Tentang Relasi Jarak Jauh: Hilang

Pedihnya tanya yang tak terjawab mampu menjatuhkanku yang dikira tegar.
Kau tepikan aku, kau renggut mimpi yang dulu kita ukir bersama,
Seolah aku tak pernah jadi bagian besar dalam hari-harimu,
Seolah janji dan kata-kata yang t’lah terucap kehilangan arti.
–Raisa, Usai Disini


Judul lagu ini adalah “Usai Disini”. Penyanyinya adalah Raisa. Ironis. Si penyanyi yang baru saja menikah ini menyanyikan lagu tentang perpisahan. Ironisnya lagi, si penyanyi menikah pada akhir pekan di awal bulan September ketika kita juga menghabiskan akhir pekan itu bersama. Ironisnya, kita menghabiskan akhir pekan itu untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatmu. Ironisnya lagi, dua minggu setelah itu, lagu ini merasuk ke alam bawah sadarku ketika random playlist di YouTube memutar lagu ini dan membuatku terbangun pada dini hari dengan rasa gelisah. Hari itu adalah Sabtu dini hari, sekitar 30 jam setelah dirimu melakukan tindak pemblokiran sepihak atas diriku.
“Beginikah akhirnya?” Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
“Apakah semuanya usai disini, seperti lagu itu?”
Beribu tanya berpusar di dalam kepalaku tanpa henti, membuatku sakit kepala selama seminggu terakhir ini.
“Apakah aku telah membuat ini semua begitu berat bagimu?” Dan tak ada jawaban darimu.
“Apakah aku telah menjadikan ini semua begitu menyakitkan bagimu?” Dan kau pun tak menjawab.
Hari ini sudah genap seminggu semenjak kau hilang. Dan aku masih di sini termenung menanti jawaban, atau sapaan, atau apapun itu. Rasanya... tidak karuan. Begitu sedih hingga tidak sanggup menangis lagi. Begitu marah hingga kehilangan kata-kata. Begitu kecewa hingga tidak tahu harus berbuat apa. Begitu khawatir hingga ku terdiam menunggu ajal. Yang aku tahu, aku hancur. Kejadian ini membuat sengatan listrik di pintu kamar yang sengaja kau berikan padaku waktu itu menjadi tidak ada apa-apanya, karena ini setara dengan sambaran halilintar. Membuatku terbujur kaku tak berdaya di atas tanah yang basah.
Sembari terbujur kaku, aku berpikir. Di mana salahnya? Lalu ku coba menelusuri satu per satu kalimatmu pada malam terakhir itu. Karena otakku tidak sewaras biasanya, aku tidak bisa menulis secara kronologis. Maafkan bila terkesan berantakan.

Katamu kau belum sanggup beranjak dari masa lalumu. Katamu orang-orang di sekitarmu yang selalu berbicara tentang masa lalu itu telah menyulitkan dirimu untuk beranjak dari sana. Mungkin klise ketika aku berkata bahwa segala sesuatunya membutuhkan proses. Dan ini adalah proses yang harus kita jalani bersama. Kita berdua tahu bahwa itu semua tidak mudah. Kau bisa berkata bahwa aku tak tahu apa yang kau rasakan. Kau pun mungkin tak percaya ketika aku bilang bahwa aku tahu apa yang kau rasakan. Pikirmu aku tak pernah berada dalam posisi itu; ketika sebuah relasi yang telah dijalin selama bertahun-tahun berakhir kandas, padahal orang itu telah menjadi bagian dari teman-teman kita dan keluarga besar kita. Aku pernah ada di sana. Dan aku tak munafik, bahwa butuh bertahun-tahun untukku dapat mengenyahkan orang-orang di sekitar yang selalu bertanya dan membicarakan kami berdua, apalagi kami alumni dari sekolah yang sama dan satu sama lain telah saling mengenal keluarga besar masing-masing.
Aku hanya ingin berkata bahwa, hanya karena orang-orang di sekitar kita selalu membicarakannya dan membuat kita teringat akan masa lalu itu, bukan berarti mustahil bagi kita untuk bisa beranjak dari sana. Prosesnya memang melelahkan. Namun kau harus ingat bahwa ada aku di sini, dan aku hadir untukmu berbagi rasa lelah itu. Dan patut kau ketahui bahwa “belum bisa beranjak dari masa lalumu” bukan berarti kau tidak sanggup mencintaiku secara utuh dan tulus. Bagiku, segala bentuk usaha yang telah kau lakukan untuk relasi kita selama ini adalah caramu untuk mencintaiku secara utuh dan tulus. Dan itu semua sangat berarti bagiku. Aku tidak bisa berterima kasih secara cukup padamu atas itu.

