya menggeser saja maka tidak menjadi masalah, namun yang harus saya lakukan adalah “bolak-balik” antara dua paradigma yang jauh bertolak belakang. Bahkan hingga saat ini, harus saya akui, itu adalah proses yang melelahkan. Namun, meskipun saya cukup tertatih pada semester pertama karena upaya penyesuaian diri tersebut, saya mensyukuri satu hal: di KBM saya menemukan rumah bagi benak dan pikiran saya.
Di KBM saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari lebih dalam sosok-sosok yang hanya sanggup saya idolakan secara diam-diam sebelumnya (yang hanya disentuh sedikit sekali ketika S1 dulu): Karl Marx, Adorno dan Horkheimer, Stuart Hall, Sartre dan Beauvoir, dan terutama Foucault. Selain itu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengenal sosok-sosok pemikir luar biasa lainnya: Guy Debord, Bordieu, Baudrillard, Deleuze, Walter Benjamin, Angela McRobbie, dan masih banyak lagi. Gairah saya untuk belajar berada dalam posisinya yang paling puncak. Saya bersemangat. Perasaan hangat sekaligus menggebu seperti yang saya rasakan ketika menjadi mahasiswa baru S1 pada tahun 2008 lalu. Ditambah lagi, belajar di KBM tidak hanya sekadar memahami dan mengulas pemikiran para pemikir hebat, melainkan juga mengkritisi pemikiran-pemikiran tersebut. Terlebih lagi, belajar di KBM berarti tidak hanya melihat fenomena sosial dalam konteks makro, melainkan dalam konteks mikro. Saya semakin bersemangat.
Saya menemukan rumah bagi benak dan pikiran saya yang resah. Menariknya, saya menemukan bahwa latar belakang paradigma positivisme yang saya miliki ternyata memberi saya pemahaman yang lebih komprehensif dalam melihat suatu fenomena. Ternyata, kedua paradigma yang bertentangan itu, setelah saya pelajari dan pahami, justru memberi keutuhan pada lingkaran cara berpikir saya. Belajar di KBM membuat saya sanggup melihat hal positif dari hal yang terburuk, sekaligus hal negatif dari hal yang terbaik. Belajar di KBM membuat saya memahami jalannya sistem dunia dan dampak yang ia timbulkan bagi kemanusiaan. Belajar di KBM tidak hanya mengajari saya untuk bermimpi akan kehidupan yang ideal, melainkan sekaligus menjadi rasional dalam melihat realitas dalam kehidupan sehari-hari dari berbagai perspektif; untuk tidak melewatkan aspek “konteks” dalam setiap fenomena sosial yang terjadi.
Belajar di KBM merupakan anugrah sekaligus kutukan; anehnya, saya menikmati kedua sisi tersebut beserta jalin-kelindan yang hadir diantara keduanya. Ada beberapa hal dalam pembelajaran di KBM yang menempatkan saya dalam pergolakan batin yang luar biasa; anehnya, pergolakan batin itu saya nikmati sebagai bagian dari proses hidup dan berpikir. Kita berpikir maka kita ada, bukan? Dengan demikian proses berpikir itu sendiri membuat saya merasa hidup dan ada. Hal pertama adalah tentang kapitalisme. Kita berada dalam era kapitalisme lanjut, yang tentunya tidak lahir dan terbentuk dalam waktu semalam layaknya legenda Candi Prambanan. Kapitalisme sendiri merupakan sistem yang selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan adaptif bahkan terhadap kritik dan protes yang menerpanya. Hal itulah, salah satunya, yang menyebabkan sistem kapitalisme bertahan hidup bahkan hingga mencapai tahap kapitalisme lanjut seperti sekarang. Meskipun sebagian dari kita sadar bahwa sistem ini merugikan sebagian kelas masyarakat dan menciptakan kesenjangan sosial, sebagian dari kita pun tahu bahwa sistem ini menguntungkan sebagian kelas masyarakat. Selama masih ada yang diuntungkan, sistem ini tidak akan pudar; ia hanya akan bertransformasi. Bahkan, mereka yang tadinya tidak diuntungkan pun akan tergerak untuk menyeberang ke sisi yang diuntungkan. Apakah kita yakin bahwa sistem ini yang membentuk masyarakat? Ataukah sebenarnya masyarakat sendiri yang membentuk sistem ini? Menurut saya, mengatasi dampak sosial yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme tidak akan terwujud dengan berkurang atau hilangnya sistem kapitalisme itu sendiri.
