Tentang Berproses bersama Tesis



Salah satu bagian paling menyenangkan dalam menyelesaikan tugas akhir di perguruan tinggi, bagi saya secara pribadi, adalah menulis Halaman Persembahan. Oh, tidak, sayangnya tulisan yang saya unggah kali ini bukan merupakan Halaman Persembahan untuk karya tesis saya. Ini hanya tulisan biasa, yang saya buat untuk memperingati salah satu hari bersejarah dalam hidup saya. Ya, hari ini saya menuliskan sejarah saya sendiri. Katanya, sejarah ditulis oleh pemenang, kan? Di mana lagi saya bisa jadi pemenang kalau bukan di kehidupan saya sendiri? Haha! Mengapa hari ini, 19 Juli 2018, menjadi hari yang bersejarah bagi seorang Mashita Fandia? Hari ini saya menjalani ujian untuk mempertahankan karya tesis saya di hadapan dosen-dosen, atau dengan kata lain, sidang tesis. Jadi, apakah Anda penasaran tulisan dibuat sebelum atau sesudah saya sidang? Jawabannya adalah “sesudah”. Sehingga, ya, saya dapat dengan bangga mengabarkan kepada Anda semua, saya sudah lulus menjadi master, yeay!
Oke, membaca paragraf pertama di atas mungkin Anda akan berpikiran bahwa saya adalah “tukang pamer yang alami” (“natural bragger”). Yah, saya tidak akan menyangkal. Bagi saya, mengingat apa yang sudah saya lewati selama setahun belakangan mengandung tesis ini hingga akhirnya ia lahir di dunia dengan melewati proses persalinan yang berat, saya rasa saya layak untuk memamerkannya. Saya rasa saya layak untuk berbangga. Saya rasa saya layak untuk mengabarkan ini kepada semesta. Namun, tulisan ini tidak akan ada artinya apabila hanya bersifat pamer. Oleh karena itu, saya akan sebisa mungkin membuat tulisan ini berfaedah bagi para netizen dan pembaca blog ini. Hmmm... mungkin saya akan melakukannya dengan cara berbagi cerita, seperti biasanya. Siapa tahu, apabila Anda sedang dalam proses mengerjakan tugas akhir, atau apapun itu yang menyita pikiran dan energi Anda, semoga tulisan ini kelak dapat memberi inspirasi, atau setidaknya... hanya sekadar hiburan untuk mengisi waktu luang Anda.



Tiga bulan terakhir memang energi dan pikiran saya terkuras habis dalam masa penuntasan tesis. Dalam setiap harinya bisa dihitung berapa jam saja saya tidur. Bahkan, banyak malam saya habiskan dengan tidak tidur sama sekali; mengerjakan dan menuliskan halaman demi halaman untuk memenuhi standar dosen pembimbing sekaligus berkejaran dengan tenggat waktu. Kantung mata jelas semakin membesar dan menghitam. Kulit juga sepertinya bertambah kusam. Jerawat bermunculan, anehnya, di leher. Haha! Mungkin wajar apabila setelah ini pacar saya kabur dan mencari wanita lain yang lebih cantik (duh, amit-amit!). Soal pola makan tidak usah ditanya lagi; sangat berantakan. Berat badan saya yang sudah turun sepertinya semakin turun lagi; terbukti dari komentar teman-teman yang mengatakan bahwa saya bertambah kurus. Namun sebenarnya, titik pergulatan saya telah dimulai sejak tahun lalu.
Apabila ditanya, apa yang paling berat dalam mengerjakan tesis? Saya akan dengan lantang menjawab: sesungguhnya mengalahkan diri saya sendiri adalah hal yang paling berat dalam mengerjakan tesis. Mungkin teman-teman yang mengenal saya akan kaget dengan jawaban itu.