Katamu kau belum sanggup mencintaiku secara murni (genuine). Katamu, mencintaiku secara murni adalah dengan berada di sini bersamaku dan menyelesaikan proyek kita. Kenyataannya, Sayang, jalan hidup memang belum menghendaki demikian. Segala sesuatunya tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Dan aku yakin kita tahu betul soal itu. (Oke, aku tahu aku memasuki ranah sensitif di sini ketika membahas soal proyek kita. Beribu maaf sebelumnya apabila kegamblanganku menyakitkanmu.) Kita manusia dan manusia adalah makhluk dengan kemampuan adaptasi yang tinggi. Selayaknya kita menjalani hidup hari demi hari dengan menyesuaikan diri atas perubahan yang selalu terjadi dalam hidup kita. Aku tahu kita telah berusaha keras selama tiga bulan ini untuk menyesuaikan diri dan relasi kita atas situasi yang baru. Negosiasi, seperti yang sudah-sudah, selalu terjadi dan itu semualah yang mendewasakan kita dalam relasi ini, bersama. Apabila usaha keras itu belum memunculkan hasil saat ini, bukan berarti semua itu gagal. Itu hanya tanda bahwa kita harus berusaha lebih keras lagi.
Aku selalu yakin bahwa kita akan mencapainya. Karena aku tahu, selalu ada cara untukmu dapat berkontribusi meskipun kau tak hadir di sini secara fisik. Mengapa? Karena aku belum menyerah, dan aku tak akan pernah menyerah. Mengapa? Karena aku mengusahakan sesuatu. Dan aku harap kau pun tak akan lelah untuk membantuku. Kita memulai ini semua bersama, dan kita akan mewujudkan hasilnya bersama pula; aku yakin itu. Sekarang pertanyaannya, berkenankah dirimu membantuku? Aku dapat mewujudkannya. Namun aku membutuhkan bantuanmu. Dan aku yakin kau bisa memberiku bantuan itu.

Katamu aku tak paham perasaanmu atas proyek ini yang kau bilang tak ada kemajuan. Ya, aku mungkin tak paham. Kau pun tak pernah mengatakannya secara gamblang. Dan apapun yang aku katakan mungkin takkan sanggup mengurangi rasa kecewa, marah, bersalah, atau apapun itu. Aku tahu kau kecewa dan marah atas dirimu sendiri, mungkin karena kau berpikir kau tak dapat berkontribusi apapun untuk kemajuan proyek ini. Aku tahu kau merasa bersalah pada semua pihak yang terkait. Aku tahu kau merasa frustrasi, mungkin karena kau berpikir bahwa proyek ini berada pada ambang kegagalan, mungkin juga karena kau merasa kau tidak memiliki pilihan. Maafkan bila malam itu aku gagal meyakinkanmu, gagal memberimu ketenangan, gagal meredakan segala keresahan yang melanda jiwamu.
Ketika kemudian aku memikirkan semuanya saat ini, menjadi wajar bagiku bahwa kau bereaksi demikian pada malam itu. Aku telah mengecewakanmu. Menjadi wajar kemudian ketika kau berkata bahwa aku tidak mengenalmu.

