Tentang Relasi Jarak Jauh: Refleksi Bulan Kedua

Dunia, meski sejenak, telah jadi sebuah kolam surgawi: Segala-sesuatu berenang perlahan dalam bentuk-bentuknya yang murni. Ingatan-ingatan tak sibuk bertengkar, seakan enggan pertahankan diri 
-Dea Anugrah, Misa Arwah

Namun surga yang digambarkan Dea tidak berlangsung lama. Dunia dalam kepalaku kini bagaikan neraka. Ingatan-ingatan sibuk bertengkar; saling mencabik satu sama lain. Menyisakan tidak satu apapun kecuali serpihan rasa duka.


Peringatan: sebagian besar tulisan ini ditulis dalam keadaan marah, sedih, dan rindu.

“Just because we don’t trust our partner or our partner doesn’t trust us that we can be faithful, it doesn’t mean that we are legitimated to be unfaithful. In the end, it’s all about the choice of respecting ourselves and every person involved in the relationship. Eventually, it’s all about conscience.” –M.F

Satu hal kecil nan sederhana saja sudah cukup untuk memantik satu rentetan permasalahan besar. Dan seringnya itu yang terjadi padaku. Cukup satu kata atau kalimat sederhana saja darimu, maka itu dapat membawaku jatuh ke dalam jurang nestapa yang paling dalam.
Hanya satu bulan berlalu sejak tulisan terakhirku, tetapi satu bulan saja ternyata cukup untuk menuangkan begitu banyak kejadian dalam hidup seorang Mashita. Yang luar biasa adalah dirimu, tentu saja. Jika bukan karena kau, hidupku tidak akan semenarik ini untuk diceritakan. Dan masalahku dalam menulis, seperti biasa, adalah bingung harus memulai dari mana.

Lompatan emosi yang terjadi dalam satu bulan belakangan ini begitu luar biasa bagiku. Awalnya bahagia; kita punya kesempatan bertemu walau hanya sekitar 24 jam, kita punya kesempatan untuk berbicara mengenai satu hal besar dalam hubungan kita. Dalam perjalanannya, aku makin jatuh dalam kesedihan; kau secara sepihak mengurungkan salah satu tujuan besar dalam hubungan kita, kau secara terbuka menyatakan bahwa ada sosok lain yang mengalihkan perhatianmu. Kepalaku rasanya mau pecah. Begitu pun dengan jantungku.
Aku menangis pada kunjungan terakhirmu. Alasannya sederhana: sedikit waktu yang kita punya untuk bersama, tak bisakah kita menghabiskannya dengan bahagia? Banyak hal yang membuatmu marah pada waktu itu; satu hal yang cukup membuatku sangat sedih. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak memiliki waktu kencan yang layak seperti pasangan kebanyakan. Mungkin memang tujuan kedatanganmu bukan semata untuk bersama denganku saja. Tidak banyak yang aku inginkan pada waktu itu; hanya hal sederhana berupa waktu kencan berdua denganmu, tanpa ada rasa marah dan sedih. Namun itu pun tak sanggup kita dapatkan pada waktu itu. Semakin aku berpikir, semakin aku menyadari bahwa diriku tak pernah menjadi alasan semata bagimu untuk datang; atau mungkin aku saja yang tidak tahu, entahlah. Aku sangat merindukanmu, namun bahkan dari sedikit waktu yang kita miliki pun harus aku bagi dengan yang lainnya. Dari situ aku merasa sedih, kemudian menangis. Maaf apabila membuatmu cukup bingung dan kecewa pada waktu itu.

