Menyoal Identitas




Luar biasa BBKU Mini 3.0 ini. Begitu melihat daftar tema yang diunggah tadi malam, hari pertama sudah dibuka dengan tema yang cukup ‘berat’ dan kontemplatif; yaitu soal identitas. Mungkin maksud sang admin sederhana saja, yaitu agar para peserta BBKU Mini semacam memperkenalkan diri mereka masing-masing melalui tulisan hari pertama ini. Namun, apalagi sebagai ‘anak KBM’, kita semua tahu bahwa menyoal identitas bukanlah perkara yang mudah. (Apalagi dalam uraian deskripsi tema dicuplik suatu konsep mengenai identitas yang diutarakan oleh Giddens.) Mengapa? Karena kemudian, premis dari tema hari ini adalah pertanyaan: siapa saya? Bayangkan, betapa tidak bisa untuk tidak dikatakan ‘kontemplatif’?
Menjawab pertanyaan “Siapa saya?” tidak semudah yang dibayangkan. Kita bisa saja menjawab dengan nama, dan mungkin disertakan pula usia, jenis kelamin, status perkawinan, agama yang dianut (kalau ada), dan pekerjaan; seperti yang tertera dalam KTP (Kartu Tanda Penduduk). Namun bukan itu identitas yang dimaksud Giddens maupun Castells, serta tokoh pemikir lainnya yang sempat menyoal identitas. Identitas lebih luas dan cair dari itu semua. Bahkan dari satu setengah paragraf yang telah Anda baca sekarang, Anda sudah bisa membayangkan saya ini orang seperti apa. Ya, itulah identitas. Segala atribut yang melekat pada diri saya, dikombinasi dengan segala sesuatu yang saya ingin dan sengaja tampilkan kepada Anda, kemudian ditambah dengan persepsi yang terjadi dalam diri Anda mengenai saya; itu semua menjadi konstruksi atas identitas saya.
Ya, identitas tidak hadir secara serta-merta, melainkan lahir dari sebuah proses konstruksi. (Ah, saya tetiba teringat bahwa tema bakal calon tesis saya dulu –sebelum diganti atas saran dari dosen pembimbing- adalah soal konstruksi identitas.) Oleh karena itu, identitas bersifat cair dan tidak saklek. ‘Identitas saya menurut saya’ bisa jadi berbeda dengan ‘identitas saya menurut Anda’, ‘identitas saya menurut sang admin’, ‘identitas saya menurut dosen pembimbing’, atau ‘identitas saya menurut pasangan saya’. Saya bisa saja mengatakan bahwa saya orang yang pemalu, sementara sang admin bisa saja mengatakan bahwa saya orang yang percaya diri. Dosen pembimbing saya bisa saja mengatakan bahwa saya orang yang malas, sementara pasangan saya bisa saja mengatakan bahwa saya orang yang tidak romantis. Tidak ada yang sepenuhnya salah ataupun sepenuhnya benar. Semuanya adalah saya. Semuanya membentuk identitas saya.
Berdasarkan paparan di atas, setiap orang hampir dipastikan memiliki lebih dari satu identitas. Identitas adalah pemaknaan seseorang atas atribut kulturalnya yang telah melalui proses konstruksi sosial. Namun satu hal, identitas harus dibedakan dari peran sosial. Peran sosial adalah atribut diri yang disematkan oleh struktur sosial terhadap seseorang, seperti misalnya: saya adalah mahasiswa S2 KBM (Kajian Budaya dan Media) UGM angkatan 2015, atau saya adalah alumni Jurusan Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2008. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin bahwa peran sosial seseorang beririsan dengan identitasnya. Hal itu terjadi ketika seseorang mendefinisikan dirinya berdasarkan peran sosial tersebut. (Castells, 2010: 6-7)
Namun, bagi saya, identitas saya lebih dari sekadar peran sosial yang melekat pada diri saya. Identitas merupakan sebuah proses; dan, seperti yang ditulis Castells (2010: 6), akar dari pemaknaan dan pengalaman. Saya tidak menampik bahwa identitas saya turut dibentuk oleh kondisi sosial di sekitar saya, baik itu di masa lalu maupun sekarang; sehingga bagi saya, identitas tidak linier. Tidak ada ‘saya dulu pendiam, tapi sekarang banyak bicara’, karena saya bisa jadi pendiam dan banyak bicara pada masa yang sama, hanya saja tergantung saya berada di mana dan dengan siapa saya sedang bersama.
Saya bisa jadi adalah orang yang jahat bagi beberapa orang, namun orang yang baik bagi beberapa orang lainnya. Saya bisa jadi adalah orang yang menyebalkan bagi beberapa orang, namun orang yang menyenangkan bagi beberapa orang lainnya. Lagi-lagi, tidak ada fakta, melainkan interpretasi. Berkaca pada pohon jati yang tampak kering pada musim kemarau karena meranggas dan tampak segar pada musim penghujan dengan daun-daunnya, pun juga dengan manusia. Meranggas ataupun tidak, ia adalah pohon yang sama. Bukan berarti ia krisis identitas, hanya saja, identitas itu memang sifatnya cair. Identitas yang saya tampilkan di lingkungan KBM bisa jadi berbeda dengan identitas yang saya tampilkan di lingkungan Fisipol. Identitas yang saya tampilkan di blog bisa jadi berbeda dengan identitas yang saya tampilkan di Instagram. Namun, semua itu adalah saya.
Begitulah. Teman-teman peserta BBKU Mini dari angkatan 2014, 2015, dan 2016 mungkin sudah memiliki gambaran atas identitas saya, karena sudah pernah berinteraksi secara langsung maupun termediasi. Untuk teman-teman peserta BBKU Mini dari angkatan 2017, saya ucapkan selamat datang di KBM dan BBKU. (Sungguh saya menyesal karena tidak sempat datang di acara Sambut Kenal.) Semoga kita memiliki kesempatan untuk saling berinteraksi secara langsung. Saya tidak bisa mendeskripsikan diri saya secara menarik dan kreatif seperti tuntutan tema hari ini. Namun seluruh isi weblog ini sesungguhnya mengungkapkan sebagian identitas saya, seperti judulnya, Pieces of Me. Jadi, silakan membacanya sendiri. Ah, iya, omong-omong soal menjadi mahasiswa KBM, bersiap-siaplah untuk terus bertanya-tanya atas segala hal; dan, ya, penting untuk memiliki sifat reflektif dan terbuka atas berbagai perspektif. Jadi, ya, sekarang, selamat bertanya-tanya tentang identitas diri Anda sendiri. Hahaha ...

Referensi
Castells, Manuel. 2010. The Power of Identity (2nd edition with new preface). Chichester: Blackwell Publishing Ltd.

Share:

2 komentar