Eiffel, I'm In Love



Judul                : Eiffel… I’m In Love
Genre               : drama remaja
Sutradara         : Nasri Cheppy
Rilis                  : 21 November 2003
Durasi              : 135 menit
Distributor        : Soraya Intercine Films
Pemain             : Shandy Aulia, Samuel Rizal



Demam “Ada Apa dengan Cinta?” masih belum juga mereda di kalangan remaja Indonesia ketika setahun kemudian generasi yang sama disuguhi oleh sebuah tontonan baru. Rupanya pada waktu itu perfilman Indonesia memang tengah menggeliat bangun dari mati surinya. Adalah “Eiffel… I’m In Love”, film ini dirilis pada tahun 2003 dan merupakan film adaptasi novel pertama di era film Indonesia yang baru paska mati surinya. Film drama remaja ini diangkat dari sebuah novel best seller berjudul sama karya penulis muda pada waktu itu, Rachmania Arunita. Konon kabarnya, film ini berhasil menjaring tiga juta penonton di bioskop di seluruh Indonesia. Sebuah capaian angka yang fantastis pada masa itu, mungkin bahkan hingga kini, untuk sebuah film dengan genre drama.
Masih hangat di ingatan saya ketika film ini ditayangkan di bioskop (waktu itu saya masih berseragam putih-biru tua, those crazy old times), ratusan orang mulai dari remaja hingga dewasa berdesakan memenuhi bioskop satu-satunya di Yogyakarta untuk menonton film ini. Mengingat semua euphoria itu, wajar saja apabila tafsiran angka penonton “Eiffel… I’m In Love” selama penayangannya di bioskop menembus angka lebih dari tiga juta. Menilik kembali situasi pada saat itu, film ini memang fenomenal. Namun sama seperti kasus “Ada Apa dengan Cinta?”, film serupa rasa-rasanya tak akan sanggup menimbulkan sensasi dahsyat yang sama ketika itu dirilis pada saat ini. Bahkan menurut saya pribadi, apa yang terjadi pada “Eiffel… I’m In Love” justru lebih parah. Ketika menonton lagi film ini beberapa hari yang lalu saya sampai terpikir, ‘Gimana caranya dulu aku bisa sampai senang sekali sama film ini, ya?, yang kemudian membawa saya pada pertanyaan berikutnya: apa yang membuat film ini begitu digilai oleh remaja pada masanya?



Film ini adalah film adaptasi dari sebuah novel remaja best seller, yang terkenal dengan istilah teen-lit. Pada waktu itu, novel ini sangat hits dan dinilai sebagai best of the best-nya teen-lit di Indonesia. Dari jalan ceritanya sendiri, baik novelnya maupun filmnya, “Eiffel… I’m In Love” sangat fairytale, dalam kemasan yang modern tentunya. Tokoh utama, Tita (Shandy Aulia), digambarkan sebagai sosok remaja perempuan tanpa cacat. Ia cantik, berasal dari keluarga kaya raya dan orang tua yang harmonis, memiliki pacar yang tampan, selalu dikelilingi sahabat-sahabat yang setia, mempunyai kakak laki-laki yang ganteng dan sangat perhatian padanya. Apabila ada kekurangan dari diri Tita, yang kemudian menjadi faktor penentu krusial dalam jalan cerita ini, adalah bahwa ibunya yang sangat overprotective tidak mengizinkannya untuk ‘melihat’ dunia luar. Ia tidak diizinkan pergi bergaul ke mall seperti anak-anak seumurannya, bahkan tidak boleh ikut studi wisata ke Bali. Terlepas dari itu, hidupnya sempurna.
Mengapa saya katakan bahwa hidup seorang Tita adalah sempurna? Bagaimana tidak? Sosok Tita tidak pernah kekurangan cinta. Bahkan ketika ia putus dengan si pacar yang ternyata menyelingkuhinya, kegalauan Tita tidak berlangsung lama karena ia segera menemukan sosok pengganti si pacar yang jauh jauh jauh berjuta kali lebih baik. Ini kemudian membawa kita pada tokoh utama pria dalam cerita ini, yang sepertinya hanya sanggup kita temukan dalam kisah modern fairytale. Lelaki sempurna ini mewujud dalam sosok seorang Adit (Samuel Rizal), teman masa kecil Tita yang rupanya memendam rasa terhadap gadis itu sejak mereka kecil. Adit melakukan segala cara untuk mendapatkan hati Tita, literally, segala cara, termasuk bekerja sama dengan sahabat Tita, Uni, untuk membuat gadis itu cemburu dan menyadari bahwa ia juga menyukai Adit. Lebih dari itu, Adit mengelabui Tita dengan mengatakan bahwa kedua orang tua mereka telah menjodohkan mereka berdua untuk dinikahkan, sehingga mindset Tita dalam melihat Adit adalah sebagai calon suaminya.
Jalan cerita selanjutnya adalah yang kita semua sudah tahu. Tita jatuh cinta pada Adit, and they live happily ever after. Sangat fairytale, bukan? Namun, rupanya justru kisah yang too good to be true inilah yang menjadi faktor utama mengapa “Eiffel… I’m In Love” sanggup merebut perhatian seluruh remaja di Indonesia, terutama perempuan. Indeed, teenagers are so into fairytale. They tend to watch a beautiful story even though they do understand so well that it could never really happen in real life. Jalan cerita film ini sangat Tita-sentris. Namun, bukankah impian setiap remaja perempuan untuk menjadi pusat perhatian dari segalanya, untuk menjadi tokoh utama dalam kehidupannya? Naskah skenario film ini digarap sendiri oleh sang empunya cerita novel, Rachmania Arunita. Meskipun ia melakukan improvisasi atas cerita aslinya dalam novel, gaya penulisan skenarionya masih sangat ‘kenovel-novelan’. Bahkan terdapat beberapa dialog yang terdengar terlalu panjang sebagai bahasa tutur sehingga terkesan membosankan. Namun, penggunaan beberapa slapstick dalam skenario film ini sanggup memunculkan percikan-percikan humor yang dapat terbilang cerdas dan segar.
Pasangan tokoh utama, Shandy Aulia dan Samuel Rizal, dapat terbilang sebagai pendatang baru ketika mereka bermain dalam “Eiffel… I’m In Love”. Bagi Shandy, memerankan Tita bukan tantangan yang besar menurut saya. Ia hanya harus menjadi dirinya sendiri, dengan menambahkan kesan ‘lebih-manja-sampai-pada-titik-paling-menyebalkan’. Terbukti ketika melihat sosok Shandy dalam beberapa pemberitaan, gesture dan caranya bertutur sehari-hari rupanya memang tidak jauh dari karakter Tita. Usaha yang keras seharusnya datang dari Sammy, atlet basket yang beralih profesi menjadi aktor. Namun sayangnya, akting Sammy masih terlihat kaku dalam banyak adegan. Kejutan justru datang dari jajaran aktris dan aktor pendukung. Akting mereka terlihat natural, sehingga mampu menyelamatkan dua karakter utama.



