Posesif: Sisi Gelap Drama Cinta Kaum Muda




Judul                     : Posesif
Sutradara               : Edwin
Penulis naskah        : Ginatri S. Noer
Pemain                   : Putri Marino, Adipati Dolken
Genre                     : drama, remaja, romance, suspense
Produksi                 : Palari Films
Tanggal rilis            : 26 Oktober 2017
Durasi                     : 102 menit

PERHATIAN: SPOILER ALERT!
Apabila Anda belum pernah menonton film “Posesif”, berencana untuk menonton film tersebut, dan tidak menyukai bocoran (spoiler), maka saya sarankan Anda untuk berhenti membaca sekarang juga.

Poster film "Posesif" | sumber: bioskoptoday.com

Jujur, saya jarang menonton film Indonesia di bioskop, kecuali film tersebut memang besutan sutradara favorit saya atau sudah memiliki rekam jejak ‘lolos festival film’ sebelum tayang di bioskop komersil (asumsinya: film yang lolos festival film telah melalui uji klinis para kritikus film, yang mana berarti film tersebut bukan film sembarangan). Namun kali ini, saya menonton satu film Indonesia di bioskop, bahkan sampai dua kali! Pertama kali menonton adalah karena ‘diseret’ teman. Kedua kalinya adalah karena ‘diseret’ teman sekaligus rasa tertarik untuk lebih detail memerhatikan film tersebut. Judulnya adalah “Posesif”, film bergenre drama remaja besutan sutradara Edwin (“Babi Buta yang Ingin Terbang” [2008], “Postcards from the Zoo” [2012]) dengan skenario yang ditulis oleh Ginatri S. Noer (“Perempuan Berkalung Sorban” [2009], “Habibie & Ainun” [2012]).
Begitu keluar dari gedung bioskop, baik yang pertama maupun kedua kalinya setelah menonton film ini, “Posesif” berhasil memberikan bahan perenungan. Satu hal yang jelas, dibandingkan film drama percintaan remaja Indonesia lainnya, film ini dengan berani menampilkan sisi ‘lain’ dari romantika remaja, yang memang tak selalu indah-indah saja; bahwa ‘cinta’ selalu dimaknai secara berbeda oleh masing-masing pribadi. Pemaknaan tersebut dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman si pribadi, yang kemudian mewujud pada praktik kulturalnya sehari-hari. Namun meskipun berbeda, bukan berarti cinta itu tak ada. Hanya saja, tataran rasa dan logika menjadi tidak resiprokal dalam praktik perwujudan cinta ketika dua pribadi bertemu.


sumber: Palari Films

“Posesif” menyorot kisah cinta antara Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken). Karena profesinya sebagai atlet loncat indah, Lala absen dari sekolah untuk waktu yang agak lama. Ketika ia kembali masuk sekolah setelah memenangkan medali perunggu dalam PON (Pekan Olahraga Nasional), ada murid baru yang rupanya kemudian menarik perhatian Lala, yaitu Yudhis (Adipati Dolken). Semuanya dimulai pada hari pertama Lala masuk sekolah ketika guru olahraga (penampilan cameo dari Ismail Basbeth) menghukum mereka karena Lala dan Yudhis melanggar peraturan sekolah. Dalam waktu singkat keduanya menjadi dekat lalu kemudian berpacaran. Meskipun memiliki banyak perbedaan, keduanya menjalani awal-awal masa pacaran mereka dengan mesra dan bahagia. Namun, tensi mulai meningkat dan argumen mulai bermunculan ketika waktu Lala tersita untuk latihan. Yudhis pun mulai menunjukkan watak aslinya.
Melalui hubungan mereka yang semakin dalam, mulai terungkap bahwa Lala mengalami problem dalam tim loncat indah, di mana ia merasa tidak diperlakukan secara adil oleh ayahnya (Yayu Unru) sendiri yang sekaligus merupakan pelatih tim. Yudhis, merasa bahwa ia harus melindungi Lala, melakukan segala cara untuk ‘membalas’ semua orang yang ia anggap telah menyakiti kekasihnya, yang mana tentu saja tanpa sepengetahuan Lala. Tak hanya itu, Yudhis pun menyakiti orang-orang yang ia anggap menjadi ancaman bagi hubungannya dan Lala, termasuk Rino (Chicco Kurniawan), sahabat Lala sejak SD. Dalam beberapa kesempatan Yudhis bahkan melakukan tindak kekerasan terhadap Lala sebagai akibat dari ketidakmampuannya untuk mengontrol emosi. Terlepas dari itu semua, Lala masih memberikan toleransi atas sikap Yudhis, terlebih ketika ia menemukan penyebab atas itu semua, yang bermula dari ibu Yudhis (Cut Mini).