Aku juga tidak mengerti dengan kinerja otakku. Setiap kali mentalku sedang berada pada titik terendah, setiap kata yang muncul dari orang-orang terdekatku bisa sangat berpengaruh terhadap kondisi jiwaku. Dan cukup satu kata saja dapat membuat rentetan pemikiran buruk yang tidak dapat kuhindari bermunculan dalam kepalaku. Jadi, apabila kau mempertanyakan mengapa aku begitu mempermasalahkan satu hal yang kau anggap sepele, maka inilah penjelasannya: sistem berpikir otakku memang bekerja dengan cara yang demikian.
Aku akan mulai dengan rasa percaya diri; masalah yang membuatmu sedemikian marahnya padaku. Iya, aku salah karena merasa inferior dengan penampilanku. Pun itu ada sebabnya. Pun aku pikir kau mengerti dan memahami soal itu. Pun aku pikir kau secerdas itu untuk paham dan (alih-alih berbalik marah padaku dan menghilangkanku dari sistemmu) sanggup menenangkanku ketika persoalan itu muncul. Toh tidak setiap saat aku merasa inferior dengan penampilanku; hanya pada saat-saat tertentu saja ketika kondisi mentalku sedang pada titik rendahnya. Sayangnya, permasalahan itu menjadi besar bukan hanya karena kinerja otakku semata, melainkan juga karena kinerja otakmu.
Dari situ kau berpikir bahwa aku seolah-olah memanfaatkanmu karena menggunakan cara yang dilakukan orang-orang untuk membuatmu merasa bersalah. Dari situ kau berpikir bahwa aku tidak memahamimu; bahwa aku tidak pernah memberi perhatian pada cerita-ceritamu. Dari situ kau berpikir bahwa aku egosentris dan bebal. Tidak apa, aku terima semuanya. Toh ada benarnya bahwa aku egosentris dan bebal. Saking egosentrisnya, aku tidak memikirkan perasaanmu ketika dengan sengaja merendahkan diriku sendiri untuk membuatmu merasa bersalah.
Keburukanmu adalah mengucapkan kata-kata menyakitkan, yang seringnya tidak kau sadari dan tidak kau maksudkan secara serius, ketika dirimu tengah berada dalam emosi dan rasa marah. Kejelekanku adalah menerima secara mentah-mentah seluruh kata-kata itu, belum bisa membedakan antara yang mana yang kau maksudkan secara serius dan tidak, serta menelan seluruhnya dalam-dalam, mengendapkannya, dan menjadikannya hantu dalam mimpi-mimpi burukku. Aku mengingat semuanya; kata-kata yang kau ucapkan. Aku mengingatnya seperti kaset usang yang diputar berkali-kali di dalam kepalaku. Dan dalam waktu satu bulan terakhir ini, koleksi kata-kata itu bertambah.
Sesungguhnya aku tidak merendahkan diriku sendiri untuk membuatmu merasa bersalah, melainkan untuk membuatmu menyadari bahwa aku membutuhkanmu. Butuh untuk apa? Untuk membantuku meningkatkan kondisi mentalku. Untuk membantuku keluar dari penjara jiwaku yang gelap. Untuk menarikku keluar dari pemikiran-pemikiran burukku sendiri. Namun rupanya ekspektasiku berlebihan. Dan salahku karena tidak menyadarinya.
Sungguh sebuah percakapan telepon yang menyakitkan, siang hingga sore itu. Aku terpaksa mencari tempat bersembunyi (yang begitu susahnya karena aku berada di rumah orang tuaku) karena aku menangis sepanjang percakapan. Kedua adikku sampai terheran. Ibuku melihat tetapi tidak bertanya, seperti biasanya; sungguh Ibu yang pengertian.
Dan kau menimbun semua rasa sakit dengan satu pernyataan yang menghantam batin dan jiwaku. Kau bilang untuk menganggap semua percakapan tentang salah satu tujuan kita tidak pernah terjadi. Perasaanku tidak terdefinisi. Mungkin, seperti disambar petir di siang bolong. Seketika aku merasa marah dan kecewa. Ternyata semudah itu dirimu membuat keputusan mengenai sesuatu yang aku anggap sangat penting. Ternyata perasaanku tidak signifikan bagimu. Ternyata aku tidak signifikan bagimu. Rasanya ingin tertawa dengan pahit. Namun yang keluar hanyalah isak tangis. Miris.
Mengapa miris? Karena sebelumnya kau mengatakan alasan mengapa masih bertahan denganku hingga saat ini; bahwa aku adalah asuransi dari mimpi-mimpimu. Bahwa aku sebegitu berartinya. Benarkah? Rasanya aku seperti kehilangan pegangan ketika kata-kata dan aksimu tidak bertemu padan. Lalu muncul sebuah pemikiran: ah, ya, asuransi adalah jaminan, jadi aku dipertahankan karena jaminan, bukan karena rasa. Dari situ, nilai asuransi, bagiku, menjadi turun maknanya. Tidak apa, toh selama ini aku tulus dalam membantumu mewujudkan mimpi-mimpi itu. Karena bagiku, itu bukan hanya soalmu, atau soalku, atau soal kita, melainkan soal kemanusiaan. Itulah mengapa aku mencoba meletakkan mimpi dan rasa pada tataran yang berbeda. Asumsiku, jika menelaah kata-katamu, kau menempatkan keduanya pada tataran yang sama. Rasamu padaku hadir karena aku sanggup memberi jaminan atas mimpimu. Dari situ, nilai asuransi, bagimu, sangatlah bermakna tinggi dan agung. Maaf apabila aku salah mengartikannya. Aku memahami perspektifmu, namun sejujurnya, aku hanya butuh waktu untuk sanggup menerimanya.
Kembali ke soal dirimu yang mengatakan untuk menganggap bahwa percakapan tentang salah satu tujuan kita tidak pernah terjadi; sebisa mungkin aku meyakinkan diriku bahwa apa yang kau ucapkan hanyalah keputusan sepihak yang muncul karena emosi. Namun apa yang terjadi satu minggu kemudian membuatku semakin terperosok dalam lubang kegelapan. Depresi.

