Gempa, Keluarga, dan Hal-Hal yang Jarang Diungkapkan



Angka 12 memang bukan angka yang lazim untuk memperingati sesuatu. Angka 12 bukan layaknya kelipatan angka 8 yang disebut windu dalam hitungan tahun, atau kelipatan angka 10 yang disebut dekade, atau bahkan kelipatan angka 100 yang disebut abad. Namun, dalam budaya Tionghoa, angka 12 merupakan siklus yang sakral, di mana zodiak Tionghoa mengalami perputaran setiap 12 tahun sekali. Untuk itu tidak ada salahnya melakukan refleksi pada peringatan tahun ke-12, yang, secara filosofis, dapat dimaknai sebagai pergantian siklus baru dalam kehidupan. Refleksi atas peringatan apa? Hari ini, tepat 12 tahun yang lalu, sebuah fenomena alam mengguncang kota tempat saya lahir dan dibesarkan, kampung halaman saya, Yogyakarta. Hari ini adalah peringatan 12 tahun gempa Yogyakarta.
Pagi itu, tepat 12 tahun yang lalu, saya ingat betul tengah mematut diri di depan cermin ketika gempa terjadi. Waktu itu saya yang sudah selesai mandi dan memakai seragam, sedang bersiap berangkat sekolah (waktu itu saya kelas 1 SMA). Saya mendengar suara berdengung yang sangat kencang sebelum merasakan getaran yang cukup hebat. Ibu saya berteriak-teriak menyuruh semua orang untuk lari ke luar rumah. Adik laki-laki saya yang sedang mandi seketika berlari dalam kondisi telanjang bulat. Ibu saya berlari sembari menyeret (menyeret secara literal, karena badannya terlalu berat) adik perempuan saya yang masih tertidur. Nenek saya (waktu itu beliau masih hidup, sekarang sudah almarhum, meninggal pada akhir tahun 2015 lalu, semoga ia istirahat dalam damai, amin), untungnya, saat itu sudah berada di luar rumah karena sedang menjemur pakaian. Ayah saya waktu itu sedang berada di Kalimantan karena urusan pekerjaan. Singkat cerita, kami sampai di luar rumah ketika gempa masih belum selesai. Tetangga-tetangga pun berhamburan ke luar rumah mereka. Kondisi penuh kepanikan. Dan semua mengira gempa datang dari gunung Merapi, yang memang pada waktu itu juga sedang bergejolak dan sudah sempat mengeluarkan awan panas.
Ketika gempa sudah selesai dan kondisi mulai tenang, pagi itu saya masih sempat berangkat ke sekolah diantarkan oleh ibu saya. Sesampainya di sekolah, saya bahkan masih sempat bertemu dengan teman-teman. Saya lupa apakah pelajaran sempat dimulai, namun yang jelas, isu tsunami kemudian berhembus. Banyak diantara teman-teman saya yang memilih untuk berkumpul di masjid sekolah dan memanjatkan doa. Sementara itu, saya dan teman dekat saya, Maridjo, memutuskan untuk pulang ke rumah. Kebetulan rumah kami searah dan Maridjo berbaik hati mengantarkan saya pulang ke rumah di tengah saya tahu ia pun merasa panik dengan kondisi yang ada. Sepanjang jalan kami menyaksikan kepanikan. Orang-orang berteriak