Miris namun nyata, kapitalisme tidak akan berkurang; ia hanya akan berubah bentuk. Dan itu adalah realitas yang harus kita hadapi. Mimpi hanya sekadar mimpi tanpa diiringi aksi nyata dalam upaya mewujudkannya. Ketika kapitalisme yang sudah langgeng tersebut menjerat masyarakat dan tak dapat dihilangkan, yang dapat kita lakukan adalah meminimalisir residu yang ditimbulkan olehnya. Apakah kapitalisme sejahat itu? jawabannya adalah iya dan tidak; semua tergantung pada konteks kepada siapa Anda bertanya. Menurut saya, bukan kapitalisme yang jahat, melainkan bentuk penindasan yang lahir sebagai akibat dari sistem tersebut. Apakah kita bisa keluar dari penindasan tersebut? Jawabannya adalah selalu bisa. Semua tergantung pada pilihan kita. Sayangnya, sebagian besar dari kita merasa bahwa pilihan itu tidak ada. Padahal, rasa itu hadir melalui konstruksi sistem sosial. Jangan salahkan mereka yang memilih untuk menjadi bagian dari kapitalisme. Siapa tahu, dari sanalah mereka mendapatkan eksistensi diri di tengah masyarakat yang menekan mereka. Pun jangan tertawakan mereka yang memilih untuk membebaskan diri dari jeratan kapitalisme. Sebelum dapat meminimalisir residu dari kapitalisme, masyarakat selayaknya memiliki kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja di dunia yang tampak baik-baik saja ini. Untuk memiliki kesadaran tersebut dan melihat fenomena secara komprehensif, masyarakat selayaknya memiliki mentalitas yang kuat; dan sayangnya, itu yang sering luput dari perhatian.
Pembahasan mengenai residu kapitalisme, penindasan, pilihan, kesadaran, dan mentalitas kemudian mengarahkan saya pada hal kedua, yaitu kelas sosial. Sistem kapitalisme telah melahirkan satu kelas masyarakat yang merupakan mayoritas secara kuantitas, namun lemah dalam segi kualitas kuasa, yaitu kelas pekerja. Sebagian besar dari kelas pekerja mengeluhkan jam kerja yang tidak manusiawi, katakanlah, 5 sampai 6 hari kerja dalam seminggu dengan rata-rata waktu 8 jam perhari. Namun, ketika bicara mengenai alokasi waktu kerja kelas pekerja, permasalahannya jauh lebih kompleks; sekarang, kelas pekerja di negara mana yang kita bicarakan? Kemudian, kelas pekerja yang seperti apa dan dari institusi atau industri yang mana? Karena kelas pekerja sendiri terdiri dari banyak golongan. Apabila Anda bekerja di institusi pemerintah, mungkin Anda memprotes jam kerja Anda yang “5 sampai 6 hari kerja dalam seminggu dengan rata-rata waktu 8 jam perhari” itu. Namun, apabila Anda bekerja sebagai buruh, maka memiliki jam kerja seperti itu sudah merupakan anugrah.
Permasalahannya, jam kerja yang sama tidak dapat diberlakukan untuk seluruh industri dan institusi, karena beban kerjanya pun berbeda. Selain itu, beberapa industri dan institusi telah memiliki jam kerja yang fleksibel. Apakah mereka bukan bagian dari kapitalisme? Tentu saja mereka adalah bagian dari kapitalisme; seperti yang telah saya paparkan di atas, ini adalah era kapitalisme lanjut, di mana permasalahan jam kerja hanya menjadi masalah sebagian kelas pekerja saja. Kembali, kita memiliki pilihan; jam kerja seperti apa yang kita inginkan? Kita sesungguhnya memiliki pilihan untuk memilih industri atau institusi yang menawarkan jam kerja yang sesuai dengan keinginan kita. Mengapa beberapa orang memilih untuk bertahan di agensi iklan dengan jam kerja yang gila-gilaan? Salah satunya, karena gaji yang diberikan sebagai kompensasi atas jam kerja itu pun tidak sedikit. Pun ada pula mereka yang tidak tahan dengan jam kerja itu sehingga memilih untuk hengkang dari agensi; memilih pekerjaan dengan jam kerja yang lebih sedikit, meskipun itu berarti mereka akan mendapatkan gaji yang berbeda dibandingkan gaji sewaktu di agensi. Itu kembali kepada pilihan masing-masing.