Setelah memendamnya seorang diri selama berbulan-bulan lamanya, akhirnya aku mengutarakan satu permasalahan yang mengganjal pikiranku selama ini kepadamu. Patut kau pahami bahwa itu tidak mudah bagiku. Aku tidak terbiasa dengan membagi masalah mengenai hal itu kepada siapapun. Secara tidak terduga, kau menerimanya dengan baik. Perasaanku pada waktu itu...aneh. Jujur, itu adalah hal yang baru bagiku, memiliki seseorang untuk mendukungku dalam permasalahan itu. Aku merasa lega sekaligus terharu. Aku merasa akhirnya aku memiliki seseorang untuk bersandar secara utuh. Tak cukup pula rasa terima kasihku untuk membalas semua bantuanmu. Namun sayangnya, perasaan itu tidak bertahan lama.
Ada sosok lain yang berhasil mengalihkan perhatianmu. Kali ini, bahkan kau mengutarakannya tanpa memikirkan kondisi mentalku pada saat itu. Aku hancur seketika.
Dari situ, rentetan pikiran buruk mulai menyerang. Sistem otakku bekerja seperti biasanya; menghancurkanku dari dalam dengan segala pikiran buruk. Aku menangis dalam diam di sebuah bilik warung internet (sembari menunggu adikku yang sedang mengerjakan tugas di rumah temannya). Saat itu aku membenci diriku sendiri, seperti yang sudah-sudah.
Aku dan kamu, kita, tahu betul bahwa kita sama dalam hal ini. Kita telah membicarakannya. Dan aku cukup berpikiran terbuka untuk menerima segala kelakuanmu dalam hal ini. Namun patut kau pahami bahwa berpikiran terbuka tidak sama dengan tidak berperasaan. Mungkin kamu lupa bahwa aku masih punya perasaan. Atau mungkin kamu memang tidak pernah peduli bahwa aku punya perasaan. Bahkan beberapa bulan yang lalu, malam itu ketika berjumpa dengan gadis itu di sebuah pusat perbelanjaan, setiap jengkal hatiku remuk seiring senyum yang aku berikan padanya. Yang membuatku tegar adalah fakta bahwa aku gila; serta rasa bersalah padamu karena aku pernah melakukan hal yang sama. Ya, aku merasa bersalah. Karena itu, sudah berbulan-bulan aku berusaha membersihkan diri. Dan rekam jejakku bersih selama beberapa bulan terakhir. Mengapa? Karena aku mencoba menghormati relasi ini, menghormati diriku sendiri, menghormatimu, dan menghormati pria-pria lain di luar sana yang tidak berhak aku permainkan perasaan dan penisnya hanya untuk keegoisanku semata.
Aku tidak berharap kau melakukan hal yang sama, tentu saja. Namun kau juga tidak bisa berharap bahwa aku akan baik-baik saja ketika tahu kau begitu. Itu bagaikan seorang pria berharap mempunyai seorang wanita yang cantik sekaligus cerdas sekaligus berpikiran terbuka sekaligus hebat di atas ranjang sekaligus seksi sekaligus visioner sekaligus penyabar sekaligus pengertian sekaligus tidak pernah bereaksi marah terhadap kejujuran, itu sama saja dengan seorang wanita berharap mempunyai seorang pria yang tampan sekaligus cerdas sekaligus kaya sekaligus tidak egois sekaligus penyabar sekaligus setia sekaligus selalu memuja setiap saat sekaligus tidak kekanak-kanakan sekaligus berpenis besar, yaitu sama dengan MUSTAHIL.