sumber: Palari Films

Perkembangan aspek psikologis yang diperlihatkan oleh para karakter dalam film “Posesif” sangat lekat dengan teori psikoanalisis yang digagas Freud; bahwa pembentukan sifat dan karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh segala yang terjadi pada masa pertumbuhan mereka, dengan bersumber pada tingkat relasi yang paling mikro dalam struktur sosial, yaitu keluarga. Menurut Freud, bagaimana seseorang diperlakukan oleh keluarga mereka –atau dalam hal ini spesifik pada orang tua- pada masa pertumbuhan mereka menjadi basis atas bagaimana mereka memperlakukan orang terdekat mereka di kemudian hari. Dan hal itulah yang terjadi pada Yudhis. Sang ibu kerap melakukan kekerasan kepada Yudhis dengan dalih kasih sayang. Sebagai anak satu-satunya serta tidak adanya peran sosok ayah dalam kehidupannya, itu membuat Yudhis hanya mengenal satu bentuk cinta dan kasih sayang selama hidupnya, yaitu apa yang ibunya berikan dan bagaimana ibunya memperlakukannya.
Dalam relasinya bersama Lala, Yudhis kemudian mempraktikkan bentuk cinta dan kasih sayang yang kurang lebih sama seperti ibunya. Pada tataran ini, siklus kekerasan terjadi. Ia menanamkan pemahaman pada Lala bahwa Lala hanya memiliki Yudhis saja sebagai sosok yang benar-benar secara tulus mencintainya dan dapat ia andalkan sewaktu-waktu; sama persis seperti ibunya. Ia menanamkan keyakinan pada Lala bahwa ia telah rela mengorbankan segalanya demi relasi mereka, serta bahwa semuanya ia lakukan karena ia menyayangi Lala; sama persis seperti ibunya. Pergolakan yang terjadi dalam diri Yudhis selalu merupakan kontestasi antara rasa sayang dan rasa takut (utamanya rasa takut kehilangan dan takut ditinggalkan), yang kemudian mewujud pada ketidakstabilan emosi Yudhis ketika berhadapan dengan problem-problem yang ia miliki bersama Lala. Pada satu waktu ia marah-marah dengan begitu kasar, namun pada waktu lainnya ia meminta maaf dengan begitu manis.
Sepanjang relasi mereka berjalan, pemahaman tersebut perlahan memasuki alam bawah sadar Lala, sehingga terbentuklah suatu pemaknaan dalam benaknya atas bagaimana cinta itu diwujudkan. Terlebih lagi, Yudhis merupakan pengalaman pertamanya dalam relasi cinta. Ketika Lala akhirnya mengetahui bagaimana ibu Yudhis memperlakukan Yudhis di rumah, saat itulah kondisi psikologis mereka menjadi seolah berbalik. Lala kemudian rela melakukan segala cara untuk ‘menyelamatkan’ Yudhis dari siapa saja yang telah menyakiti kekasihnya itu. Di sisi lain, Yudhis yang melihat bahwa Lala rela melepaskan dan menyerahkan segalanya demi Yudhis, justru mendapati ketakutan lain yang menyelimutinya, yaitu melihat Lala terluka karena dirinya.


