Mencari Leluhur




Jadi mengapa hari raya Idul Fitri alias Lebaran diperingati selama dua hari di Indonesia? Jadi mengapa tahun ini, khususnya, libur dalam rangka Lebaran ini harus panjang sekali (lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya)? Jujur saya adalah salah satu manusia (yang mungkin aneh, atau liyan) yang benci-benci suka dengan libur panjang ini. Benci karena di tengah tenggat masa studi yang semakin menipis maka waktu untuk bimbingan tesis pun otomatis terpangkas banyak akibat libur panjang ini. Benci karena semakin lama liburnya maka semakin lama pula saya harus menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga yang berarti potensi konflik semakin meningkat. Benci karena setiap kali saya pergi ke luar kota bersama keluarga hampir dapat dipastikan bahwa kemacetan luar biasa menghiasi jalanan antarkota. Benci karena setiap kali libur panjang begini, saya pasti tidak memiliki waktu untuk beristirahat secara efektif, yang justru berujung pada badan saya yang kemudian tumbang (dan saya sudah mulai merasakan gejalanya di hari kedua lebaran ini). Suka karena saya mendapatkan beberapa waktu berkualitas bersama keluarga batih saya, yah, meskipun konflik selalu ada. Sudah, itu saja.
Selain saya, saya yakin ada beberapa orang di luar sana yang juga agak ‘membenci’ liburan panjang ini. Bahkan mungkin beberapa dari Anda semua memilih untuk tidak kembali ke kampung halaman meskipun memiliki liburan panjang. Yah, kalau saya bekerja di luar dari kota tempat saya lahir dan dibesarkan dan tempat orang tua saya bermukim, mungkin saya juga akan memilih untuk tidak pulang kampung kali ini. Namun, mau bagaimana lagi? Saya tidak punya alasan untuk tidak pulangke rumah orang tua. Sedari lahir, bersekolah hingga ke perguruan tinggi, hingga sekarang saya bekerja, ya di sini ini, Yogyakarta. Namun, saya juga yakin bahwa banyak orang di luar sana yang merasa bahagia bukan main karena liburan panjang ini. Saya turut berbahagia apabila Anda termasuk dalam salah satunya. Semoga liburan kali ini memberikan Anda waktu dan kesempatan untuk merangkai momen-momen bahagia bersama orang-orang tercinta.



