Salahkan Nietzsche Saja




Baca dan dibaca ulang,
Logikanya timpang dan tumpang tindih semakin dibaca ulang,
Penuh ironi dan kegagalan logika,
Konsisten atas ketidakkonsistenan,
Dan lagi-lagi menyesal,
Mengapa baru sadar sekarang?
Memang susah berpikir rasional ketika emosi merajalela,
Apalagi berhadapan dengan sosoknya yang bebal dan keras kepala,
Menuntut ‘tuk dipahami tanpa sendirinya mencoba ‘tuk menerima dan memberi pemahaman.

Dan marah ...,
Marah adalah reaksi wajar manusia atas kejujuran yang tak sanggup mereka terima,
Seperti kata Nietzsche, terkadang orang tak mau mendengar kejujuran karena tak ingin ilusi mereka hancur atasnya,
Kejujuran yang terlalu buruk rupa dan menjatuhkan harga diri mereka,
Kejujuran yang terlalu memalukan untuk diakui kebenarannya,
Kejujuran yang dipaparkan di hadapan muka mereka,
Seperti seorang guru yang tersinggung ketika dikoreksi oleh muridnya,
Seperti seorang pekerja seks komersial yang dikatai pelacur oleh tetangganya,
Seperti seorang bos yang atas kelalaiannya sendiri justru memarahi pegawainya,
Seperti seorang istri yang mendapati kebohongan suaminya,
Seperti seorang pelajar yang karena nilai jelek kemudian menyobek bukunya,
Seperti seorang yang membelah cermin karena memantulkan wajah buruk rupanya.
Cermin hanya memaparkan realita, namun ia diantagoniskan sedemikian rupa,
Puisi hanya memetaforakan realita, namun ia dibredel habis hingga sirna,
Dijadikannya alasan ‘tuk meronta marah, melontarkan kesah dan keluh yang tak rasional,
Yah, memang, tak ada yang rasional ketika menyoal rasa,
Tapi ketika menyoal relasi, ya lain cerita,
Rasionalitas dituntut untuk ada.

Dan asumsi serta aturan ...,
Dibuatnya asumsi atas rasa-rasaku seenak jidatnya,
Tanpa ia pahami konteks keseluruhannya,
Tak paham atau hanya tak mau tahu, entahlah,
Yang jelas, manusia tak punya kontrol atas apa yang orang lain rasa sebagai akibat dari perbuatan mereka,
Manusia tak dapat semena-mena mengatur, selayaknya api yang tak dapat menentukan seberapa hancur kayu yang dibakarnya,
Manusia tak dapat seenaknya menentukan, selayaknya pisau yang tak dapat mengatur seberapa banyak darah yang dihasilkan sayatannya,
Apalagi manusia tanpa aturan,
Tak selayaknya menahbiskan aturan pada manusia lainnya,
Harusnya ..., harusnya ..., harusnya ...,
Tak ada ‘harusnya’.

Dan penghentian ...,
Diriku disalahkannya,
Dianggap menghentikan,
Tanpanya tahu bahwa semua hanya soal pilihan,
Dan tak ada keterpaksaan.
Ah, sudah biasa kalau soal dipersalahkan,
Apalagi diantagoniskan,
Tak apa, aku terima.

Dan perusakan ...,
Perusakan hanya mampu mengada pada sesuatu yang nyata,
Sejatinya tak ada bahagia yang terusik pun terusak,
Karena seperti hadirnya, bahagianya pun, menurut tuturnya, adalah fana.

Dan bahagia ...,
Setiap manusia punya definisinya masing-masing atas ‘bahagia’,
Diriku dihujatnya,
Dianggap menambah beban pikiran,
Dianggap merenggut kebahagiaan,
Dianggap tukang mengiba,
Tanpa ia tahu apalagi paham apa yang telah kita lalui bersama,
Hanya tak sadar diri bahwa bukan tempatnya ‘tuk memberi kuliah kebahagiaan,
Yah, ia tak perlu tahu, kini tak ada lagi gunanya,
Tak perlu juga ia tahu bahwa inilah ‘kita’,
Dengan caranya masing-masing, manusia bahagia,
Dan menyisakan tanya, “Bahagia macam apa?”
Bahagia fana di atas derita realita?
Sungguh nurani telah sampai pada di titik nadirnya.

Namun ku sadari dan terima,
Tak ada yang patut disalahkan pada akhirnya,
Tidak dia yang tak tahu malu memuja irasionalitas,
Tidak pula aku yang dengan konyolnya mencoba berpegang teguh pada logika.
Toh aku bukan orang suci, melainkan hanya perempuan gila.

Jadi, ya,
Salahkan Nietzsche saja,
Nihilis jenius bangsat yang pernah hidup di dunia,
Gara-gara dia,
Semua gegara dia,
Diriku menjadi nihilis yang menolerir sekaligus mencela semua.
Hah.
Ingin kudatangi dia di alam baka,
Kucubit mesra kumisnya,
Lalu kutampar... dengan ciuman.

M.F

Share:

0 komentar