He's Just Not That Into You

A girl will never forget the first boy she likes. Even if things don’t quite work out. But usually someone is there to offer words of wisdom. And there it is. That’s the beginning of our problem. Do you know what this means? We’re all encouraged, no, programmed, to believe that if a guy acts like a total jerk that means he likes you. Why do we say this stuff to each other? Is it possible that it’s because we’re too scared and it’s too hard to say the one obvious truth that’s staring everyone in the face? He’s just not that into you.” –Gigi (He’s Just Not That Into You, 2009)

Alex: “Why do women do this? Why do they build up this stuff in their minds, take each little thing a guy does, and then twist it into something else? It’s insane.
Gigi: “I’d rather be like that than be like you. I may dissect each little thing and put myself out there too much but at least that means I still care. Oh, you think you’ve won because women are expendable to you? You may not get hurt or make an ass of yourself that way but you don’t fall in love that way either. You have not won. You’re alone. I may do a lot of stupid shits but I know I’m a lot closer to finding someone than you are.
(He’s Just Not That Into You, 2009)

A wise person once told me that if a guy wants to be with a girl, he will make it happen, no matter what.” –Gigi (He’s Just Not That Into You, 2009)

"He's Just Not That Into You" official poster - source: www.movieinsider.com

Judul               : He’s Just Not That Into You
Genre              : komedi romantis
Sutradara         : Ken Kwapis
Rilis                 : 6 Februari 2009
Durasi              : 129 menit
Distributor       : New Line Cinema
Pemain          : Ben Affleck, Jennifer Aniston, Drew Barrymore, Jennifer Connelly, Kevin Connolly, Bradley Cooper, Ginnifer Goodwin, Scarlett Johansson, Justin Long

People are wandering in this life. Sometimes they fall in love, some other times they fall out of love. Some people already find the one they’re looking for, while some are still searching for the one. Some couples work out, while some don’t and just scattered all over the place. In the end, it’s the journey that matters. Their efforts to read between the lines, their struggle to stand and fight for what they believe. Based on a motivational self-help book with the same title, “He’s Just Not That Into You” is a movie about finding what love is, about how to catch the sign, about how to differ who is really meant to stay. Set in Baltimore city, this movie depicts nine different people’s interconnecting story arcs deal with challenges of reading or misreading human behavior in terms of love relationship between man and woman.