tsunami. Kacau. Sesampainya di rumah, saya lupa apakah ibu dan adik laki-laki saya sudah datang duluan atau mereka datang setelah saya, yang jelas kami semua akhirnya berkumpul di rumah. Listrik padam. Sinyal telepon hilang. Tidak ada akses komunikasi, selain radio, dan hanya satu stasiun radio yang masih bisa mengudara pada waktu itu: Radio Sonora FM. Dari siaran tunggal itulah kami akhirnya mendapat kepastian informasi bahwa tsunami hanya isu belaka. Tidak terjadi tsunami di pantai selatan.
Kami tidak berani masuk ke dalam rumah, karena gempa susulan masih terasa hingga berjam-jam setelah gempa utama. Sekitar malam hari, listrik menyala, kami menyalakan televisi, dan kami dibuat terkejut dengan efek gempa yang memporak-porandakan wilayah Kabupaten Bantul (tempat tinggal kami di Sleman, sehingga di sekitar rumah kami kerusakan yang terjadi tidak begitu parah). Setelah sinyal telepon kembali, ayah kami sudah panik mencari kabar keselamatan keluarganya. Ia pun segera memesan tiket untuk kembali ke Yogyakarta meskipun pekerjaannya di sana belum selesai. Saya ingat betul malam itu (dan tiga malam berikutnya) kami tidur di teras rumah karena masih takut akan terjadi gempa susulan yang lebih besar. Beberapa hari setelah hari itu saya dan teman-teman menyambangi daerah Bantul sekaligus menjenguk teman saya yang berdomisili di sana. Saya terkejut luar biasa. Sebagian besar daerah rata dengan tanah, bahkan masih terdapat beberapa wilayah yang ditutup karena evakuasi korban masih berlangsung. Meskipun saya dan teman-teman tidak menunjukkannya, gempa meninggalkan luka dan trauma tersendiri dalam diri kami, dengan bentuknya yang bermacam-macam.
Saya rasa, bagi orang-orang yang tinggal di kawasan bencana dan pernah merasakan begitu dekat dengan maut pasti paham bagaimana rasanya: terkadang, melebihi dari kematian itu sendiri, kita lebih takut kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Ketika gempa terjadi, karena pada waktu itu saya berada di sekitar keluarga saya dan saya tahu bahwa mereka baik-baik saja, saya langsung memikirkan pacar saya pada waktu itu (apakah ia baik-baik saja?). Dan saya sempat panik karena sinyal telepon hilang dan saya tidak bisa menghubunginya. Ketika isu tsunami beredar, mengapa kemudian saya dan Maridjo memilih untuk pulang alih-alih berkumpul di masjid sekolah bersama yang lain, adalah karena kami ingin berada di dekat orang-orang yang kami sayangi dan memastikan bahwa mereka aman, yaitu keluarga. Kini, 12 tahun berlalu setelah kejadian itu dan saya merasa campur-aduk ketika mengingatnya kembali pada hari ini. Memang benar kata ibu dan ayah saya; tidak ada yang kebetulan di dunia ini, karena sesungguhnya semua telah digariskan oleh semesta dan kekuatan Sang Maha.