Katamu aku tidak mengenalmu. Meskipun itu menyakitkan, harus kuakui bahwa pada konteks malam itu, kau benar. Aku tahu bahwa ketika kau merasa resah, pikiran negatifmu akan “kemana-mana”. Karena aku tahu itu, malam itu aku mencoba untuk mencegahnya dengan cara berkata tegas padamu, supaya pikiran negatif itu tidak menyebar dan memunculkan masalah yang sebenarnya tidak ada. Namun rupanya caraku salah. Pada titik ini, aku tidak cukup mengenalmu untuk tahu bahwa caraku malam itu adalah salah. Maafkan aku.
Ketika kemudian aku memikirkan semuanya saat ini, bukannya kita tidak saling mengenal satu sama lain, hanya saja kita terlalu egois untuk saling memahami satu sama lain. Aku terlalu egois untuk tidak memahami segala keresahanmu dan berpikir bahwa aku tahu segalanya. Kamu terlalu egois untuk membuka hati pada caraku berusaha menenangkanmu dan berpikir bahwa dirimu adalah pihak yang paling menderita dalam situasi ini.

Katamu aku tidak tahu rasanya tidak memiliki pilihan. Mungkin kau benar. Untuk tahu bagaimana rasanya tidak memiliki pilihan, kita harus tahu terlebih dahulu bagaimana rasanya memiliki pilihan, bukan? Ya, aku tidak pernah tahu. Lebih tepatnya, aku tidak pernah tahu bagaimana rasamu ketika kau tidak memiliki pilihan. Aku pun tidak memiliki pilihan, dalam spektrum yang berbeda. Dan kau pun takkan pernah tahu bagaimana rasaku ketika tidak memiliki pilihan.
Sayang, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Mereka yang terlihat menikmati hidup hanya pintar dalam menutupi masalah mereka dari orang lain. Kita tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar mereka rasakan karena kita bukan mereka. Yang bisa kita lakukan adalah mencoba bersimpati, dengan cara memahami dan menerima mereka atas diri mereka apa adanya. Ketika kita merasa ada yang salah, bicarakan baik-baik, dan dengarkan apa yang mereka ingin katakan. Sebagai manusia kita dianugerahi otak, perasaan, telinga, dan mulut; yang layaknya kita gunakan sebaik-baiknya untuk membangun dialog dengan orang lain. Dan aku pun masih belajar untuk itu. Dan apabila kau menyadarinya, itulah yang aku coba bangun denganmu sejak awal kita berelasi.
Saat ini kau harus berada di sana karena alasan yang telah kau katakan padaku. Percaya dan pahamilah bahwa aku menerima semua itu. Percayalah bahwa aku melakukan porsiku di sini. Aku harap, diantara seluruh manusia yang ada di dunia ini, kau bisa menjadi orang yang percaya padaku bahwa aku sanggup melakukan apa yang seharusnya aku lakukan; demi kita, demi proyek ini, dan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dan seperti yang telah aku katakan, berikan aku bantuanmu.

Malam sebelum kejadian itu, kau memintaku untuk mengingatkanmu kembali mengapa kita bersama pada awalnya. Maaf apabila jawabanku pada waktu itu tidak meyakinkanmu, hingga membuatmu berkata pada malam berikutnya: kau tidak yakin sampai kapan kita bisa memiliki frekuensi yang sama dan membaca halaman yang sama. Mungkin kau lupa bahwa kita menjadi kita yang sekarang melalui berbagai dialog dan negosiasi. Aku yakin, terlepas dari bagaimanapun kondisi kita nantinya, kita akan selalu dapat membuka ruang diskusi. Toh itu yang selalu kita lakukan selama ini. Walaupun kita tidak dapat saling memahami seutuhnya, paling tidak kita selalu dapat saling mendiskusikannya. Kita mendiskusikannya karena kita peduli dengan apa yang terjadi dalam hidup kita masing-masing. Dan itulah yang mendefinisikan kita.