Setelah aku renungkan, yang membuatku sangat marah dan sedih ketika mendengar kabar itu darimu adalah pikiran bahwa: ketika diriku tengah berkutat dengan banyak permasalahan, dirimu masih sempat merayu wanita lain. Wow, alangkah lucunya kehidupan ini. Sungguh menarik. Oh, tidak, semua itu bukan salahmu. Itu hanya pemikiran buruk dan dangkalku. Toh dirimu tak pernah tahu bahwa aku memiliki permasalahan itu, karena aku belum pernah mengatakannya sebelumnya.
Masih dalam perenungan yang sama, kemudian muncul faktor kedua yang membuatku sangat marah dan sedih: bahwa dirimu menjadi semakin dingin terhadapku, atau lebih tepatnya, hambar, seperti teh tawar hangat yang sering kau minum. Otakku segera saja mengaitkan semuanya. Terlebih lagi, dirimu selalu terkesan sibuk setiap kali kuhubungi. Bahkan jarang sekali dirimu menghubungiku lebih dulu. Jarang sekali menanyakan kabar. Jarang sekali mencariku atau mengirimiku pesan hanya untuk sekadar mengajak bicara mengenai apapun, hal remeh-temeh sekalipun. Terlebih, hampir tidak pernah lagi menunjukkan afeksi baik dengan kata sayang maupun rindu, baik melalui pesan suara maupun pesan teks. Aku rasa wajar ketika aku merasa bahwa itu semua ada kaitannya dengan kabar bahwa dirimu telah memiliki teman lain untuk berbagi; teman yang mungkin lebih menyenangkan dariku, lebih cantik, lebih cerdas, mungkin lebih muda, dan lebih berpikiran terbuka. Dirimu ada waktu untuk berhubungan dengan wanita itu tetapi tak ada waktu untuk berhubungan denganku. Seingatku, itu bukan bagian dari kesepakatan kita terkait bertemu dengan orang lain; karena sepertinya prioritasmu goyah. Maaf apabila asumsiku salah.
Aku menerima kebutuhanmu untuk bermain peran. Namun setidaknya, terimalah bahwa aku punya perasaan yang patut untuk dihargai. Aku menghargai kejujuranmu. Namun setidaknya, pahamilah bahwa ada waktu di mana kondisi mentalku tidak sekuat itu untuk menerima kejujuran secara serta-merta. Pada akhirnya, ini semua adalah soal hati nurani.
Aku tahu bahwa pria sepertimu dapat selalu dengan mudahnya mendapatkan wanita manapun yang kau mau. Namun itu tidak memberimu legitimasi untuk menyakiti setiap wanita yang kau temui. Pun denganku. Aku tidak memiliki legitimasi untuk menyakiti setiap pria yang mungkin tertarik padaku. Mungkin karena faktor usia, aku sudah lelah bermain. Aku lelah. Aku lelah. Aku lelah. Silakan kalau kau masih tetap ingin bermain. Aku hanya berharap kau tidak kehilangan prioritasmu, meskipun mungkin itu bukan aku.
Aku sempat bahagia. Ya, walaupun hanya sementara, aku sempat sangat bahagia ketika dirimu secara tidak terduga mengutarakan satu tujuan besar dalam relasi kita beberapa waktu yang lalu. Aku selalu merasa bahwa diriku adalah sosok yang tidak berhak untuk bahagia; bahwa tidak ada yang menginginkanku secara serius untuk menjalani hidup bersama. Namun pada saat itu, kau berhasil membuatku bahagia. Itulah mengapa, tidak terperi rasa marah dan sedihku ketika kau merenggut rasa bahagia itu dalam sekejap. Ketakutanku mewujud nyata: aku memang tidak berhak untuk bahagia dan aku memang tidak diinginkan.

