Sore Itu di Tepi Makam



Eyang, apa kabar? Aku rindu.
Maaf baru menemui sekarang. Maaf bila ku membutuhkan waktu lama ‘tuk bisa datang.
Kehilanganmu adalah salah satu hal terberat bagiku.
Dan aku rasa aku tak akan pernah sembuh dari itu.
Eyang,
Hidup akhir-akhir terasa lebih berat dari biasanya. Dunia sedang tak bersahabat.
Dan aku tak tahu lagi harus berkeluh pada siapa.
Tak ada yang mau mendengar, bahkan langit sekalipun.
Aku tidak ingin menangis.
Bagaimana di sana? Apakah menyenangkan?
Apakah kau menjalani waktu-waktumu dengan tenang? Apakah ada yang disebut “waktu” di sana?
Aku tidak ingin menangis.
Apakah di sana jauh lebih baik daripada di sini?
Haruskah aku segera menyusul ke sana?
Aku tidak ingin menangis.
Eyang,
Kalau ada orang-orang yang tidak ditakdirkan ‘tuk bahagia di dunia ini,
Pasti aku termasuk diantaranya.
Bagaimana bisa hidup ini begini?
Aku tidak ingin menangis.
Banyak orang yang tertawa di atas tangisan orang lain.
Ada pula perempuan yang bahagia di atas kesedihan perempuan lain.
Kehidupan ini memuakkan.
Aku tidak ingin menangis.
Satu demi satu orang-orang yang berarti bagiku justru meninggalkanku.
Tak ada yang berpihak padaku.
Sosok yang kukira percaya padaku pun tak lagi ada untukku.
Mungkin memang sudah jalannya aku takkan pernah jadi prioritas seseorang.
Aku tidak ingin menangis.
Eyang,
Apakah di sana kau menemukan arti hidup?
Apakah di sana kau menemukan makna cinta?
Mungkin hidup ini memang seperti yang kita tahu selama ini.
Sungguh aku rindu saat-saat di mana kita berbincang berdua.
Aku tidak ingin menangis.
Karma siapa yang sedang kujalani sekarang?
Mungkin di kehidupan sebelumnya aku adalah orang yang berkhianat pada bangsanya,
Sehingga dalam kehidupan yang sekarang aku menjalani hukumanku.
Akankah ada kehidupan selanjutnya untukku?
Aku tidak ingin menangis.
Haruskah aku susul saja dirimu?
Aku rasa takkan ada yang merasa kehilangan atas kepergianku.
Aku hanya variabel yang mudah digantikan bagi orang-orang di sekitarku,
Bahkan bagi sosok yang sangat berarti bagiku.

Namun angin berhembus,
Dan sayup-sayup terdengar suara halus seorang ibu berambut putih,
Ia menyapaku dengan hangat,
Mashita, apa kabar?

Dan di tepi makam itu, aku bersimpuh bersimbah air mata.

Eyang,
Mungkin memang belum saatnya aku menyusul ke tempatmu.
Baik-baik di sana, ya, sampai saatnya aku datang.
Aku akan bawakan bunga-bunga cantik kesukaanmu.


M.F

Share:

0 komentar