Mengapa bukan “dosen pembimbing” yang menjadi hal paling berat? Dosen pembimbing saya termasuk dosen yang disegani di kampus. Bahkan banyak dari teman saya yang takut apabila harus berhadapan dengan beliau. Namun, saya merasa sangat beruntung memiliki dosen pembimbing seperti Bu Nana. Saya pun ingat betul bahwa ia adalah satu-satunya dosen yang saya pilih sebagai pembimbing selepas kelas Seminar Proposal tahun lalu. Selain karena beliau sangat cerdas, beliau adalah orang yang tegas; itu pula yang membuat saya sadar sedari awal bahwa orang seperti saya memang memerlukan pembimbing seperti beliau. Standar tinggi yang diberikan beliau terhadap tulisan saya tidak menjadi beban, karena saya tahu dan saya cukup percaya diri untuk dapat memenuhi standar tersebut. Di sisi lain, beliau tidak hentinya selalu memotivasi saya dengan mengatakan bahwa saya tidak memiliki problem sama sekali dalam hal menulis. Ia juga secara jujur menyatakan bahwa problem saya adalah kemalasan. Haha! Sungguh tepat sasaran. Itu membuat saya semakin menyayangi beliau. Ia paham betul mahasiswa seperti apa yang ia bimbing ini. Dalam satu tahun proses saya bimbingan dengan beliau, ia tidak pernah memarahi saya karena tulisan yang jelek atau karena ketidakpahaman terhadap materi; ia selalu memarahi saya karena saya “menghilang” dan tidak mengerjakan tesis. Ia memiliki cara yang pas dalam mendorong potensi saya mencapai maksimalitas; lembut namun tegas, dan saya tidak bisa lebih berterima kasih lagi kepada beliau. Bahkan hingga titik akhir, ia terus mendorong saya dengan dukungan penuh yang membuat hati saya terasa hangat dan bersemangat. Saya ingat beliau pernah bertanya, ketika kami bertemu bulan Januari lalu setelah saya menghilang selama beberapa bulan, “Kamu nggak stress gara-gara aku, kan?” Waktu itu saya menjawab “tidak”. Dan waktu itu saya jujur. Bukan beliau yang membuat saya stress hingga berat badan saya turun drastis.
Mengapa bukan “membagi waktu dengan kesibukan pekerjaan” yang menjadi hal paling berat? Sesungguhnya pekerjaan saya, baik di kampus maupun di luar kampus, tidak sebegitu menyita waktu sehingga saya benar-benar meninggalkan tesis. Lagipula, karena pekerjaan utama saya masih berada di lingkungan kampus, saya sebenarnya memiliki lingkungan yang benar-benar kondusif untuk membantu saya mengerjakan tesis. Memang dalam banyak kesempatan saya lebih memprioritaskan pekerjaan, selain karena tenggat waktu, yah, karena saya butuh nafkah untuk menyambung kehidupan saya. Namun membagi waktu sesungguhnya bukan merupakan sesuatu yang sulit.
Mengapa bukan “materi yang susah” yang menjadi hal paling berat? Banyak yang bilang bahwa Kajian Budaya dan Media itu sulit. Yah, memang sih. Untuk menggeser paradigma dari positivisme menjadi kritis juga bukan merupakan hal yang mudah bagi saya. Namun, saya tidak pernah kekurangan bahan bacaan. Bu Nana selalu memberi saya buku-buku acuan untuk bahan bacaan. Pacar saya juga selalu siap sedia untuk mencarikan buku elektronik yang saya butuhkan. Teman-teman saya di lingkungan kampus dan penerbitan juga banyak. Dan yang terpenting, saya tidak pernah kehabisan rekan diskusi apabila saya membutuhkannya. Bu Nana, teman-teman, bahkan pacar saya selalu berhasil menjadi rekan diskusi yang mencerahkan setiap kali saya merasa buntu. Saya percaya, berdasarkan pengalaman, bahwa tidak ada materi yang susah ketika kita mau membaca dan memiliki rekan berdiskusi yang sanggup mengimbangi dan mencerahkan kita.
