Mengenal Kebaikan



Ini menarik. Mengapa hari raya Idul Fitri selalu diperingati selama dua hari, sementara hari raya agama lainnya hanya memiliki satu hari saja? Atau, apakah dua hari tersebut hanya berlaku di Indonesia saja? Saya tidak tahu dan sebenarnya tidak terlalu ingin untuk mencari tahu. Toh perayaan hari besar agama apapun di negara manapun telah mengalami proses akulturasi sedemikian rupa dengan budaya di mana hari besar tersebut diperingati. Jadi, ya, tidak ada hari besar agama yang murni hanya persoalan agama saja. Peringatan hari besar lebih cenderung pada peringatan akan sebuah tradisi, yang telah dilanggengkan secara turun temurun dari masa ke masa. Anyway, kali ini saya tidak ingin membahas mengenai peringatan Idul Fitri yang harus selalu dilakukan selama dua hari. Lalu apa yang ingin saya bahas? Entahlah. Saya tidak merasa ingin membahas sesuatu yang spesifik, karena saking banyaknya hal yang ingin saya bahas. Namun pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannya. Semoga sebelum meminta maaf kepada dan memaafkan orang-orang yang Anda kenal, Anda sanggup memaafkan diri Anda terlebih dahulu; karena hal terberat sesungguhnya adalah memaafkan diri sendiri.