Di Indonesia (dan mungkin beberapa belahan dunia lain), inti dari liburan hari raya adalah berkumpul bersama keluarga. Sementara bagi saya, inti dari liburan hari raya adalah bongkar-pasang persona diri yang beragam. Saya lupa sejak kapan, namun saya kini tidak begitu menikmati lagi berkumpul bersama keluarga besar. Berkumpul bersama keluarga besar, dulu, pernah menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan bagi saya. Saya bertemu dengan saudara-saudara (terutama para sepupu yang seumuran dengan saya) yang jarang bisa saya temui sehari-hari. Hari-hari pun dipenuhi dengan canda tawa. Saya tidak ingat ada drama keluarga yang berarti yang terjadi di sana. Semua bahagia. Namun semua berubah sejak negara api menyerang. Saya tidak tahu di mana letak kesalahannya, namun kini suasana berkumpul bersama keluarga besar tidak lagi semenyenangkan dulu. Sudah terlalu banyak konflik yang terjalin sehingga sulit untuk diurai pangkal dan ujungnya. Mungkin semuanya dimulai ketika Eyang Kakung meninggal dunia, atau sebelum itu, atau sesudahnya? Atau mungkin karena saya saja yang bertambah dewasa? Katanya, menjadi anak-anak itu menyenangkan karena secara psikologis kita tidak berpikir terlalu berat. Sedangkan menjadi orang dewasa itu tidak begitu menyenangkan seiring dengan pemikiran yang semakin rumit.
Dulu, ketika libur hari raya dan berkumpul bersama keluarga besar, kami sering diajak mengunjungi saudara-saudara jauh (bukan secara geografis, melainkan secara silsilah keluarga). Banyak dari para tetua yang dulu kami kunjungi kini sudah tiada. Waktu-waktu itu begitu menyenangkan bagi saya karena bagi saya, itulah inti liburan hari raya yang sesungguhnya; atau lebih tepatnya, itulah arti berkumpul bersama keluarga besar yang sebenarnya. Kami, terutama para generasi muda yang waktu itu masih bocah, diperkenalkan pada leluhur kami. Kami menjadi tahu siapa para leluhur kami; what our familes are made of and what our blood was made of. Bagi saya, penting bagi generasi yang lebih muda untuk mengetahui dan mengenal dari mana mereka berasal. Penting bagi mereka untuk tahu dan kenal generasi yang lebih tua dan lebih tua lagi. Mengapa hal itu penting? Karena dengan mengenal mereka, dengan mengetahui dari mana kita berasal, kita akan dapat meresapi dan merasakan hakikat keluarga dan diri kita yang sebenarnya.
Terkadang saya bertanya-tanya apakah ada anggota keluarga saya yang memiliki pola pikir sama seperti saya; pola pikir yang menurut pandangan umum di kalangan masyarakat Indonesia adalah pola pikir yang ‘nyeleneh’ dan ‘sok pintar’. (Walaupun sebenarnya tidak ada yang ‘aneh’ dan ‘sok pintar’ di sini; semua hanya persoalan sudut pandang.) Dalam beberapa hal, saya menilai diri saya cukup humanis dan sosialis. Liberal, ya, dalam beberapa hal. Namun ketika liberalisme tersebut menggerus nilai kemanusiaan, maka saya memilih untuk berdiri di sisi kemanusiaan. Ada suatu dialog menarik terjadi di dalam mobil ketika saya pergi bertamasya dua hari sebelum Lebaran bersama keluarga batih saya. Pada waktu itu, Ibu saya berkomentar mengenai kue-kue kekinian yang dipasarkan dengan menjual nama selebriti. Dulu, katanya, setiap kali orang berwisata ke Malang, maka oleh-oleh yang terkenal adalah apel Malang. Namun, beberapa waktu yang lalu kakak iparnya (baca: Budhe saya) membawakan oleh-oleh Malang Strudel (salah satu kue kekinian milik selebriti) untuknya. Meskipun ia mengakui bahwa kue itu enak, ia berkata bahwa ia mengkhawatirkan nasib petani apel di Malang setelah munculnya kue-kue kekinian itu. Saya tersenyum. Pada waktu itu saya tahu dari mana jiwa sosialis saya berasal.
Beberapa orang menemukan diri mereka merasa ‘berbeda’ dari keluarga batihnya. (Keluarga batih adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan saudara kandung.) Misalnya, kita berpikiran liberal sementara seluruh keluarga batih kita merupakan orang-orang yang konvensional. Kondisi ini membuat kita merasa sendirian dan tidak dimengerti oleh keluarga batih kita. Namun, apabila kita mau menelusuri silsilah keluarga kita dan mengenal sosok mereka, maka hampir dapat dipastikan bahwa kita akan menemukan salah satu atau dua atau bahkan banyak leluhur kita yang berpikir liberal pada zamannya. Ilustrasi yang cukup sederhana namun dapat menangkap makna pentingnya mengenal leluhur kita adalah film animasi “Coco” (2017). Tokoh utama dalam film tersebut, Miguel, merasa berbeda dari seluruh keluarganya karena ia satu-satunya yang menyukai musik, sementara kehadiran musik sendiri dilarang di keluarganya. Seluruh keluarganya berprofesi sebagai pembuat sepatu, sedangkan Miguel tidak suka membuat sepatu. Ia bahkan tidak ingin menjadi seorang pembuat sepatu. Ia ingin menjadi seorang musisi, yang jelas ditentang oleh seluruh keluarganya, dan itu membuat Miguel berusaha pergi dari keluarganya.