Apabila bukan dosen pembimbing, bukan pula kesibukan pekerjaan serta materi yang susah, lalu apa yang membuat saya menghabiskan waktu hingga dua semester untuk mengerjakan tesis? Jawabannya adalah “perang melawan diri saya sendiri”. Saya adalah penderita Borderline Personality Disorder (BPD); yang sudah saya dapatkan sejak kuliah S1 dulu. Mungkin Anda bisa mencari tahu sendiri lebih lanjut mengenai BPD, karena informasinya sudah beredar luas di internet. Namun, efek yang sangat jelas terasa pada diri saya adalah kesulitan untuk menyelesaikan sesuatu. Dan kecenderungan tersebut sudah saya rasakan sejak kecil. Sewaktu SD, saya sering menulis cerita fiksi, tetapi tidak ada satupun yang saya selesaikan. Puncaknya ketika mengerjakan skripsi dulu, saya selesai lebih lama dibandingkan teman-teman sepermainan saya. Saya tidak dapat menggambarkan secara persis apa yang saya rasakan... entahlah, rasanya seperti enggan saja. Ada semacam rasa keengganan untuk menyelesaikan tulisan yang sudah saya mulai, dan saya tidak dapat menjelaskan mengapa rasa itu bisa muncul. Dan sesungguhnya, menulis potongan-potongan tulisan untuk blog ini sejak tahun 2011 menjadi salah satu bentuk terapi saya.
Sesungguhnya, “kesulitan menyelesaikan sesuatu” telah menjadi keresahan dan ketakutan terbesar saya sejak saya memutuskan untuk memulai kuliah S2. Dapatkah saya lulus tepat waktu? Dapatkah saya menyelesaikan tugas akhir? Saya tahu kapasitas saya. Di satu sisi, saya tahu bahwa secara kemampuan akademis, saya mampu. Namun, di sisi lain, saya juga tahu bahwa secara mental dan emosional, saya memiliki kelemahan. Dan ujian itu datang pada pertengahan hingga akhir tahun 2017 lalu. Serangkaian kejadian dan permasalahan membawa mental saya hingga berada pada titik terendahnya. BPD mengambil alih akal sehat saya. Saya sakit dan berat badan saya turun drastis. Tesis saya tinggalkan. Bu Nana tidak pernah saya hubungi. Sekolah Pasca tidak pernah saya kunjungi. Waktu itu, yang ada hanya kegelapan.
Hal yang paling menyiksa bagi seorang-dengan-BPD adalah perasaan bahwa saya ditinggalkan dan sendirian. Dan itu yang saya rasakan pada waktu itu. Wah, bahkan ketika menulis tentang hal itu lagi saat ini, saya masih bisa mengingat dengan jelas perasaan menyakitkan itu. Saya menulis sambil menangis! Haha! Meskipun kenyataannya adalah saya tidak benar-benar ditinggalkan dan tidak sendirian, seorang-dengan-BPD tidak sanggup melihat kenyataan itu ketika mentalnya berada pada titik terendah. Yang sanggup ia pikirkan adalah perasaan kelam yang ia rasakan; perasaan bahwa ia tidak disayangi, tidak diinginkan, tidak ada artinya, tidak berharga, tidak berguna, tidak lebih baik daripada orang lain, tidak layak menjadi prioritas bagi orang lain. Ia terjebak dalam pikiran-pikiran buruknya sendiri. Ia tenggelam dalam tanya-tanya yang menghantui pikirannya sendiri. Motivasi telah hilang. Dan waktu itu, tidak ada yang menolong saya.
Dalam kondisi yang seperti itu, seorang-dengan-BPD bisa hanya berdiam diri selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan (tergantung seberapa besar dampak dari tekanan psikologis yang ia dapatkan melalui kejadian-kejadian yang menjatuhkan mentalnya), tanpa melakukan hal apapun yang produktif. Sisi negatif yang saya rasakan adalah: setiap kali mental saya berada pada titik terendah dan BPD mengambil alih, saya selalu kehilangan semangat untuk melakukan apapun yang seharusnya saya lakukan. Saya selalu merasa bahwa semuanya percuma dan sia-sia apabila saya mengerjakannya. Pun ketika saya tahu bahwa pikiran saya salah, saya tetap merasa bahwa saya tidak memiliki energi untuk melakukannya. Pada waktu itu, yang bisa saya lakukan hanyalah merenung. Kemudian, saya mencoba menghibur diri dengan menonton serial drama Korea Selatan dan serial televisi Barat. Kemudian, saya menulis blog. Meskipun demikian, saya tahu, cepat atau lambat, saya harus lulus.