Residu yang ditimbulkan dari persoalan jam kerja kelas pekerja adalah berkurangnya waktu dengan keluarga. Hal ini menuntun saya pada hal ketiga, yaitu keluarga. Ada banyak alasan mengapa seseorang kemudian menempatkan dirinya dalam sistem kapitalisme sebagai pekerja. Salah satunya adalah untuk menghidupi keluarga mereka. Kita tentunya menyayangkan bahwa banyak orang tua yang kemudian lebih sibuk bekerja ketimbang mengurus anak mereka di rumah. Hal ini kemudian berimbas pada berbagai permasalahan sosial lainnya, karena keluarga adalah struktur sosial paling mikro bagi seorang individu. Namun, apakah pengurangan jam kerja semata menjadi solusi atas permasalahan keluarga ini? Mungkin iya, pada awalnya. Namun sesungguhnya, permasalahan keluarga adalah persoalan kultur dan pola pikir. Siapa yang menjamin bahwa dengan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga akan membuat seseorang lebih bahagia? Tidak ada yang bisa menjamin itu. Di sisi lain, bagaimana dengan mereka yang merasa tidak memiliki kedekatan emosional dengan keluarga mereka? Mereka akan cenderung menghabiskan waktu senggangnya untuk melakukan sesuatu yang tidak berkaitan sama sekali dengan keluarga. Masing-masing keluarga memiliki kultur dan pola pikir masing-masing, sehingga pengurangan jam kerja adalah solusi yang kurang tepat untuk mewujudkan keharmonisan keluarga.
Saya kemudian menyadari, bahwa permasalahan yang paling mendasar mengenai jeratan sistem kapitalisme lanjut ini, bagi kelas pekerja, adalah mengenai kesadaran dan mentalitas individu. Sistem ini tidak akan runtuh dengan mudah. Ketika kita di bawah, katakanlah, sebagai pegawai, kita mungkin memiliki mimpi untuk mengubah sistem ini apabila kelak kita berada di atas sebagai penentu kebijakan. Namun, saya berani bertaruh, ketika kita telah sampai pada titik itu kelak, tidak akan semudah itu dalam mengambil kebijakan. Begitu banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan. Satu solusi yang membebaskan kalangan tertentu belum tentu menjadi solusi yang membebaskan bagi kalangan lainnya. Satu solusi atas permasalahan tertentu bisa jadi justru menimbulkan permasalahan lainnya. Konflik akan selalu ada. Oleh karena itu, individu kelas pekerja selayaknya memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki pilihan; dan hanya dengan cara sesederhana itu, sesungguhnya, individu mampu melepaskan diri dari sensasi atas jeratan kapitalisme, atau setidaknya, sanggup memiliki sensasi atas kebebasan.
Apabila kita merasa senang dengan pekerjaan kita meskipun membuat kita kelelahan dengan jam kerja yang gila-gilaan, maka jalani saja. Apabila kita merasa tidak tahan dengan jam kerja yang kita miliki dan merasa diperbudak atas itu, kita bisa mencoba mencari pekerjaan lain. Apabila kita tidak yakin bahwa kita bisa mendapatkan pekerjaan lain, kita bisa mencoba menciptakan lapangan pekerjaan baru. Apabila kita tidak memiliki modal untuk membuka usaha, kita bisa mencoba mencari pinjaman. Apabila kita tidak dapat menemukan pinjaman, kita bisa mencoba untuk memulai dari apa yang telah kita punya. Manusia adalah makhluk paling adaptif di muka bumi ini, dengan akal yang mereka miliki. Sesungguhnya yang membuat kita merasa terjebak dalam sistem kapitalisme adalah kondisi di mana kita merasa hidup untuk orang lain, seperti hidup untuk bekerja, hidup untuk mengabdi pada negara, hidup untuk perekonomian,hidup untuk melayani masyarakat, hidup untuk menafkahi keluarga, hidup untuk industri, dan lain sebagainya. Sehingga, seringnya kita lupa, bahwa hakikat hidup adalah untuk diri sendiri.
Bagian yang menurut saya paling berbahaya dari sistem kapitalisme lanjut adalah matinya “kemanusiaan”. Dalam kaitannya dengan kelas pekerja, sistem kapitalisme lanjut mematikan “kemanusiaan” dengan menjadikan kelas pekerja sebagai robot alih-alih manusia. Dibandingkan apapun, hal itu bagi saya menjadi sesuatu yang paling miris, mungkin karena saya bekerja dalam institusi pendidikan, yang sayangnya turut melanggengkan sistem tersebut dengan mencetak “robot-robot yang terampil” alih-alih “manusia yang berpikir dan tercerahkan”. Sebuah robot tidak hidup. Eksistensinya ditentukan atas tujuan dari si majikan pembuat robot tersebut. Ia ada untuk sistem. Apa kita mau menjadi robot yang hanya menjalankan apapun demi pemenuhan tujuan majikan kita, yaitu sistem sosial itu sendiri? Oleh karena itu, pada hakikatnya, apapun pilihan yang kita tentukan, pastikan kita ada untuk diri kita sendiri, sebagai manusia, yang memiliki hakikat kemanusiaan. Sebelum kita mengabdikan diri untuk tujuan yang ada di luar diri kita, pastikan kita dapat hidup untuk diri kita sendiri.
