Komedi, Tragedi, dan Persoalan Perspektif




Hari ini, meskipun tidak separah kemarin, hujan masih betah mengamuk di langit Yogyakarta. Sore tadi, senior sekaligus rekan kerja sekaligus mantan dosen saya menceritakan mobilnya yang tertimpa batang pohon yang roboh akibat hujan deras dan angin kencang di area kampus. Dan kejadiannya berlangsung ketika ia sedang mengendarai mobil tersebut. Sungguh mengejutkan, bukan? Saya tidak bisa membayangkan apabila berada dalam posisi dia. Pasti saya langsung kaget dan salah-salah berakhir di rumah sakit atau bengkel karena menabrak trotoar atau pohon lain. Lalu, belum lagi untuk membayangkan biaya perawatan diri (apabila masuk rumah sakit) dan mobil (apabila masuk bengkel), rasanya sangat menyedihkan. Namun, mantan dosen saya itu menceritakan semuanya sembari tertawa-tawa. Saya, meskipun merasa heran apa yang lucu dari kejadian tersebut, akhirnya ikut tertawa karena dua orang teman saya (yang seruangan dengan kami dan turut mendengar cerita itu) juga tertawa.
Ternyata, mantan dosen saya itu tertawa karena itu bukanlah kali pertama ia mengalami hal serupa. Hampir setiap kali musim hujan deras seperti ini, mobilnya pasti menjadi korban batang pohon yang berjatuhan. Mungkin memang benar apa yang pernah dikatakan Charlie Chaplin, bahwa hidup adalah tragedi ketika kita melihatnya dari jarak dekat, sedangkan ia adalah komedi ketika kita melihatnya dari jarak jauh. Tema hari ini, ‘lelucon’, adalah bagian dari komedi, yaitu adalah suatu tindakan atau perkataan yang lucu, setidaknya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sementara ‘lucu’, masih menurut KBBI, adalah sesuatu yang menggelikan hati atau membuat tertawa. Baiklah. Sampai di sini, saya berpikir bahwa apa yang membuat hati seseorang geli atau apa yang membuat seseorang tertawa bisa jadi berbeda-beda bagi setiap orang. Apa yang lucu bagi saya belum tentu lucu bagi Anda. Begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, tema tulisan hari ini membuat saya berpikir: apakah lelucon selayaknya memiliki struktur dan etika yang paten?

Sumber: mojok.co

Saya tidak akan berbicara mengenai lelucon yang dilakukan oleh para pelawak profesional atau amatir yang tampil pada acara televisi, program radio, panggung stand-up comedy, atau pertunjukan-pertunjukan lainnya. Saya akan bicara dalam konteks keseharian kita berelasi dengan manusia baik secara personal maupun sosial. Mau tidak mau tema ini membuat saya berkontemplasi. Seringnya, saya mendapati bahwa sebagian orang tidak paham dengan lelucon yang saya ucapkan (atau tuliskan). Hal itu disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah perbedaan perspektif. Begitu pula ketika saya tertawa akan suatu lelucon yang bagi sebagian orang dianggap tidak lucu. Perbedaan perspektif disebut juga memiliki banyak faktor, seperti misalnya frame of reference (FOR) dan frame of experience (FOE). Oleh karena itu, kita mengenal adalah istilah ‘inside jokes’, di mana orang yang memiliki FOR dan FOE yang sama, kemudian dapat melihat sebuah lelucon dari perspektif yang sama, sehingga bagi mereka, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah lelucon.
Saya dan pasangan saya adalah contoh manusia-manusia yang berada dalam FOR dan FOE yang sama, sehingga kami dapat melihat lelucon melalui bingkai perspektif yang sama. Kami suka sekali dengan lelucon yang satire dan berbau sindiran. Apalagi jika sudah menyangkut perihal politik, ormas, fanatik agamais, ekstrem nasionalis, dan sebagainya. Merupakan hal yang disayangkan namun sangat wajar ketika tidak semua orang yang kami temui berada pada satu halaman yang sama dengan kami. Seringnya, komedi satire membuat orang sakit hati, bahkan merasa marah. Pada tataran ini, saya bisa memaklumi karena marah adalah reaksi natural manusia ketika dihadapkan pada kejujuran yang tidak sanggup ia terima, karena saking jeleknya kejujuran tersebut. Padahal, sebagian besar komedi satire adalah gambaran atas kejujuran yang pahit.


"Kalau kata orang Jawa, Indonesia ini punya banyak stok penduduk penganut aliran STNK, Sholat Terus Nanging Korupsi." Atau mungkin, Sholat Terus Nanging Kentha-Kenthu, eh. | Sumber: mojok.co

Seperti kata seorang penulis, Horace Walpole, bahwa dunia ini adalah tragedi bagi mereka yang merasa (feel), sedangkan ia adalah komedi bagi mereka yang berpikir (think). Seringnya, dalam menghadapi komedi satire, kebanyakan orang justru mendahulukan perasaan mereka dibandingkan otak mereka; mendahulukan yang irasional daripada yang rasional. Sehingga mereka mudah menjadi tersinggung atas komedi satire tersebut. Andai saja sebelum terpancing emosi dan merasa marah, mereka berkenan untuk berpikir sejenak, maka mereka akan tersadar dan tercerahkan bahwa segala sesuatunya sebenarnya hanyalah komedi belaka. Mereka akan melihat kembali pada komedi satire yang dilemparkan kepada mereka dan tertawa, sembari berkata, “Ah, betapa lucunya diriku. Ternyata aku begitu bodoh. Bodoh yang merasa pintar. Merasa pintar, bodoh saja tak punya.” (Kalimat terakhir barusan saya kutip dari sebuah judul buku karya Rusdi Mathari.)
Lelucon yang lucu atau tidak lucu, semua tergantung melalui perspektif apa kita melihatnya. Bisa jadi, lelucon yang kita miliki sekarang merupakan hasil olahan dari pengalaman masa lalu kita, yang mana, hal yang kini menjadi lelucon itu adalah hal yang kita tangisi pada konteks kejadian masa lalu tersebut. Ya, dalam jangka waktu tertentu, sebuah tragedi dapat menjadi komedi. Maka dari itu, jangan terlampau terpuruk ketika kita sedang dirundung tragedi. Yakinlah bahwa suatu saat nanti hal itu akan menjadi komedi ketika kita melihatnya ke belakang nanti. Tak perlu berpura-pura bahagia apabila kita memang merasa tidak bahagia. Sikap yang hipokrit tidak akan membawa kita ke mana-mana selain pada delusi. Kejujuran pada diri sendiri adalah langkah awal untuk melihat semesta ini dari perspektif komedi. Dan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah bentuk pendewasaan yang hakiki. Kita semua hidup dalam rangkaian komedi... atau tragedi; semua hanya tergantung perspektif saja. Dan Tuhan, ya, Tuhan memang Maha Bercanda.

Share:

0 komentar