Ketika Hujan November Mengamuk di Langit Jogja



19.54 WIB
Hari ini hujan tidak berhenti mengguyur Yogyakarta. Ada yang bilang ini karena rangkaian badai (saya lupa namanya) yang tengah mampir dan menjatuhkan hujan di sebagian besar Pulau Jawa. Kabarnya, banjir terjadi di beberapa titik karena air sungai dan selokan meluap. Begitu pula dengan pohon tumbang dan tanah longsor. Akibatnya, siang tadi saya terlambat datang rapat. Akibatnya, hingga malam ini saya masih terjebak di kampus. Sementara itu, di luar sana, hujan masih meraung; kali ini ditemani petir-petir dengan suaranya yang gagah. Mungkin Thor sedang melakukan parade bersama Hulk di atas sana. Alhasil, saya tidak tahu harus menulis apa untuk BBKU hari ini. Alhasil, satu paragraf sudah saya habiskan untuk meracau soal cuaca hari ini.

23.14 WIB
Tulisan saya di kampus tadi terhenti karena pasangan saya menghubungi dan kami terlibat dalam perbincangan seru. Tanpa terasa, kami mengobrol hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Saya harus pulang, meskipun saya harus menerjang badai untuk sampai ke rumah. (Jessica, motor saya, tenggelam sampai ke lutut di perempatan Jalan Kaliurang. Untung dia tidak ngambek. Jessica memang pengertian. Terima kasih, Jess. I love you....) Maka di sinilah saya, dengan badan yang gatal-gatal karena alergi dingin saya kumat. Dan saya masih belum tahu akan menulis soal apa. Alhasil, dua paragraf sudah saya habiskan untuk menulis... apapun ini namanya. Yang jelas, saya lapar dan kepala saya sakit bukan main. Saya tahu saya harus bangun pagi besok untuk urusan pekerjaan, namun saya tahu saya belum boleh tidur kalau belum menulis. Sungguh dilema. Seandainya dilema hidup selalu seperti ini; semudah antara menyelesaikan tulisan atau pergi tidur saja.

23.22 WIB
Namun sayangnya dilema hidup tak selalu semudah ini. Beberapa waktu lalu, misalnya, saya dipertemukan (tidak secara harfiah, tetapi memang jalan hidup saya bersinggungan dengannya) dengan orang yang sangat bebal. Orang yang saya teringat lagi karena obrolan saya dengan pasangan saya beberapa jam lalu. Ah, kok saya menjadi malas ya membicarakannya. Sepertinya hujan kali ini menyerap semua kemampuan menulis saya. Sepertinya memang ini sudah memasuki ‘jam bodoh’ saya. Lebih baik saya segera makan malam (yang sangat terlambat), menenggak satu pil Paramex, lalu mencoba untuk tidur. Semoga ketika saya membuka mata nanti, hujan November sudah berhenti mengamuk.

Share:

0 komentar