7 Lagu Indonesia untuk Menemani Rasa Lapar




Sudah berhari-hari kota Yogyakarta diguyur hujan. Dalam cuaca yang semacam ini, saya selalu mudah dirundung rasa malas, termasuk rasa malas untuk beranjak keluar dari kamar tidur. Bahkan untuk keluar dari kamar dengan tujuan untuk mengisi perut saya yang kosong saja saya merasa malas. Alhasil, saat ini saya merasa sangat lapar. Alih-alih mengambil makanan dan melahapnya untuk menyelesaikan persoalan perut saya ini, saya memilih untuk tetap berada di dalam kamar dan mengetik tulisan ini. Terus terang saya tidak tahu harus menulis apa untuk BBKU hari ini. Namun rasa lapar yang amat sangat ini menginspirasi saya untuk menulis tentang daftar lagu yang saya dengarkan ketika rasa lapar melanda.

Glenn Fredly, Monita & Is – Filosofi dan Logika
Teringat lagu ini setelah berkunjung ke kedai kopi Filosofi Kopi tadi sore. Saya kira (kalau saya tidak salah ingat) Mark Twain, penulis terkenal itu, yang pernah bilang bahwa ada dua hari yang paling berarti bagi manusia, yaitu hari ketika mereka lahir dan hari ketika mereka tahu mengapa mereka lahir ke dunia. Ya, hidup itu (kalau menurut Twain) adalah untuk mencari makna. Termasuk ketika mereka dipertemukan dengan berbagai manusia lainnya dan menemukan makna atas kehadiran mereka dalam hidup, yang bisa jadi sementara atau selamanya. Terkadang, logika yang kita punya dibenturkan oleh logika dari orang-orang lain, yang bisa jadi menurut kita adalah suatu bentuk dari kegagalan logika yang memuakkan. Terkadang, ego kita digempur oleh ego orang-orang lain, yang membuat kita belajar, bahwa mengalah bukan berarti kalah; karena memang, beberapa orang terlahir dengan tingkat kebebalan tertentu untuk mau belajar dan mendengarkan nurani mereka, serta lebih memilih untuk mempertahankan ego atas nama logika yang gagal.




Banda Neira – Sampai Jadi Debu
Kebetulan lagu ini muncul dalam daftar putar selanjutnya. Saya kemudian teringat lagu ini menjadi bagian dari film “Posesif”, sebagai latar suara sebuah adegan di mana karakter utama wanita ditinggalkan oleh karakter utama pria. Sebenarnya secara lirik, lagu ini manis sekali; sama sekali tidak ada hubungannya dengan patah hati, perpisahan, atau segala bentuk peristiwa sedih lainnya. Namun secara musik, lagu ini memang mengundang rasa haru. Ini adalah jenis lagu yang akan kita kirim kepada kekasih kita, atau barangkali kita sertakan ke dalam playlist yang kita susun khusus untuk pasangan kita. Jika badai di antara kita telah berlalu, salahkah kita menuntut mesra? Tidak. Jelas tidak salah. Mengapa menjadi salah untuk menuntut mesra kepada pasangan kita sendiri? Yang salah adalah menuntut mesra kepada pasangan orang lain tanpa seizin pasangannya. Karena kalau itu yang terjadi, alih-alih merayakannya selesainya badai, kita justru membuat badai lain yang baru. Ya ampun, hobi kok membuat badai.




Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
Lagu berikutnya dalam daftar putar. Lagi-lagi soal mencari makna. Ya ampun. Mengapa saya dihadapkan dengan pencarian makna dikala lapar? Sepertinya memang saya terlalu serius dalam menjalani hidup ini. Pada pertengahan lagu tiba-tiba saya teringat sesuatu, mungkin sebagai rangkaian dari lagu sebelumnya. Bagi saya, cinta tidak harus diwujudkan melalui hadiah-hadiah yang mahal dan mewah. Saya percaya, bahwa cinta yang genuine (saya tidak menemukan padanan arti kata ini dalam bahasa Indonesia) nan sederhana dapat kita temukan di mana saja, tidak harus pada tempat-tempat mewah. Cinta itu sesederhana sentuhan hangat di pundak kita, yang mengatakan bahwa, “Aku ada di sisimu.” Cinta adalah ketika seseorang memberikan sedikit yang ia punya ketika ‘sedikit’ itu adalah segalanya yang ia punya. Kondisi suatu relasi boleh jadi ‘naik-turun’, namun cinta itu selalu ada di sana; memberikan ‘rumah’ bagi para jiwa yang terluka dan hilang untuk selalu pulang kembali.




Payung Teduh – Resah
Ternyata lagu berikutnya adalah lagu yang mengingatkan saya pada pasangan saya. Sebagai seorang Pisces, ia adalah pribadi yang merasa resah atas semua hal. Dan ternyata, menurut dia (yang ia sampaikan kepada teman-temannya) saya adalah satu-satunya perempuan di dunia ini yang sanggup memahami keresahannya secara keseluruhan. (Lucu sekali, karena ada orang yang menganggap bahwa saya ini justru merupakan sumber keresahannya). Saya terharu ketika tahu bahwa ia berkata pada teman-temannya, bahwa hanya saya yang sanggup mendengarkan dan benar-benar mengerti, serta bahkan selalu ada di sana untuknya setelah segala bentuk pemahaman itu. Ya ampun. Sepertinya saya memang orang yang mudah dibuat terharu. Kalau dipikir-pikir, anggapan orang bahwa saya adalah sumber keresahan pasangan saya mungkin ada benarnya, karena pasangan saya tidak mungkin ‘tidak resah karena saya’ kalau saya memang sangat berarti baginya.




Payung Teduh – Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan
Sungguh lagu ‘gombal’ yang paripurna di alam semesta raya ini.




Melancholic Bitch – Nasihat yang Baik
Ya, mungkin sebaiknya Susi tidur sekarang juga.



Efek Rumah Kaca – Sebelah Mata
Sudah hampir jam 12 malam, Cinderella harus pulang, walau hanya dengan sebelah ma..., eh, sepatu.



Share:

0 komentar