"He's Just Not That Into You" official photo - source: movies.yahoo.com

Adalah Gigi (Ginnifer Goodwin), yang pada suatu malam menjalani kencan dengan Conor (Kevin Connolly). Meskipun itu adalah pertemuan pertama mereka, Gigi sangat antusias dan optimis terhadap keberlanjutan hubungan mereka. Di sisi lain, pikiran Conor sepenuhnya tertuju pada Anna (Scarlett Johansson), wanita yang selama ini menggantungkan perasaannya antara mau dan tidak mau. Pada malam yang sama Anna tidak sengaja bertemu dengan Ben (Bradley Cooper) di sebuah mini market dan saling tertarik satu sama lain, hanya untuk mengetahui bahwa Ben telah menikah dengan  Janine (Jennifer Connelly). Sementara itu, sahabat Ben, Neil (Ben Affleck), mendapat konfrontasi dari sang kekasih yang telah dipacarinya selama tujuh tahun, Beth (Jennifer Aniston), karena tak kunjung menikahinya, ketika adik bungsunya akan segera menikah dan ia akan menjadi satu-satunya wanita lajang di keluarga mereka.
Ketika ia merasa resah akan Conor yang tak kunjung menghubunginya paska kencan pertama mereka, Gigi pun sengaja bertandang ke bar yang kerap dikunjungi oleh Conor. Alih-alih Conor, di sana ia justru bertemu dengan manajer bar yang juga merupakan sahabat Conor, Alex (Justin Long). Gigi pun menerima saran-saran perkencanan dari pria itu, yang membuatnya justru mengira bahwa Alex menyukainya. Di sisi lain, Anna bertemu dengan sahabatnya, Mary (Drew Barrymore), yang gemar menjalin hubungan dengan pria melalui dunia maya. Setelah berbagi cerita dengan sahabatnya, Anna yang pada mulanya ragu pun mulai menghubungi Ben. Tergoda oleh rayuan, Ben pun berselingkuh dari Janine. Namun, alih-alih mencurigai perselingkuhan suaminya, pikiran Janine justru dipenuhi dugaan bahwa Ben telah melanggar janjinya untuk berhenti merokok. Sementara itu, Beth memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Neil dan pergi ke pernikahan adiknya seorang diri.
 “He’s Just Not That Into You” terbagi dalam empat babak yang masing-masing mengangkat suatu tema seiring dengan berlangsungnya jalan cerita. Yang pertama adalah “... if he’s not calling you.” Bagian ini berfokus pada Gigi yang selalu menunggu telepon dari Conor setelah pertemuan pertama mereka. Gigi, a woman who’s in a desperate waiting of love and romance, unfortunately meeting Conor, a man who’s blindly only having eyes and mind for this another woman called Anna. Terdapat perbedaan signifikan sebelum dan setelah Gigi bertemu dengan Alex. Sebelum bertemu Alex, Gigi selalu menceritakan seluruh keresahannya pada Janine, rekan sekantornya, yang hanya memberi perspektif melalui sudut pandang sesama wanita dan berakhir dengan kalimat, “Don’t worry, he’ll call.” Optimistic, but sadly, never happen. Setelah bertemu dengan Alex, perspektif Gigi mengenai hubungan pria dan wanita menjadi lebih luas. Setidaknya ia memperoleh insight dari sudut pandang pria, yang mana itu berarti, “Forget him. He’s never gonna call.” Pedih memang, namun Gigi dapat segera sadar dan mencoba peruntungannya dengan pria-pria lain hingga ia bertemu dengan satu yang tepat. Ini jauh lebih baik daripada terkungkung dalam ketidakpastian. Satu hal menarik, dan nyata adanya, adalah apa yang dikatakan Alex bahwa apabila seorang pria benar-benar tertarik pada seorang wanita, maka ia akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya. Habis perkara.
Yang kedua adalah “... if he’s not marrying you.” Bagian ini berfokus pada Neil yang tidak mau menikahi Beth, bahkan setelah mereka berpacaran selama tujuh tahun lamanya. Neil, a free mind man who’s been committed but unwilling to get married, met Beth, who’s just an ordinary woman like any other woman in the world who has a dream about getting married but doesn’t want to seem demanding. Satu hal menarik dalam bagian ini adalah, seorang pria memang pengecut apabila tidak menikahi wanita yang telah dipacarinya untuk waktu yang lama, namun lebih pengecut lagi adalah pria yang menikahi wanita ketika ia jelas-jelas tahu bahwa ia belum merasa siap untuk menikah, baik secara mental maupun material. Come on, you’re not marrying your long-time girlfriend because her ultimatum or thread. Because if she’s meant to you, if she truly loves and needs you, she would wait. Just like what Beth does. Pada akhirnya Beth sadar bahwa Neil jauh lebih baik dari suami manapun baginya. Bahwa pria itu berkomitmen padanya, bahwa pria itu lebih dari sekadar  suami baginya. Pada akhirnya pula, Neil melamar Beth karena ia sadar bahwa ia tidak ingin bersama orang lain selain Beth, bahwa ia ingin membuat wanita itu bahagia, dengan menikahinya.