Sebelum melihat versi filmnya, saya sendiri tidak pernah membaca versi novel dari “Eiffel… I’m In Love”. Namun terlepas dari bagaimana pun deskripsi yang dituangkan Rachmania dalam novel, saya rasa sang sutradara, Nasri Cheppy, sanggup memaknai novel tersebut dan memvisualisasikannya dengan apik. Ini yang kemudian membawa kepada satu faktor penentu lain dari keberhasilan film ini, yaitu visualisasi yang indah. Satu adegan paling menempel dalam benak saya, dan mungkin benak remaja perempuan lainnya pada masa itu, adalah ketika Tita memasuki kamar tidurnya di Paris, yang mana sebelumnya telah dihiasi oleh Adit dengan mawar-mawar putih. It was sooo beautiful! Nasri melakukan kerja yang luar biasa dalam mengatur setting dalam film ini supaya sesedap mungkin dipandang mata, dan usahanya berhasil. “Eiffel… I’m In Love” sangat cantik dan memanjakan mata secara visual.
Once again, it’s the power of Anto Hoed and Melly Goeslaw. Setelah super sukses dengan album soundtrack “Ada Apa dengan Cinta?”, pasangan duet musisi suami-istri ini kembali dipercaya untuk menggarap soundtrack “Eiffel… I’m In Love”. Pun terbukti, pilihan sang produser, Ram dan Sunil Soraya, sangatlah tepat. Sekali lagi, tidak ada satu pun lagu yang fail dalam album ini. Mulai dari title track yang dibawakan oleh Melly dengan menampilkan penyanyi pendatang baru Jimmo, “Pujaanku”, ballad R n’ B track “Bulan Kedua”, upbeat disco track “Tak Tahan Lagi”, hingga pop track “Bercintalah Denganku”. Kali ini Anto dan Melly lebih bereksplorasi dengan jenis musik yang mereka tampilkan, namun tetap tanpa meninggalkan ciri khas mereka, serta tentunya, lirik lagu yang mendukung jalan cerita.
Pada akhirnya, lagi-lagi, semua adalah soal timing. “Eiffel… I’m In Love” dirilis pada waktu yang tepat. Ketika film Indonesia tengah menggeliat bangun dari mati surinya. Ketika euphoria film dengan genre sejenis masih belum memudar. Ketika novel teen-lit tengah berada dalam masa keemasannya. Saking booming-nya film ini pada saat itu, pihak Soraya Intercine Films merilis versi extended dengan durasi mencapai 262 menit. Versi ini memuat adegan-adegan yang tadinya dihilangkan melalui proses editing. Tidak hanya itu, versi repackage dari album soundtrack film ini juga dirilis bersamaan dengan versi extended dari filmnya dengan menambahkan satu lagu baru berjudul “Dahsyat” serta beberapa versi remix dari lagu yang telah ada sebelumnya.



Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang diwujudkan oleh “Eiffel… I’m In Love” sebagai pelopor film adaptasi di Indonesia paska mati surinya perfilman negara ini pada dekade 90-an, film ini telah membukukan sebuah sejarah tersendiri dalam perjalanan film Indonesia. Sebuah rekor yang hingga saat ini masih belum dapat tertembus oleh film dengan genre drama remaja yang bermunculan bak kacang goreng setelah kesuksesan film ini. Terutama film-film adaptasi yang diangkat dari novel teen-lit. Bagaimana pun juga, film ini adalah untuk remaja, terutama perempuan, maka dari itu, saya sarankan bagi orang-orang di luar kategori tersebut, terutama wanita dewasa, sebaiknya tidak menonton lagi film ini. Mari kita biarkan kenangan indah tentang film ini mengendap dalam benak kita, jangan hancurkan dengan cara menonton film ini lagi di kemudian hari ketika kita telah beranjak dewasa.

Share:

0 komentar