Dalam perjalanannya, Miguel menemukan bahwa salah satu leluhurnya adalah musisi, dan dari situ pula ia mengetahui tragedi masa lalu yang membuat musik dilarang di keluarganya; bahwa semua semata karena salah paham. Dari situ Miguel belajar untuk lebih menghargai leluhurnya dan menyayangi keluarganya. Lebih dari itu semua, Miguel mengenal dirinya sendiri. Dan bukankah itu hakikat dari mengenal leluhur dan keluarga kita? Yaitu untuk mengenal diri kita sendiri. Dengan mengenal diri kita sendiri, jiwa dan benak kita akan terbuka pada nilai-nilai kehidupan. Dari situ, kita akan lebih percaya pada nilai Ketuhanan. Untuk itulah, berkumpul bersama keluarga besar menjadi tradisi dalam perayaan Lebaran. Namun sayangnya, saat ini yang terjadi sudah melenceng jauh dari situ. Acara berkumpul bersama keluarga besar lebih merupakan ‘panggung sandiwara’ ketimbang upaya untuk mengenal leluhur dan asal muasal kita.
Seiring bertambah tuanya saya, acara perkumpulan keluarga besar mulai dipenuhi dengan pertanyaan basa-basi yang basi. Ketika sekolah ditanya apakah sekolah di sekolah favorit atau tidak; kalau tidak mengapa bisa demikian, berapa nilai ujiannya, berapa ranking di sekolah. Ketika berkuliah ditanya berkuliah di jurusan apa, ingin kerja di mana, semester berapa. Ketika sudah berkuliah beberapa tahun ditanya kapan lulusnya. Ketika sudah lulus ditanya akan bekerja atau lanjut kuliah lagi. Ketika sudah bekerja akan ditanya kapan menikah; kalau lanjut kuliah lagi akan ditanya lalu kapan menikahnya. Ketika sudah menikah akan ditanya kapan punya anak. Ketika sudah punya anak satu akan ditanya kapan punya anak lagi. Begitu seterusnya hingga mungkin akan ditanya kapan matinya. Dibalik rentetan pertanyaan basi tersebut, sebenarnya terselip satu fenomena yang menjadi dasar dari acara perkumpulan keluarga besar: ajang pamer.
Ya, acara perkumpulan keluarga besar saat ini lebih merupakan ajang pamer ketimbang upaya untuk mengenal leluhur kita. Dan itu membuat saya jengah sekaligus muak. Saya tahu Guy Debord telah merumuskan teori pamer ini dalam ‘masyarakat tontonan’ (the society of spectacles) yang ia cetuskan pada tahun 1960-an. Namun, tetap saja, menemukannya dalam praktik tradisi perkumpulan keluarga besar merupakan sesuatu yang miris; membuat jengkel sekaligus sedih. Yang membuat saya jengah adalah cara pamer mereka yang sangat halus. Mereka datang dengan mobil baru dan mengenakan perhiasan yang sinarnya bisa membuat buta mata orang-orang di sekitar. (Kadang saya sampai bingung apakah saya menghadiri acara yang salah; apakah ini acara keluarga atau peragaan busana?). Kemudian yang membuat saya muak adalah mereka mengajukan pertanyaan basi tadi hanya sebagai dalih supaya mereka ditanyai pertanyaan yang sama, sehingga dengan demikian mereka dapat menjawab dengan menceritakan/menyombongkan ‘prestasi’ mereka/anak mereka/cucu mereka. Maka dari itu saya menyebutnya pertanyaan basi, karena tidak ada ketulusan dalam pertanyaan tersebut.
Kehadiran media sosial juga turut memperparah kondisi tersebut. Dulu, ketika kami berkumpul, tujuan berfoto adalah semata untuk mengabadikan momen kebersamaan ketika liburan yang jarang terwujud karena kesibukan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Namun lihat apa yang terjadi sekarang. Foto-foto merupakan agenda wajib karena semata foto-foto tersebut dibutuhkan sebagai materi untuk mengunggah konten ke media sosial. Ya, tidak salah juga memang, karena media sosial merupakan buku agenda atau kenangan digital dari seseorang. Hanya saja, segala yang ditunjukkan di media sosial adalah hal-hal yang memang ingin kita tunjukkan. Sementara itu, realita yang ada bisa jadi jauh dari apa yang dicitrakan atau dipertontonkan di sana. Yang membuat saya muak karena terus bertanya-tanya adalah: adalah sesuatu yang nyata di sana? Segalanya nampak dangkal. Segalanya nampak... semu. Dan itulah alasan mengapa saya tidak mengucapkan selamat hari raya dan permintaan maaf lahir batin melalui media sosial, karena memang saya rasa tidak ada gunanya. Kita semua tahu bahwa itu hanyalah formalitas. Dan itu menjemukan bagi saya.
Segala ucapan saya sampaikan secara langsung ketika saya bisa. Selebihnya, saya memilih untuk mengirim pesan secara personal. Itu pun hanya kepada segelintir orang yang benar-benar berinteraksi dengan saya sehari-harinya. Walaupun sedikit, bagi saya itu nyata. Dan itu jauh lebih berarti ketimbang ucapan yang saya sebarkan begitu saja atas nama formalitas (karena itu saya tidak melakukannya tahun ini, meskipun saya masih melakukannya pada tahun-tahun sebelumnya, namun kini saya lelah dengan formalitas). Saya juga lelah dengan formalitas dalam ajang perkumpulan keluarga besar yang telah melenceng maknanya dari hakikatnya. Liburan masih beberapa hari lagi namun saya sudah tidak sabar untuk kembali pada kerutinan dan kesibukan mengerjakan tesis. Sementara menanti itu, saya ingin menggunakannya untuk beristirahat, walaupun sepertinya Ibu saya masih ingin pergi bertamasya. Astaga. Lelahnya.

Angin, dengar kata hati, nyanyian duka semesta
Bawa ke alam damaimu, di sini duka ku dapati
Sampai kapan hidupku begini? Kepalsuan semakin merajalela
Kasih sayang kehilangan makna, semua menjadi percuma
-Ahmad Albar, Sudahlah Aku Pergi

Share:

0 komentar