Love That's Gone

Now I’m going to let my heart long for her as much as it wants, just as I let the memories of her flow as much as they want.” –Lee Moon Sae, Old Love [translated lyrics]


Lee Moon Sae, solois pria legendaris Korea Selatan ini tampil sebagai legend dalam program acara musik “Immortal Songs 2: Singing the Legend”. Dua episode khusus menghadirkan pria yang telah melahirkan puluhan lagu hits ini, yaitu 98 dan 99. Dalam episode 99, Bada, mantan leader dari girl group generasi pertama idol, S.E.S, yang kini bersolo karir, tampil membawakan salah satu signature song Lee Moon Sae yang telah banyak di-remake oleh para juniornya. Lagu ini bertajuk “Old Love” dalam Bahasa Inggris, yang bermakna “cinta lama” atau “cinta di masa lalu”. Episode tersebut mengudara pada tanggal 4 Mei 2013 di stasiun televisi KBS, serta pada tanggal 25 Mei 2013 di channel KBS World. The first time I heard this song, I couldn’t help but felt something creeps up from deep within my heart. The first time I understand the meaning of its lyrics, I couldn’t help but being immersed in the emotion.
Well, there are just so many words to describe this song, but I would like to start with a statement that “Old Love” probably has the most poetic lyrics about the past love out of all Korean songs out there. The lyrics are just so beautiful, yet so painful. It portrays the art of longing and sadness deeply well. When we talk about reminiscing the past love, then “Old Love” is the best. Hearing it and understanding the meaning of its lyrics will bring us back in time and get immersed in our own past. Ada kalanya ketika kita menemukan diri kita terkungkung dalam kenangan atas cinta kita di masa lalu, terlepas dari kenyataan bahwa kita telah move on atau belum. Bahkan terkadang, bagi orang yang telah menjalani kehidupan yang bahagia bersama cinta yang baru pun ada kalanya ketika mereka teringat pada masa lalu mereka.

Bada ketika membawakan lagu "Old Love" pada program "Immortal Songs 2" Episode 99

Bukan berarti kita ingin kembali, atau mengharapkan cinta yang telah pergi itu untuk datang lagi, melainkan hanya kenangan atas kebersamaan yang sesaat menghampiri. Dan ketika itu tiba, kita hanya membiarkan diri kita untuk terhanyut sesaat di dalamnya, hingga ia pergi dan kita kembali pada kenyataan masa kini. Rasa rindu mendalam lah yang memanggil kenangan itu. Yang baik disadari maupun tidak, membuat kita berpikir ulang tentang masa lalu, penyesalan, amarah, kekecewaan, serta semua kesalahan yang pernah kita buat. Kita larut dalam ingatan sehingga datanglah air mata itu tanpa kita sadari. Dan di sana lah kita berdiri, tempat-tempat penuh kenangan yang pernah menjadi saksi akan hari-hari indah kita di masa dulu. Dan seiring musim yang berganti, kenangan itu akan selamanya ada di sana.
Dirilis pertama kali pada tahun 1991 sebagai bagian dari album ketujuh Lee Moon Sae, “Old Love” adalah salah satu peninggalan almarhum komposer Lee Young Hoon, partner abadi Lee Moon Sae dalam menciptakan lagu-lagu hits. Yes, “Old Love” was another masterpiece that Lee Moon Sae’s eternal music partner, Lee Young Hoon, left behind. Baik versi original maupun remake-nya, “Old Love” tidak dapat dibawakan tanpa nuansa ballad di dalamnya. We couldn’t help but remind to the memory of love because its lyrics, that’s why ballad is the most suitable formula for this sad and melancholic love song. Alunan gitar akustik lebih mendominasi dalam versi originalnya, sementara melodi denting piano terdengar lebih dominan dalam versi remake oleh Bada. Sayangnya, penampilan Bada pada waktu itu kurang maksimal karena ia tidak sanggup menahan emosinya sehingga banyak menangis. Ia terbawa emosi karena berpikir tentang almarhum ibunya ketika membawakan lagu itu. Indeed, whoever our old love is, this song has some power within that could make people get immersed in our own memories with it.

There are times when you get sick of love, when the loneliness of your heart is too much to bear. On green leaves when the snow melts in spring, the memory of my old love lasts forever.” –Lee Moon Sae, Old Love [translated lyrics]




“Namdeuldo moreuge seoseongida ureotji jinaon ildeuri gaseume samuchyeo
(I wondered around without anyone knowing as I shed my tears, because the past pierced my heart)
Teongbin haneulmit bulbitdeul kyeojyeogamyeon yetsarang geuireum akkyeo bulleobone
(As the lights light up under the empty sky, I carefully call out my old love’s name)
Chanbaram bureowa otgiseul yeomiuda huhoega tto hwaga nan nunmuli heureune
(As the cold wind blows against my clothes, the regret and the anger make tears flow down)
Nuga mureodo apeulgeot gatji andeon jinaon nae moseub modu geojitingeol
(I thought that I’d be fine even if someone asked, but perhaps that was all a lie)

Ije geuriun geoseun geuriundaero naemame dulgeoya
(Now I’m going to let my heart long for her as much as it wants)
Geudae saenggaknamyeon saenggaknandaero naebeoryeo dudeusi
(Just as I let the memories of her flow as much as they want)

Huinnuni naerimyeon deulpaneul seoseongida yetsarang saenggake geu gil chajagaji
(I wondered around the field when the white snow fell, then I went looking for that path at the thought of my old love)
Gwanghwamun geoli huinnune deophyeogago hayannun haneul nopi jakku ollagane
(As the streets of Gwanghwamun get covered in white snow, to the point the snow piles up to the sky)

Sarangirange jigyeoul ttaega itji naemame godoki neomu heulleoneomchyeo
(There are times when you get sick of love, when the loneliness of your heart is too much to bear)
Nunnokeun bomnal pureureun ipsae wie yetsarang geudae moseub yeongwon soke itne
(On green leaves when the snow melts in spring, the memory of my old love lasts forever)”

Share:

0 komentar