Kalau saya pikir-pikir lagi, hidup ini memang keras terhadap saya. Saya sempat berandai-andai: seandainya saya tidak sakit, seandainya waktu itu saya sanggup menghadapi kejadian-kejadian yang melemahkan mental saya dengan lebih tegar, seandainya waktu yang saya habiskan untuk merenung dan menyembuhkan diri bisa saya salurkan untuk mengerjakan tesis, mungkin tesis saya bisa selesai lebih cepat. Menyesal? Mungkin. Sedikit. Namun akhirnya saya sadar bahwa saya memang harus melalui semua itu untuk menjadi diri saya yang sekarang. Saya memang harus melalui proses menyakitkan itu untuk berhasil menyelesaikan tesis saya sekarang. Saya harus jatuh untuk bisa belajar bangun lagi. Saya harus hancur untuk bisa belajar mengumpulkan puing-puing diri saya lagi. Meskipun berat, itu yang harus saya lalui. Dan kini, saya bersyukur atas segala yang telah saya lalui. Saya tidak ditolong, namun saya didorong oleh semesta untuk menolong diri saya sendiri.
“Saya telah terluka, jatuh, dan hancur, dan sekarang saya terpuruk. Saya butuh waktu untuk bangkit dengan sendirinya, karena saya tahu tidak ada yang dapat menolong saya. Namun, mau sampai kapan saya menyerah pada keadaan?” Kira-kira seperti itu dialog saya dengan diri saya sendiri pada waktu itu. Berat bukan, mengalahkan diri sendiri? Namun itu yang harus saya jalani dari waktu ke waktu sebagai seorang-dengan-BPD. Tidak ada yang dapat memahami, dan saya pun tidak berharap orang-orang dapat mengerti, karena hanya seorang-dengan-BPD yang mungkin tahu rasanya.
Banyak faktor memang yang kemudian mendorong saya untuk mengalahkan keresahan dan ketakutan tersebut dan menolong diri saya sendiri. Adalah kata-kata Bu Nana, “Apa nggak sayang kalau nggak selesai? Kamu sudah sejauh ini dan kamu tuh mampu lho! Kamu cepat paham materi dan kamu nggak punya problem menulis sama sekali. Problemmu tuh cuma kamu malas, padahal tulisanmu sudah enak dibaca.” Adalah pertanyaan Prof Nunung, “Jes, kapan ujian?” Adalah wajah-wajah Bapak, Ibu, dan adik-adik saya yang penuh harap mendengarkan kabar kelulusan si anak sulung dari sekolah S2-nya. Adalah wajah-wajah Mbak Monic, Cik Tan, Uni Ipeh, dan Mbak Mutia yang penuh harap untuk segera memberi saya kejutan ketika saya sidang tesis. Adalah wajah-wajah Dian, Ari, Ussy, dan rekan-rekan KBM lainnya yang penuh harap untuk dapat wisuda bersama. Adalah ancaman bahwa saya harus mengembalikan uang beasiswa apabila kuliah tidak selesai. Haha! Yang jelas, saya tidak akan pernah mencapai hari ini apabila tidak ada dukungan dari orang-orang luar biasa di sekitar saya: Bu Nana, kekasih saya, Ibu, Bapak, adik-adik saya, Prof Nunung, Mbak Monic, Cik Tan, Uni Ipeh, Mbak Mutia, keenam informan tesis saya, Mbak Nova, dan sahabat-sahabat KBM. Syukur kepada semesta pula bahwa sebagian besar dari mereka hadir pada hari ini mendampingi proses saya.
Pada akhirnya saya berusaha keras mengesampingkan hal-hal yang menghambat mental saya, meskipun itu berat... sangat berat. Peperangan tersebut pun berefek pada kesehatan saya sekarang. Saya menjadi lebih sering sakit kepala daripada biasanya (padahal biasanya juga sudah sering, sehingga menjadi sering kuadrat). Saya menjadi lebih sering merasa melankolis tanpa sebab, bahkan menangis. Saya menjadi lebih mudah kelelahan, baik secara fisik maupun psikis. Namun, hari ini, semua itu terbayar lunas. Saya bahagia. Ya, saya bahagia.

Kita berlari dan terus ‘kan bernyanyi, kita buka lebar pelukan mentari,
Bila ku terjatuh nanti, kau siap mengangkat aku lebih tinggi.
Seperti pedih yang telah kita bagi, layaknya luka yang telah terobati,
Bila kita jatuh nanti, kita siap ‘tuk melompat lebih tinggi.
-Sheila on 7, Melompat Lebih Tinggi

Share:

0 komentar