Bahasa Indonesia dan Persoalan Kebiasaan



Tidak terasa kita sudah sampai pada hari terakhir BBKU Mini 3.0. Sungguh lima belas hari yang menyenangkan bagi saya, terutama karena bisa membaca tulisan teman-teman yang sangat menghibur. Tidak terasa juga, semua tulisan yang saya buat untuk BBKU kali ini dalam bahasa Indonesia. Mengapa ya? Hmmm. Di satu sisi mungkin saya tertantang, karena Fauzan sempat berkomentar dalam grup WhatsApp BBKU bahwa saya menulis dengan menggunakan bahasa Inggris sehingga susah untuk menjadi ghostwriter bagi saya (LOL!). Di sisi lain, mungkin saya terbawa suasana karena BBKU bertepatan dengan pekerjaan saya yang tengah menuntut saya untuk menjadi proofreader bagi dua buku berbahasa Indonesia. Alhasil, KBBI adalah teman akrab saya selama dua minggu terakhir ini.
Ketika masih duduk di bangku sekolah dulu, saya ingat betul bahwa nilai bahasa Indonesia saya lebih rendah daripada nilai bahasa Inggris. Mungkin karena itu saya lebih terbiasa, atau lebih tepatnya, lebih merasa percaya diri untuk menulis dalam bahasa Inggris. Terlebih lagi, terdapat beberapa ekspresi kata-kata yang susah dijelaskan dalam bahasa Indonesia, namun dapat diekspresikan dengan satu kata saja dalam bahasa Inggris. Contohnya apa ya. Hmmm ..., wah, ketika sampai pada hal begini saya langsung lupa contohnya apa. Yang jelas ada beberapa. Hahaha! Mengapa ya bahasa Indonesia itu sulit? Mungkin sebenarnya tidak sulit, hanya masalah kebiasaan saja. Sebenarnya alasan mengapa saya lebih memilih untuk menggunakan bahasa Inggris dalam sebagian besar tulisan pada weblog saya ini sederhana saja: saya menulis untuk target pembaca yang lebih luas. Apalagi konten yang saya tulis sebagian besar membahas tentang budaya populer Korea Selatan dan Barat. Jadi, ya, supaya sesama penggemar K-pop internasional bisa turut membaca.
Ada satu hal yang menjadi membuat saya merasa takut sekarang, yaitu saya menjadi ketagihan menulis dalam bahasa Indonesia. Di satu sisi hal tersebut merupakan hal yang bagus, karena selain kemampuan saya semakin terasah untuk menyelesaikan tulisan tesis, saya juga (sebagai seorang Warga Negara Indonesia) turut andil dalam kampanye melestarikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun di sisi lain, penggunaan bahasa Indonesia dalam weblog ini membuat tujuan saya untuk meraih pembaca yang lebih luas dengan menggunakan bahasa Inggris menjadi tidak tercapai. (Kapan saya go international seperti Agnes Monica kalau begini caranya?)
Bicara soal bahasa Indonesia, sebenarnya saya suka menulis dalam bahasa tanah air saya ini. Dan bagi saya, menulis dalam bahasa Indonesia atau tidak bukanlah patokan atas nasionalisme atau hal-hal yang menyangkut soal cinta tanah air. Itu hanya soal kebutuhan atas ekspresi diri. Hanya karena seorang WNI lebih sering menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Korea atau bahasa Swahili dalam menulis, bukan berarti ia tidak sayang pada Indonesia. Pun ketika seorang WNI selalu menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD, bukan berarti ia sayang pada Indonesia. Bisa jadi itu merupakan tuntutan dari pekerjaan yang ia miliki. Jadi, bahasa Indonesia, saya rasa, tidak sulit. Semua hanya soal kemauan untuk membiasakan diri.
Saya salut pada penulis, reporter, redaksi, editor, dan semua pihak yang bekerja dalam industri media di Indonesia. Terutama mereka yang dalam pekerjaannya dituntut untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bagi saya, hal tersebut bukanlah perkara mudah dan pekerjaan semacam itu bukanlah sesuatu yang sederhana. Apa yang mereka kerjakan merupakan usaha yang besar untuk mempertahankan bahasa tanah air kita supaya tidak hilang dari peradaban manusia. Apalagi dengan banyaknya orang yang berharap dapat go international seperti saya ini (sungguh terlalu). Dengan tulisan ini, partisipasi saya di BBKU Mini 3.0 berakhir sudah. Semoga kegiatan menyenangkan ini dapat berlanjut di kesempatan berikutnya. Ah... sedih.

Share:

0 komentar