Sudah kubilang, ketika aku mengatakan “iya” pada ajakanmu waktu itu, aku telah memikirkan segala konsekuensi yang mungkin dapat terjadi. Aku telah mengatakan bahwa aku siap. Aku telah mengatakan bahwa, menerimamu berarti menerimamu dengan seluruh paketmu. Aku sadar betul ketika mengatakannya. Tidakkah kau sadari bahwa kau pun harus menerimaku dengan seluruh paketku? Aku telah mengatakan bahwa, “Tidak peduli sesulit apapun jalannya, aku akan tetap menjalaninya selama aku bersamamu.” Tidakkah kata-kataku itu memberi arti bagimu? Harus bagaimana lagi supaya aku dapat meyakinkanmu? Masihkah dirimu menginginkanku? Apabila iya, aku mohon, tegaslah dalam bersikap. Dan juga, jangan lagi kau membuat keputusan dalam kondisi marah dan emosional. Seperti yang sudah kukatakan padamu malam itu, “Aku tidak membayangkan untuk menjalani hidupku dengan orang lain selain dirimu.” Aku harap kau masih merasakan yang sama. Karena sesungguhnya, bagiku, itu adalah alasan mengapa aku bertahan denganmu. Bukan karena asuransi mimpi, namun karena rasa. Maaf apabila alasanku terkesan murahan bagimu, namun ini adalah apa yang aku rasa dengan tulus dan jujur.
Karena kita sama. Walaupun detailnya berbeda, kita sama. Melihat dirimu seperti melihat refleksi atas diriku sendiri. Dan karena itulah aku bertahan. Segala mimpi, rasa takut, keresahan; hal-hal terdalam yang kita bagi. Bahkan dalam jutaan tahun, tidak akan aku menemukan pribadi sepertimu lagi. Pun dirimu, tidak akan menemukan pribadi sepertiku lagi, bahkan dalam jutaan tahun.
Aku tidak bisa cukup berterima kasih atas segala bantuan yang kau berikan atas permasalahan yang menimpaku. Terlebih, kau memberi perasaan bahwa aku akhirnya memiliki tempat bersandar; bahwa aku memiliki seseorang untuk mendukungku. Jujur, bagiku itu adalah perasaan yang luar biasa karena aku tidak pernah mendapatkannya; atau lebih tepatnya, aku selalu merasa bahwa aku tidak berhak mendapatkan dukungan semacam itu. Jujur aku merasa sangat sendirian pada waktu itu. Dan kau berhasil menarikku keluar dari sana. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Jujur, aku gelisah setiap kali aku merasa kau mengabaikanku. Pada pagi hari tanggal 1 Agustus, aku terbangun lebih pagi dari biasanya karena sebuah mimpi buruk; mimpi buruk yang melibatkanmu dan hantu-hantu berwujud perempuan. Pun dengan keesokan paginya pada tanggal 2 Agustus; mimpi buruk yang sama dengan detail yang berbeda. Anehnya, justru dua hari itu kau bersikap sangat hangat kepadaku; jauh bertolak belakang dengan beberapa minggu belakangan di mana kau bersikap hambar layaknya minuman bebas gula. Hingga semalam, kau membahas hal yang menghancurkan mentalku. Lagi, soal orang lain itu.
Aku pernah berkata padamu bahwa aku tak akan melakukannya kepada pria yang telah berelasi. Ada alasannya mengapa aku berprinsip demikian. Aku perempuan, dan sebisa mungkin aku menghormati sesamaku. Jika dia perempuan, pun selayaknya dia memikirkan hal yang sama. Lalu bagaimana apabila dirimu melakukannya dengan perempuan yang telah berelasi? Bukankah sama saja? Tidak. Tatarannya berbeda. Karena perempuan dan laki-laki pada dasarnya berbeda. (Kesetaraan gender yang dituntut oleh para kaum feminis revolusioner tidak berangkat dari pengertian bahwa laki-laki dan perempuan itu sama, melainkan justru berangkat dari pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda. Maka dari itu, layaknya segala fenomena di dunia ini dipandang dari dua sudut: laki-laki dan perempuan. Karena yang terjadi selama berabad-abad adalah pemakaian sudut pandang yang hanya sepihak saja, yaitu laki-laki. Semangat yang dibawa adalah untuk memandang masalah perempuan dari sudut pandang perempuan. Bukan memandang masalah perempuan dari sudut pandang laki-laki, seperti yang selama ini terjadi.) Perempuan boleh berkata apa dan berlaku seperti apa, namun pada dasarnya perempuan membutuhkan rasa untuk melakukan hubungan fisik; sekecil apapun itu dan bagaimanapun bentuknya. Dalam setiap hubungan fisik yang mereka lakukan dengan seseorang yang bukan pasangan mereka, apapun alasannya (entah untuk mencari pelarian atau hanya untuk sekadar membuktikan bahwa mereka diinginkan), baik mereka sadari maupun tidak, mereka menghancurkan rasa mereka sendiri. Bahkan beberapa perempuan menghancurkan rasa mereka sendiri ketika berhubungan fisik dengan pasangan mereka (bisa jadi karena hubungan tersebut terjadi di luar kehendak atau mereka terpaksa melakukannya demi membuat pasangannya bahagia). (Salah satu alasan mengapa aku bertahan denganmu adalah bahwa aku tidak perlu menghancurkan rasa ketika kita berhubungan fisik.) Perempuan bisa saja melakukannya dengan laki-laki yang telah berelasi dan laki-laki itu tidak akan memakai rasa untuk sekadar mendapatkan kepuasan fisik dari si perempuan. Namun bagaimana dengan si perempuan? Konflik akan terjadi di dalam dirinya sendiri; meskipun ia sendiri, katakanlah, pun telah memiliki relasi dengan laki-laki lain. Demikianlah yang terjadi pada gadis mall beberapa bulan yang lalu, yang membuatnya mengundurkan diri. Dan aku merasa lega, karena itu berarti ia tidak mengalami dekonstruksi yang destruktif; ia tidak menjadi skizo menurut versi Deleuze dan Guattari. Dan yang membuatku lega adalah karena aku merasa berhasil menyelamatkannya. Ya, bukan dengan misi untuk membuatnya memahami kita (kita tidak perlu dimengerti  untuk menjadi diri kita sendiri), melainkan aku datang dengan misi untuk menyelamatkannya (ya, mungkin jiwaku memang jiwa LSM). Konyol memang, tapi itulah aku. Dan sesungguhnya, aku pun pernah berada dalam posisi si gadis mall, jauh sebelum kita bersama; karena itulah aku sanggup memahami apa yang terjadi padanya.