"He's Just Not That Into You" official photo - source: movies.yahoo.com

Yang ketiga adalah “... if she’s not sleeping with you.” Bagian ini berfokus pada Anna yang tidak mau tidur bersama Conor (lagi). Well, I don’t think I can give any much comments for this part. But one thing is for sure, don’t let anyone taking you for granted just because you’re crazily head over heels falling in love for her/him. You gotta read between lines whether she/he is really into you. Because if she/he is, she/he will never take you for granted.
Yang terakhir adalah “... if he’s sleeping with someone else.” Bagian ini berfokus pada Ben yang menyelingkuhi Janine. This began with Anna, a beautiful yet stupid single woman who’s foolishly seducing a married man, believing that it’s true love. And then it was Ben, a married man who seemed to lose his way and mind. And there was Janine, a total control-freak wife who naively believed that her man won’t slip off her hand just because they’re already married. Satu hal menarik dalam bagian ini adalah, ketiga orang tersebut masing-masing berakhir seorang diri pada akhir film, yang mana merupakan salah satu hal yang paling saya sukai dalam film ini. If someone is into you, he/she won’t cheat on you or two-timing you no matter what, no excuses and no exceptions. This is what I love from this movie, that cheaters don’t have a happy ending yet because they still have to reflect on themselves. On the other hand, the victim of the cheaters, the one who’s been cheated, also has to reflect because there will be no smoke if there’s no fire.
Alex and Gigi couple is definitely my favorite in this movie. Alex, a man who’s thinking logically about relationship but feeling skeptically about love, meeting Gigi, a woman who’s so positive and optimistic about every man she meets. I don’t know but there’s something cute in the way the expert of relationship, Alex, finally realizing that he’s falling in love with Gigi, an ordinary woman who seems so ignorance about relationship in the beginning. Siapa yang menyangka bahwa Alex akan jatuh cinta kepada seorang wanita yang tak pernah ia duga akan cintai? Pria itu bahkan ‘bersikap’ seperti Gigi ketika ia akhirnya jatuh cinta.
Neil and Beth couple comes second to my favorite. I just love the way Neil shows up at Beth’s parent house when her father got a heart attack (and it happens after they break up). I love the way Beth gives up all her ego for just being together again with Neil. And what I love the most is the way Neil (finally) proposes Beth. Itulah inti sebuah relasi; mengalahkan ego diri sendiri demi kepentingan bersama. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu akan menghampiri mereka yang sanggup mengalah dan berlapang dada. Still to my favorite, Conor and Mary couple comes third. Conor, a good man who always has his heart and mind for one woman but was taken for granted, meeting Mary, a woman who used to totally believe (and deceived by) cyber relationship. Dan di sanalah mereka bertemu, pada saat yang (akhirnya) tepat, seorang pria dan wanita yang sama-sama menunggu asmara. Setelah saling mengenal karena urusan pekerjaan, dan hanya saling berkomunikasi melalui telepon sebagai rekanan kerja, akhirnya mereka saling bertatap muka. Dan ketika waktu yang tepat telah tiba, mereka bertemu sebagai belahan jiwa.

"He's Just Not That Into You" official photo - source: movies.yahoo.com

“He’s Just Not That Into You” diadaptasi dari sebuah buku motivasi diri yang berjudul sama karya Greg Behrendt dan Liz Tuccillo. Buku yang terinspirasi dari salah satu episode serial terkemuka di Amerika Serikat, “Sex and the City”, ini berisi tentang panduan relasi pria dan wanita, bagaimana mereka membaca ‘tanda-tanda’ yang muncul dari sikap dan perilaku pasangan mereka, serta bagaimana mereka dapat menghadapinya secara bijak. Itulah mengapa ketika diangkat ke dalam karya layar lebar, jalan cerita film ini tampak jauh lebih realistis dibandingkan film drama romantis lainnya, meskipun tanpa menghilangkan estetika plot sebuah film. Its multiplot system doesn’t disturbing at all, because the story goes smoothly from one character to another. Every character got an appropriate portion to tell their stories. And eventhough it has many long dialogues, it also isn’t a disturbance. Overall, it’s a sweet and smart movie. I’ve watched it for many times already and never got bored of it.

If a guy is treating you like he doesn’t give a shit, he genuinely doesn’t give a shit. No exceptions.” –Alex (He’s Just Not That Into You, 2009)

I’ve gotten so used to keeping myself at a safe distance from all these women and having the power, that I didn’t know what it felt like when I actually fell for one of them. I didn’t know.” –Alex (He’s Just Not That Into You, 2009)

Girls are taught a lot of stuff growing up: if a guy punches you, he likes you; never try to trim your own bangs; and someday you wil meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, every story we’re told, implores us to wait for it. The third act twist: the unexpected declaration of love; the exception to the rule. But sometimes we’re so focused on finding our happy ending, we don’t learn how to read the signs. How to tell the ones who want us from the ones who don’t. The ones who will stay from the ones who will leave. And maybe this happy ending doesn’t include a wonderful guy. Maybe it’s you, on your own, picking up the pieces and starting over. Freeing yourself up for something better in the future. Maybe the happy ending is just moving on. Or maybe the happy ending is this: knowing that through all the unreturned phone calls and broken hearts, through all the blunders and misread signals, through all of the pain and embarrassment, you never ever gave up hope.” –Gigi (He’s Just Not That Into You, 2009)


1 komentar

  1. Sinopsis .. review paling keren yang saya temuin di google search ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚…
    And yes i love this movie alot .. real banget ceritanya and i really don’t like Scarlet Johanson in this movie.