Membicarakan keluarga selalu menjadi hal yang ‘berat’ dan cenderung sensitif bagi saya. Bukan karena saya tidak suka membicarakannya atau hal tersebut tidak memiliki arti yang dalam bagi saya. Justru sebaliknya, karena keluarga memiliki arti yang sangat dalam, hati saya cenderung berat untuk membicarakannya. Namun, hari ini adalah hari istimewa. Hari ini 12 tahun yang lalu, saya disadarkan bahwa keluarga adalah hal yang paling berarti bagi saya. Dan hari ini, saya seolah diingatkan kembali, bahwa keluarga memang hal yang paling berarti bagi saya. Dan hari ini, saya dibukakan sebuah lapisan baru dalam kehidupan tentang makna keluarga, bahwa keluarga tidak selalu mereka yang terikat hubungan darah dengan kita; bahwa keluarga adalah mereka yang menginginkan kita untuk ada di dalam hidup mereka, dan mereka adalah yang mau dan mampu menerima kita apa adanya.
Ada dua poin signifikan yang saya rasakan hari ini. Pertama, saya benar-benar bersyukur dilahirkan dalam keluarga batih yang saya miliki sekarang: ayah, ibu, dan kedua adik saya. Kedua orang tua saya, meskipun tidak sempurna, adalah yang terbaik bagi saya. Mereka menerima saya apa adanya. Sedari kecil tidak pernah memperbandingkan saya dengan anak-anak lainnya, pun hingga saat saya dewasa sekarang. Mereka tidak pernah mengajukan tuntutan yang di luar nalar. Mereka tidak pernah memaksa saya untuk melakukan apa yang saya tidak inginkan. Mereka selalu mau mendengar apa yang saya rasakan. Mereka selalu menerima tanpa banyak bertanya. Sebaliknya, sayalah yang selalu merasa kurang becus dalam menjadi anak; apalagi anak pertama. Saya selalu merasa kurang. Saya selalu menuntut tanpa sadar untuk memberi. Di tengah segala luka yang tertoreh di hati saya karena konflik-konflik keluarga yang terjadi selama ini, pada akhirnya mereka selalu berhasil memberikan ruang bagi saya untuk merasa diterima, merasa diinginkan; untuk kembali pulang. Dan bagi saya, itu sudah lebih dari sekadar cukup.
Kedua, saya merasa bersyukur telah dipertemukan dengan pasangan saya sekarang dan menjalani proses bersama hingga sejauh ini. Seperti saya telah kutip sebelumnya; keluarga tidak selalu mereka yang terikat hubungan darah dengan kita, melainkan mereka yang menginginkan kita untuk ada di dalam hidup mereka, dan menerima kita apa adanya. Dia adalah keluarga yang saya pilih; bukan dipilihkan oleh Yang Kuasa semenjak saya lahir. Bersama dengannya saya merasakan bahwa darah tidak selalu lebih kental daripada air. Bersama dengannya saya merasakan bahwa dua jiwa yang berbeda ternyata bisa tertambat menjadi satu. Dan saya ingin menjadi keluarga baginya; menjadi orang yang menginginkan dia untuk ada dalam hidup saya dan menerimanya apa adanya. Saya tidak akan memperbandingkan ia dengan orang-orang lainnya. Saya tidak akan mengajukan tuntutan di luar nalar. Saya tidak akan memaksanya untuk melakukan apa yang tidak ia inginkan. Saya akan selalu mau untuk mendengar semua yang ia rasakan. Saya akan selalu menerima tanpa banyak bertanya. Saya memberi rasa percaya yang sepenuhnya bahwa ia sanggup melakukan dan mewujudkan segala yang ia impikan. Saya memberinya kebebasan, dan saya akan selalu ada untuk mendampinginya baik pada masa susah maupun senang. Saya memberinya ruang untuk merasa diterima, merasa diinginkan, untuk kembali pulang; sebuah rumah, karena ia pun memberikan hal yang sama untuk saya, yaitu sebuah rumah bagi satu sama lain.
Bagi saya, keluarga adalah orang-orang yang akan selalu ada di sana. Mereka adalah yang menerima tanpa menghakimi. Mereka adalah yang memaafkan tanpa mempertanyakan. Mereka adalah yang mendukung tanpa menuntut. Mereka adalah yang mendamaikan tanpa membebani. Keluarga akan selalu membebaskan kita untuk mengejar apa pun yang kita inginkan dalam hidup; dan ketika suatu saat kita tersandung jatuh, mereka bukanlah orang-orang yang menertawakan kekonyolan atas kejatuhan kita, melainkan mereka adalah orang-orang yang menolong kita untuk bangkit lagi dari kejatuhan tersebut. Mereka akan selalu mendukung mimpi-mimpi kita seberapapun konyolnya itu bagi orang lain; mereka memastikan bahwa mereka selalu ada ketika kita membutuhkannya. Mereka adalah orang-orang yang rela memberikan apapun bahkan ketika mereka hanya memiliki sedikit. Mereka adalah orang-orang yang layak untuk kita bagi kebahagiaan di kala kita telah berhasil kelak. Mereka adalah kehangatan layaknya rumah. Mereka adalah tempat untuk pulang. Mereka adalah keluarga.

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
-Novia Kolopaking, Harta Berharga (OST. Keluarga Cemara)

Share:

0 komentar