Yang terjadi sekarang, mungkin memang benar katamu, bahwa aku merasa takut. Ya, tentu saja aku takut. Setiap kali kasus seperti ini terjadi aku selalu takut. Pun dengan si gadis mall dulu aku juga merasa takut. Namun bukan itu yang membuatku marah. Aku marah karena (menurut penuturanmu) ia meminta masuk dalam relasi kita, untuk "merayakan kita" (apa-apaan?!), karena ia "memahami" kita. Menurutmu ia berbeda karena ia "memahami" kita. Aku tak tahu apa yang sudah kau katakan kepadanya sehingga ia berpikiran demikian (ini bagian yang paling membuatku frustrasi). Apabila ia sungguh memahami kita, maka seharusnya ia paham apa yang aku bicarakan sekarang. Seharusnya ia paham bahwa menginginkan untuk masuk dalam relasi kita adalah pelanggaran. Tolong jangan salah sangka. Aku tidak masalah dirimu menjalin hubungan dengannya. Namun, seperti yang sudah-sudah, aku tidak mau ia ikut campur dalam relasi kita. Bagiku, ia sama saja dengan gadis-gadismu yang lain; tidak ada bedanya, tidak signifikan, dan aku tidak memiliki kebutuhan untuk memenuhi egonya. Apabila ia "memahami" kita, maka itu adalah bonusmu; tidak ada keuntungannya sama sekali bagiku. Ia bisa memilikimu, dalam batas tertentu. Dan aku tidak akan membiarkannya melanggar batas tersebut. Relasi kita terdiri dari dua orang; bukan tiga atau lebih.
Ya, juga karena nama yang sama. Jelas sekali aku jengkel karenanya. Aku jengkel pada semesta yang seolah mengolok-olokku dan mempermainkanku dengan menggunakan nama itu.
Aku kesal padamu, karena kau membahasnya dan dalam pembahasanmu mengesankan bahwa sosok itu begitu penting bagi relasi kita. Atas dasar apa? Sungguh tidak masuk akal bagiku. Kau bersikukuh bahwa aku harus bertemu dengannya. Untuk apa? Apa yang kau harapkan dariku untuk bicarakan dengannya? Kau pun, menurutku, tidak sanggup memberikan alasan yang komprehensif. Aku punya alasan untuk bertemu dengan si gadis mall, karena itulah aku yang meminta terlebih dahulu untuk bertemu dengannya. Aku memiliki misi. Namun dengan yang kali ini, aku tidak merasa dia begitu signifikan untukku bertemu dengannya.
Faktor lain yang membuatku marah adalah bahwa (aku merasa) dirimu tidak memperhatikan aspek bahwa kondisi kita telah jauh berbeda sekarang. Untuk bertemu denganmu tidak semudah menyeberangi Jalan Kaliurang dari Karangwuni menuju Pogung. Pun kita tidak lagi memiliki waktu 24 jam 7 hari bersama seperti sewaktu di Kasongan. Aku tidak dapat langsung melihat wajahmu dan memelukmu untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Bahkan untuk mendengar suaramu saja sulitnya minta ampun. Sudah amat sedikit waktu yang kita punya dan kau masih ingin membaginya dengan perempuan lain (dengan mengajakku bertemu dengannya). Bagian ini sungguh menyakitkan. Apabila dia masih memiliki nurani terhadap sesama perempuan, seperti yang aku rasa sekarang, layaknya dia tidak akan melakukan apa yang dia coba lakukan sekarang. Mungkin dia sudah skizo (sepertiku), entahlah, namun aku yakin, baik dia sadari maupun tidak, sebuah konflik terjadi dalam dirinya. Konflik itu akan terus terjadi selama dia tidak mau mendengarkan nuraninya. (Konflik selalu terjadi padaku dan aku selalu berusaha mendengarkan nuraniku; karena itulah aku tak akan melakukannya dengan pria yang telah berelasi, lagi). Oke, ini berlebihan. Aku tidak peduli padanya. Tidak untuk saat ini. Urusanku hanya denganmu.
Aku paham (dan ingat) betul bahwa relasi kita sendiri dimulai dengan diriku dalam posisi orang lain itu. Justru karena aku memahaminya, maka aku punya banyak alasan untuk merasa takut. Terserah kalau kau berpikir bahwa aku adalah kacang yang lupa pada kulitnya. Namun harus kau pahami bahwa kondisi relasi kita telah berevolusi dari sejak awal dimulainya. Kini semua tak lagi sama. Aku mengingat dan paham awal kejadian kita, namun aku juga paham bahwa semua kini telah berbeda. Kalau kau masih beranggapan bahwa diriku hanyalah orang lain, atau bahwa kau lebih membutuhkan dia daripada kau membutuhkanku, maka aku punya banyak alasan untuk merasa sedih. Apabila setelah segala kejadian, percakapan, proses dekonstruksi dan rekonstruksi makna yang kita jalani, kau masih beranggapan bahwa aku tidak memahami tempatku dalam relasi ini dan bahwa kau ternyata salah karena terlalu tinggi dalam menilai pikiranku, maka aku punya banyak alasan untuk merasa kecewa.