Orang Indonesia punya pepatah “tak kenal maka tak sayang”, yang dapat diartikan bahwa kita lebih mudah membenci sesuatu ketika kita tidak atau belum mengenal sesuatu tersebut. Namun, yang dimaksudkan dengan ‘mengenal’ di sini adalah lebih dari sekadar kenal, melainkan mengerti dan memahami. Apabila kita tidak mengerti atau memahami sesuatu (atau seseorang), maka akan lebih mudah bagi kita untuk membencinya. Pepatah tersebut ada benarnya. Namun saya menemukan bahwa ternyata kita juga mampu membenci sesuatu yang benar-benar kita kenal; dalam artian, kita juga bisa membenci sesuatu yang telah kita mengerti dan pahami dengan baik. Semenjak lahir, saya telah ‘diagamai’ atau ‘diberi agama’ oleh orang tua dan keluarga di mana saya lahir. Ya, saya tidak diberi kesempatan untuk memilih bahkan tidak dihadirkan pilihan kepada saya bahwa ada agama-agama lain selain agama yang telah diberikan tersebut. Agama diberikan kepada saya secara serta-merta (taken-for-granted); dan itu terjadi kepada sebagian besar manusia di Indonesia. Pilihan itu ditutup, bahkan dihapuskan, dari kehidupan saya semenjak saya terlahir di dunia.
Seiring bertumbuh besarnya saya, saya diajari untuk melakukan ritual ibadah sesuai dengan agama yang saya anut. Selain itu, di sekolah pun mau tidak mau saya diberikan mata pelajaran agama yang sesuai dengan agama yang saya anut. Namun, bersamaan dengan itu mau tidak mau saya melihat atau bertemu dengan orang-orang yang menganut agama lain selain yang telah diberikan oleh keluarga saya. Dari situ, saya diajarkan bahwa agama saya adalah yang paling benar. Saya diajarkan tentang konsep surga dan neraka; bahwa para penganut agama lain adalah kafir dan mereka pasti masuk neraka. Mashita kecil bahkan sempat merasa sedih karena teman-temannya yang beragama lain akan masuk ke neraka dan disiksa di sana. Masa sih demikian? Hanya karena mereka menganut agama lain? Lalu bagaimana dengan kebaikan mereka selama hidup di dunia? Apakah Tuhan kami sejahat itu untuk menutup mata atas kebaikan tersebut? Begitu pikirnya pada waktu itu. Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya berhenti dalam batin Mashita kecil saja. Waktu itu, ia terlalu takut untuk mengungkapkannya; takut pada konsep dosa yang didoktrinkan kepadanya.
Semakin dewasa saya semakin paham bahwa semua agama pada dasarnya mengajarkan nilai kebaikan; lebih tepatnya lagi, bahwa sebenarnya nilai keyakinan lah yang mengajarkan kita pada nilai-nilai kebaikan. Hanya saja, di sisi lain, institusi agama pada dasarnya telah ditunggangi oleh kepentingan politik untuk menguasai sesama manusia. Contoh paling nyata terlihat dalam agama yang saya anut sedari lahir tersebut, atau lebih tepatnya, dalam praktik terorisme yang terjadi yang mengatasnamakan agama. Contoh lain adalah partai berbasis agama. Contoh yang lebih kentara lagi adalah negara berbasis agama. Ketika agama digunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan negara, maka sudah jelas bukan lagi nilai keyakinan atau kepercayaan yang dijunjung tinggi di sana, melainkan kepentingan politik suatu kelompok tertentu.
Tidak, saya tidak sedang mengatakan bahwa saya membenci agama yang saya anut sedari lahir ini. Justru karena saya mengenal dengan baik agama saya, saya mampu memberikan kritik dengan lebih leluasa terhadapnya. Ya, ternyata orang juga bisa membenci sesuatu yang ia mengerti dan pahami dengan baik, karena dengan demikian ia menjadi lebih kritis terhadapnya. Tentu saja, hal itu hanya berlaku bagi orang-orang yang berpikiran terbuka, progresif, dan tidak fanatik. Saya tidak membenci agama saya. Justru karena saking saya mencintainya, saya merasa sedih dan kecewa luar biasa karena agama tersebut digunakan sebagai “alat” oleh para pemeluknya; baik alat politik (seperti contoh-contoh di atas), alat ekonomi (fenomena fashion hijab dan lain sebagainya), serta alat-alat yang lain, sehingga kita seolah lupa, bahwa nilai luhur yang sesungguhnya dibawa oleh agama kita adalah nilai kebaikan, yang termasuk di dalamnya toleransi antarumat beragama, empati kepada sesama makhluk hidup, dan tidak menutup diri dari perbedaan dan keberagaman. Agama tidak mengajari kita untuk menjadi yang paling benar dan merasa menjadi sang maha yang berhak menyalahkan hal-hal yang kita anggap salah hanya karena hal tersebut lain atau berbeda dari kita. Agama mengajarkan kita untuk menerima, memahami, dan mengasihi.
Tidak ada kebenaran yang absolut. Tidak ada kesalahan yang mutlak. Tidak ada sesuatu yang murni ‘benar’ atau murni ‘salah’. Yang ada hanyalah sesuatu itu ‘dibenarkan’ atau ia ‘disalahkan’. Lalu siapa yang membenarkan dan menyalahkan? Ya manusia itu sendiri. Salahkah para perempuan muslim yang tidak mengenakan hijab? Apabila Anda berpendapat bahwa hal tersebut salah karena dalam kitab suci telah tertulis ayat yang mewajibkan perempuan untuk mengenakan hijab, maka sesungguhnya Anda telah bermain menjadi Tuhan di sini. Hal itu kan salah di mata Anda, menurut Anda; sedangkan di mata Tuhan, memangnya Anda sesungguhnya tahu apakah itu benar atau salah? Memangnya Anda tahu apa yang Tuhan sesungguhnya pikirkan? Memangnya siapa Anda kok merasa berhak untuk bermain Tuhan? Memangnya Anda tahu bahwa Tuhan yang menulis kitab tersebut? Bukankah manusia yang menulisnya? Memangnya Anda tahu bahwa Tuhan yang bersabda demikian? Anda tidak tahu. Anda hanya percaya bahwa Tuhan yang bersabda demikian. Dan ketika menyangkut nilai Ketuhanan, Anda tidak bisa memaksakan kepercayaan Anda pada orang lain. Bukan urusan Anda apakah itu salah atau benar di mata Anda. Itu adalah urusan masing-masing individu dengan Tuhan mereka. Memangnya Anda tahu kalau perempuan tidak berhijab akan masuk neraka? Tidak, Anda tidak tahu. Manusia tidak tahu apa-apa. Bahkan seorang pelacur dapat masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Bayangkan! Tidak, kita tidak tahu apa-apa. Sesungguhnya kita bergitu kerdil di hadapan Sang Maha.