I think I’ve already lost you, I think you’re already gone.
I think I’m finally scared now, and you think I’m weak, I think you’re wrong.
I think you’re already leaving, feels like your hand is on the door.
I thought this place was an empire, and now I’m relaxed, and I can’t be sure.
But I think you’re so mean, I think we should try, I think I could need this in my life.
And I think I’m scared, I think too much. I know it’s wrong, it’s a problem I’m dealing.
If you’re gone, maybe it’s time to come home.
There’s an awful lot of breathing room but I can hardly move.
And if you’re gone, baby, you need to come home,
‘Cause there’s a little bit of something me in everything in you.

Sudah seminggu kau mendiamkanku. Aku tak henti bertanya apakah itu benar-benar perlu. Apabila kau butuh waktu sendiri tanpaku, kau cukup mengatakannya dan aku akan memberimu waktu. Dan aku akan menunggu. Alih-alih mendiamkanku dalam kebingungan, kau bisa mengatakannya secara jujur seperti yang selalu kau lakukan. Wajar apabila kau marah dan kecewa padaku. Yang aku heran adalah apakah perlu selama ini kau mendiamkanku.
Maaf karena aku mengatakan hal-hal yang tidak sanggup menenangkanmu, di saat niatku sesungguhnya hanya berusaha untuk mengenyahkan semua keresahan dari benakmu.
Maaf karena aku mengatakan hal-hal yang membuatmu semakin kecewa dan terpuruk, di saat aku sesungguhnya ingin memelukmu erat dan berkata bahwa, “Semua akan baik-baik saja. Aku sedang mengusahakan sesuatu.”
Maaf karena aku mengatakan hal-hal yang tidak sanggup meyakinkanmu, di saat niatku sesungguhnya hanya berusaha untuk memberimu kekuatan agar tetap tegar dan percaya, untuk melangkah bersamaku baik dalam relasi maupun proyek ini.
Aku menyayangimu, karena itulah aku membutuhkanmu. Alih-alih saling menepikan satu sama lain, selayaknya kita harus saling mendukung.
Aku membutuhkanmu, karena aku menyayangimu. Alih-alih saling mengabaikan satu sama lain, sejatinya kita harus saling menguatkan.
Karena aku menyayangimu, aku peduli atas semua yang terjadi dalam hidupmu. Alih-alih menghilangkanku, cobalah untuk menerima keberadaanku sebagai bilik ratapan atas segala keresahan yang kau rasakan.

I bet you’re hard to get over, I bet the room just won’t shine.
I bet my hands I can stay here, I bet you need more than you mind.
And I think you’re so mean, I think we should try, I think I could need this in my life.
And I think I’m scared that I know too much. I can’t relate and that’s a problem I’m feeling.
If you’re gone, maybe it’s time to come home.
There’s an awful lot of breathing room but I can hardly move.
If you’re gone, baby, you need to come home.
There’s a little bit of something me in everything in you.

Maaf aku membuat segalanya terasa begitu berat bagimu. Maaf aku tidak bisa memahami sepenuhnya bagaimana perasaanmu atas tanggung jawab dan beban moral yang harus kau terima. Maaf aku tidak bisa memahami sepenuhnya mengenai kondisi dan situasimu di sana.
Datanglah kapanpun. Semoga saat itu tiba aku sanggup menerima hadirmu kembali dengan lebih lapang dada. Apabila tidak, maka sepertinya aku pun butuh waktu, karena patut kau pahami bahwa tidak sebentar kau menghilang. Dan aku terlalu terpuruk dan sedih atas keadaan ini.
Aku harap dirimu bersedia membuka hati untuk ruang diskusi ketika tiba saatnya nanti.
Aku merindukanmu... dan ingin memelukmu erat ‘tuk meminta maaf atas segala yang tak bahagia yang kita lalui bersama.
Selebihnya, kau pun tahu; aku mencintaimu. Selalu. Walau dengan cara yang kadang tak kau pahami.

Sleman, 21092017, seratusenampuluhdelapanjamsejakkauhilang

Share:

0 komentar