sumber: Palari Films

Melalui perspektif Yudhis, wajar ketika pada akhirnya ia memilih untuk meninggalkan Lala. Itu adalah bentuk terakhir dari rasa cintanya yang tulus. Ia ingin memutus siklus kekerasan, setidaknya pada Lala; meskipun tidak ada yang menjamin bahwa siklus kekerasan tersebut tidak akan berulang dengan siapapun Yudhis menjalin relasi kelak. Melalui perspektif Lala, yang dilakukan Yudhis hanya sekali lagi menunjukkan egonya sebagai seorang pria yang merasa membuat keputusan yang terbaik bagi semua pihak tanpa melakukan diskusi terlebih dahulu. Jujur, adegan Lala menangis sendirian di terowongan setelah ditinggalkan oleh Yudhis menyengat hati saya (apalagi dengan denting piano intro lagu “Sampai Jadi Debu” sebagai latar suaranya). Yudhis mungkin merasa telah mengambil pilihan terbaik bagi Lala, namun ia tidak akan pernah tahu bagaimana perpisahan tersebut memengaruhi Lala secara psikologis.
Dalam film ini tergambar pula bagaimana perspektif patriarki mendominasi masyarakat dan keluarga Indonesia. Terlihat melalui reaksi ayah Lala ketika mendapati sejauh apa hubungan anaknya dengan Yudhis. Alih-alih memberikan konsolasi di tengah kondisi anak perempuannya yang sedang terpuruk, ia justru memberi komentar dengan marah bahwa Lala telah mempermalukan nama keluarga. Peran orang tua, tidak dapat dipungkiri, merupakan suatu yang signifikan pada perkembangan anak di usia remaja, di mana emosi dan pikiran mereka tengah dalam kondisi rentan dan tengah melalui proses pembentukan karakter dan jati diri. Apa yang terjadi pada Yudhis dan Lala merupakan hasil dari kondisi mereka yang tidak pernah ‘didengarkan’ oleh orang tua mereka, serta bagaimana mereka ‘dibentuk secara paksa’ untuk menjadi sesuatu yang sesungguhnya di luar eksplorasi keinginan diri mereka. Untuk kasus Lala adalah menjadi atlet loncat indah, sementara untuk kasus Yudhis adalah diterima sebagai mahasiswa dan berkuliah di ITB.

sumber: Palari Films

Secara keseluruhan, hadirnya film “Posesif” memperkaya perspektif film Indonesia atas drama cinta remaja. Plot cerita disusun secara matang melalui riset selama bertahun-tahun sehingga hasilnya mampu memaparkan kisah relasi yang realistis di mana konflik-konflik percintaan dan pilihan atas persimpangan mulai terjadi sejak usia dini. Apabila ada satu hal lagi yang patut di-highlight dalam film ini adalah seleksi atas lagu tema yang digunakan. “Sampai Jadi Debu” oleh Banda Neira dan “Dan” oleh Sheila On 7 menjadi salah dua dari jajaran lagu tema yang digunakan dalam film ini dan berhasil menghidupkan suasana dengan apik. Yang jelas, menonton film ini membuat beberapa pertanyaan mengambang dalam kepala saya: apa (atau lebih tepatnya, bagaimana) cinta itu? Apakah rasa takut yang berlebihan dan ketidakpercayaan bukan merupakan bagian dari cinta yang harus dirayakan? Apakah ia adalah suatu hal, yang ketika gagal, harus terus dicoba lagi atas nama kesetiaan? Atau apakah ia adalah suatu hal yang menenggelamkan kita pada kesia-siaan? Namun satu hal, saya percaya bahwa rasa tidak pernah salah; meskipun setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mewujudkan rasa itu, rasa tak pernah salah.



Share:

1 komentar