Bagaimana dengan mereka yang berhijab demi mencari uang (karena dengan berhijab maka mereka lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan menjadi brand ambassador atau spokesperson bagi sebuah merk kosmetik tertentu)? Tentu saja tidak salah. Namun jangan salahkan juga mereka yang berbikini atau berbaju terbuka demi mencari uang. Memangnya kalau Anda mengatai mereka mengumbar aurat dan akan masuk neraka, Anda mau membiayai kehidupan mereka? Kalau Anda berpendapat bahwa rezeki sudah diatur oleh Yang Kuasa, ya barangkali rezeki mereka memang datangnya dari foto-foto berbikini tersebut. Toh Tuhan yang mengaturnya, kan? Bukan Anda yang mengaturnya. Kok Anda berani bermain Tuhan (lagi) dengan mengatakan bahwa rezeki mereka akan lebih baik apabila mereka menutup auratnya? Tolong jangan memperbandingkan jalan hidup yang Anda alami dengan jalan hidup orang lain. Apabila Anda menemukan nilai kebaikan dengan jalan berhijab, maka Anda patut berbahagia dan saya pun turut berbahagia. Namun Anda tak pernah tahu bagaimana orang lain menemukan nilai kebaikan mereka. Siapa yang tahu bahwa perempuan berbikini tersebut memberi santunan kepada anak yatim jauh lebih besar daripada perempuan berhijab? Siapa yang tahu bahwa perempuan berhijab tersebut lebih sering mencela orang lain daripada perempuan berbikini? Tidak ada yang tahu selain Tuhan. Saya sering berandai-andai; seandainya orang-orang di dunia ini berhenti untuk memaksakan kepercayaan yang mereka miliki terhadap orang lain, serta berhenti untuk menghakimi dan bermain Tuhan dalam menentukan ‘kebenaran’ dan ‘kesalahan’, maka alangkah indahnya dunia ini akan menjadi.
Terus terang tulisan ini terpantik melalui beberapa obrolah yang saya alami bersama beberapa orang beberapa hari sebelum Lebaran. Yang pertama adalah dengan Pakdhe saya, seorang penganut Kejawen yang berpendapat bahwa Tuhan ada dalam diri kita masing-masing dan selalu membawa nilai kebaikan yang mengembalikan manusia pada kodratnya sebagai makhluk hidup; bukan ikatan atas institusi tertentu atau aturan yang merepresi jiwa, melainkan nilai keyakinan dan kepercayaan yang membebaskan jiwa. Nilai itu adalah nilai yang membuat kita merasa menjadi manusia seutuhnya. Nilai itu adalah nilai spiritual; inti dari Ketuhanan. Di sisi lain, obrolan yang kedua adalah dengan teman-teman dekat saya semenjak SMP ketika kami mengadakan acara buka puasa bersama (meskipun saya tidak berpuasa; saya tetap menghargai mereka dengan tidak makan atau minum duluan sebelum waktu berbuka tiba). Kami membicarakan (baca: menggosipkan) beberapa orang. Dari situ sempat tercetus pernyataan bahwa menurut mereka, ‘jalan yang benar’ terwujud melalui pemakaian hijab dan penutupan aurat. Dari situ saya tersadar, rupanya dogma agama memang sekuat itu menancap dalam diri mereka sehingga mereka sanggup menghakimi orang lain dengan mengatakan pilihan hidup seseorang itu benar atau salah.
Sungguh miris. Dalam hati saya merasa kasihan dengan pola pikir mereka yang sempit. Namun dalam hati mereka juga mungkin mereka merasa kasihan pada saya yang belum mengarungi ‘jalan yang benar’ (karena saya satu-satunya yang tidak berhijab diantara mereka). Alasan mengapa saya tidak secara langsung mengonfrontasi pernyataan tersebut adalah karena (1) hanya satu orang diantara mereka saja yang menyatakannya dan (2) dia tidak termasuk dalam tiga orang sahabat terdekat yang saya sayangi. Jadi, saya tidak terlalu peduli. Biarlah dia dengan pendapatnya sendiri. Apabila semesta sayang padanya, suatu saat dia akan diajari untuk tidak menghakimi dan bermain Tuhan; namun itu tidak akan datang dari saya. Biarkan waktu yang menjalankan tugasnya. Itu adalah bentuk dari rasa hormat saya untuk menghargai pendapat sesama manusia. Dan mengenai tiga sahabat terdekat saya, saya secara tulus menyayangi mereka dan saya yakin rasa tulus saya berbalas. Jikalau ternyata di belakang saya mereka ternyata juga menghakimi saya, itu adalah urusan mereka selama mereka tidak mengatakan apapun pada saya secara langsung. Lagipula saya percaya, sahabat yang tulus akan selalu jujur dan terbuka, meskipun kejujuran itu menyakitkan. Kembali lagi, kita bisa membenci sesuatu yang kita kenal dengan baik, karena pengenalan tersebut memantik kita untuk menjadi kritis atas sesuatu tersebut.
Segala rentetan obrolan yang terjadi sebelum Lebaran itu seolah mengingatkan saya pada satu hal: Tuhan saya mengajarkan kebaikan. Apapun yang mereka gunakan untuk menghakimi orang-orang yang ‘berbeda’ atau liyan dari mereka atas nama agama, Tuhan saya tidak mengajarkan demikian; setidaknya itu yang saya pahami. Saya mengalami perjalanan religius saya sedari kecil. Saya mengalami perjalanan spiritual saya ketika tumbuh dewasa dan masih berlangsung hingga saat ini. Saya mengalami nilai-nilai Ketuhanan saya. Dan oleh nilai-nilai tersebut saya belajar mengenal kebaikan. Tentu saja saya tidak sempurna dan tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Namun yang saya pelajari dari Tuhan saya adalah kemauan untuk terus belajar dan belajar dan belajar, sehingga saya tidak akan pernah merasa paling benar dan saya tidak akan pernah merasa berhak untuk bermain Tuhan. Urusan dosa dan pahala hanya Tuhan yang tahu, bukan kita sesama manusia. Urusan surga dan neraka hanya Tuhan yang berhak menentukan, bukan kita sesama manusia. Jadi untuk apa menghakimi orang lain atas nilai-nilai personal kita? Berhentilah membenarkan dan menyalahkan. Toh dalam sesuatu yang kita nilai benar pasti ada kesalahan bagi orang lain, dan dalam sesuatu yang kita nilai salah pasti ada kebenaran bagi orang lain. Maka, mari belajar bersama-sama untuk menjadi lebih terbuka, baik mata, telinga, hati maupun pikiran kita. Mari belajar bersama-sama untuk menerima perbedaan dan tidak menghakimi sang liyan. Mari belajar untuk berempati dan membebaskan jiwa. Semoga kita kembali bersih.