Silakan kalau kau memang menikmati waktu bersamanya. Silakan kalau kau memang lebih bisa menunjukkan afeksi kepadanya daripada kepadaku. Silakan kalau kau memang lebih suka bercerita padanya, bertukar pesan dengannya, meneleponnya, atau bahkan menemuinya; toh dia lebih dekat denganmu, secara jarak. Silakan kalau keberadaannya memang bisa mengurangi rasa sakit dan sepimu karena ketiadaanku, kalau dia bisa menggantikanku. Aku memahami kebutuhanmu. Silakan kalau memang kau menganggapnya signifikan bagimu. Aku paham kau bukan ahlinya dalam hal multitasking. Silakan kalau memang aku yang harus disisihkan. Aku memahaminya, hanya saja aku butuh waktu untuk sanggup menerimanya. Aku memahaminya, hanya saja kau tidak bisa memintaku untuk serta-merta menerima keadaan ini tanpa merasa takut, resah, gelisah, marah, atau sedih sama sekali. Dengan segala yang tengah terjadi dalam relasi kita, aku butuh waktu untuk sanggup menerima keadaan ini. Ajakanmu mengenai salah satu tujuan besar relasi kita, pembatalan sepihak atas ajakan tersebut, jarak yang memisahkan, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, tugas akhir yang harus diselesaikan demi sebuah gelar, dan sekarang ditambah lagi dengan munculnya seseorang dari antah berantah yang ingin masuk begitu saja dalam relasi kita. (Sungguh lancang sekali dia. Berani-beraninya...) Kepalaku rasanya mau pecah. Mungkin aku memang tidak layak untuk bahagia.