Apapun pilihan yang kita tentukan, pastikan kita memilihnya untuk hidup kita, untuk memberi makna pada diri kita. Di samping itu, kita perlu memiliki kesadaran bahwa “pilihan” yang kita miliki pun adalah anugrah. Ketika kelas pekerja memiliki pilihan, masih banyak kelas sosial yang bahkan tidak memiliki pilihan. Oleh karena itu, alih-alih mengeluhkan sistem yang sudah langgeng ini atau memusingkan cara meruntuhkan sistem yang sangat adaptif ini, kelas pekerja dapat membuat pilihan untuk memberdayakan kelas-kelas sosial tanpa pilihan tersebut. Namun satu hal yang penting, jangan lupa untuk hidup untuk diri kita sendiri.  Hidup untuk diri kita sendiri berbeda dengan egosentris. Hidup untuk diri sendiri adalah menyadari bahwa kita memiliki pilihan. Dengan kesadaran itu, kita akan memiliki keberanian untuk mengejar apa yang sebenarnya kita inginkan dan butuhkan, bukan apa yang sistem sosial konstruksikan kepada kita untuk kita inginkan dan butuhkan. Sistem sosial menuntut kita untuk mapan, dengan indikator bahwa kita memiliki pencapaian tertentu, misalnya jumlah gaji tertentu atau status pernikahan. Namun apabila dalam prosesnya kita merasa tertekan dan menderita dalam memenuhi indikator-indikator tersebut, kita sebenarnya dapat membuat indikator kita sendiri ketika kita sanggup melakukan dekonstruksi atas indikator yang telah ditetapkan sistem sosial; inilah upaya pembebasan diri.
Indikator “kebahagiaan” bagi setiap orang pun berbeda-beda. Ketika sebagian dari kita merasa tidak bahagia dengan jam kerja yang dimiliki, belum tentu orang lain merasakan hal yang sama. Siapa yang bisa menjamin bahwa mereka tidak menemukan kebahagiaan dalam menjalani pekerjaannya, terlepas dari berapapun jam kerja yang ia miliki? Ketika sebagian dari kita merasa bahagia menghabiskan waktu bersama keluarga, belum tentu orang lain merasakan hal yang sama. Siapa yang tahu bahwa orang-orang itu ternyata malah mendapatkan depresi dari waktu-waktu yang mereka habiskan bersama keluarga? Ketika sebagian dari kita merasa menjadi budak dari sistem sosial, belum tentu orang lain merasakan hal yang sama. Ketika sebagian dari kita merasa tertindas dan dilecehkan oleh struktur patriarkal, belum tentu orang lain merasakan hal yang sama. Permasalahannya terletak pada kesadaran atas konstruksi sosial. Apakah yang selama ini kita pasang sebagai indikator merupakan bentukan dari sistem sosial, atau murni berasal dari pemikiran kita sendiri? Kemudian, apakah aksi yang telah kita lakukan selaras dengan pemikiran kita, atau sesungguhnya justru secara ironis menjadi wujud ambivalensi dan hipokritas yang semakin melanggengkan sistem sosial?
Yah, seluk-beluk kapitalisme hanya salah satu dari sekian banyak fenomena yang mencerahkan, memperkaya, sekaligus meresahkan benak dan pikiran saya berkat proses pembelajaran di KBM. Buah-buah pemikiran yang lain telah dan akan saya tuangkan dalam seri “thoughts” dalam weblog ini. Pada akhirnya, dunia ini adalah dunia yang tidak baik-baik saja; namun, setiap problema memiliki konteksnya masing-masing, sehingga satu solusi besar saja tidak akan cukup menyelesaikan permasalahan dunia ini. Sekarang, setelah lulus, tanggung jawab yang saya emban pun bertambah besar seiring dengan gelar yang bertambah pada nama saya; yaitu tanggung jawab untuk mencerahkan masyarakat, untuk membuat kita semua peka terhadap permasalahan sosial, untuk membuat kita semua sadar dan mampu dalam melihat satu fenomena melalui berbagai sisi, untuk membuat kita semua menjadi individu yang terbuka atas proses diskusi dan belajar. Saya pun masih dan akan tetap belajar untuk itu. Membaca buku sebagus apapun akan kurang bermakna apabila tidak diimbangi dengan diskusi yang mencerahkan. Meraih gelar setinggi apapun akan kurang bermakna apabila tidak memberi kontribusi bagi masyarakat. Masih banyaknya permasalahan sosial dan ketidakpekaan individu dalam melihat fenomena menjadi motivasi bagi saya. Jalan masih panjang. Menjadi master bukanlah akhir, melainkan awal. Semoga semesta memberkati.

Di sini ada satu kisah, cerita tentang anak manusia,
Menantang hidup bersama, mencoba menggali makna cinta,
Tetes air mata mengalir di sela derai tawa,
Selamanya kita tak akan berhenti mengejar matahari.
-Ari Lasso, Mengejar Matahari

Share:

0 komentar