Aku masih di sini mendekap hampa di hati
Yang hingga kini menghantui tentang arti hidup ini
Waktu terus berputar tanpa bisa menawar
Manisnya s’gala sanjung puji menjadi pahit caci maki
-Ari Lasso, Misteri Illahi

Share:

2 komentar

  1. Sungguh miris melihat saudari kita ini mengaku agamanya datang serta merta /taken for granted seakan agama turunan. Menuangkan tulisan /keyakinan nya menhgatakan yg agamis dogmatis berhijab etc seakan menyalahkan yg tdk agamis. Tdk berhijab.itu masuk neraka.

    Itu soal keyakinan itu soal keimanan masing2 .dan anda tdk bisa menyalahkan /nyinyir terhadap keimanan orang lain. Se akan2 hanya keyakinan dan opini saudari ini benar sendiri. Se akan Yg domatis agamis berhijab itu punya penahaman yg tdk baik /salah. Miris sekali.

    Kenalilah keimanan thd agama anda dgn ilmu .sudah cukuokah ilmu agama anda ?. Saya doakan Semoga anda diberi ILMU yg cukup untuk keimanan anda .semoga anda diberi ilmu untuk menuliskan sesuatu tulisan yg bermutu. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas kritiknya.

      Semoga Anda juga diberi umur panjang untuk belajar dan menimba ilmu tentang agama, kemanusiaan, dan toleransi, terlebih lagi, belajar untuk terbuka dengan pendapat orang lain, tidak antikritik, dan tidak bebal. Aamiin

      Delete