Lucu. Manusia punya banyak istilah untuk mengungkapkan kesedihan, namun hanya sedikit yang sanggup digunakan untuk mengungkapkan kebahagiaan.

Hah, sudahlah. Racauan ini sudah terlalu panjang.
Isi kepalaku adalah tempat yang menakutkan.

Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia. Kamu berhak atas itu. Kalau kau ingin aku menemuinya, aku akan menemuinya. (Meskipun sesungguhnya aku merasa berhak untuk diberi alasan yang komprehensif mengapa aku harus menemuinya. Ah, sudahlah. Tidak perlu alasan kalau memang tak ada.) Namun hanya sebatas itu saja; hanya sebuah pertemuan. Maaf aku tidak bisa berbuat lebih.

Dua bulan terakhir ini, sesungguhnya aku sangat depresi. Rasanya seperti aku hanya menjalani waktu sampai jantungku tak sanggup lagi bertahan. Namun jangan khawatir, aku akan tetap membantumu mewujudkan mimpi itu, karena sekali lagi, bagiku itu semua adalah soal kemanusiaan. Kita akan mewujudkannya. Aku akan bertahan hidup sampai saat itu.

Sesungguhnya aku tahu bahwa pada akhirnya kita ditakdirkan untuk bersama. Hanya saja terkadang aku tak sanggup mengendalikan amarahku. Maaf.
Aku tahu bahwa aku memiliki adiksi terhadap kesedihan. Dan aku juga tahu bahwa hanya dirimu yang sanggup memenuhi hasrat itu. Terima kasih, atas limpahan kesedihan yang kau beri.

Selebihnya, kau pun tahu; aku mencintaimu. Selalu. Walau dengan cara yang kadang tak kau pahami.

“If you want to love me, then, Darling, don’t refrain; or I just end up walking in the cold November rain.”



Sleman, 03082017, dinihariyangterlampaudingin

Share:

0 komentar