Sunny



Life is ironic.” –Im Na Mi (Sunny, 2011)

Friends are for hard times.” –Im Na Mi (Sunny, 2011)

We’ll meet again. If you ignore us because your life is too good, we’ll go and punish you. If you hide because your life is suck, we’ll go and make it better. I don’t know who will die first among us, but until that day, no, even beyond that day, we, Sunny, will never break up.” –Ha Chun Hwa (Sunny, 2011)


Judul                : Sunny
Genre               : drama
Sutradara         : Kang Hyung Chul
Rilis                  : 4 Mei 2011
Durasi              : 124 menit
Distributor        : CJ Entertainment
Pemain             : Yoo Ho Jeong, Jin Hee Kyung, Shim Eun Kyung, Kang So Ra

People say that high school never ends, well not literally of course, but it’s the memories that last forever. Masa SMA bagi sebagian besar orang adalah masa-masa keemasan di mana mereka merajut cerita, cinta, dan persahabatan. Bagi mereka yang pernah, maupun sedang mengalaminya, bagaimana rasanya berkumpul dengan teman-teman sepermainan? Luar biasa, bukan? Bermain bersama, tertawa bersama, menangis bersama, belajar bersama, dan yang terpenting adalah, memahami hidup bersama. Melewatkan waktu bersama dengan kesadaran penuh bahwa masa-masa itu akan menjadi sebuah kenangan yang berharga di masa mendatang. Menikmati waktu-waktu kebersamaan tanpa beban, karena tahu bahwa ada orang-orang paling berarti di sisi mereka, orang-orang yang memberi makna dan harapan. Tidak peduli apa yang menyongsong di depan, selama mereka bersama, mereka menggenggam dunia dan dapat menghadapinya dengan kepala tegak. Masa-masa penuh kepolosan sekaligus keangkuhan. Sebuah film Korea Selatan berjudul “Sunny” memotret tentang masa-masa itu. Tentang arti tulus persahabatan, tentang kenangan, tentang kebersamaan, tentang makna kehidupan.



Kisah ini dimulai pada tahun 1980-an, ketika Im Na Mi remaja (Shim Eun Kyung), baru saja pindah ke sekolah barunya di Seoul. Pada hari pertama di sekolah barunya, Na Mi menjadi sasaran pem-bully-an, namun ia diselamatkan oleh Ha Chun Hwa (Kang So Ra). Chun Hwa adalah pemimpin dari sekelompok gadis yang berkumpul dan bermain bersama. Mereka adalah Kim Jang Mi (Kim Min Young) yang berbadan gempal dan terobsesi memiliki mata dengan double eyelids, Hwang Jin Hee (Park Jin Joo) yang hobi mengumpat serta berkata kasar nan jorok, Seo Geum Ok (Nam Bo Ra) yang berasal dari keluarga berada dan putri dari seorang dokter gigi, Ryu Bok Hee (Kim Bo Mi) yang hobi berdandan serta bercita-cita menjadi Miss Korea, dan terakhir adalah Jung Su Ji (Min Hyo Rin) yang merupakan gadis paling cantik di sekolah namun pendiam dan misterius. Ketujuh gadis itu kemudian menamai diri mereka Sunny. Mereka menghabiskan waktu bersama, melakukan segalanya pun bersama. Hingga pada suatu hari, sebuah tragedi memisahkan mereka.
Dua puluh lima tahun kemudian, Im Na Mi dewasa (Yoo Ho Jeong) telah menjadi seorang ibu rumah tangga dan menjalani rutinitasnya yang monoton, yaitu mengurus suami dan anaknya. Pada suatu hari ketika ia menengok ibunya di rumah sakit, tidak sengaja ia bertemu dengan Ha Chun Hwa (Jin Hee Kyung). Na Mi terkejut mendapati sahabat lamanya itu tengah menderita penyakit kanker stadium akhir. Dirinya divonis oleh dokter hanya sanggup bertahan sekitar dua bulan saja. Chun Hwa pun mengajukan sebuah permohonan kepada Na Mi, yaitu untuk mengumpulkan seluruh anggota Sunny lagi, karena ia ingin berkumpul bersama mereka untuk terakhir kalinya. Anggota pertama yang ditemukan Na Mi adalah Kim Jang Mi (Go Soo Hee), yang telah menjadi seorang pegawai asuransi. Mereka berdua akhirnya menyewa jasa pencarian orang untuk menemukan kembali anggota Sunny lainnya. Satu demi satu, akhirnya anggota Sunny ditemukan. Meskipun kondisi mereka tidak sama lagi seperti dulu, mereka menyadari bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tidak akan pernah berubah, tidak peduli berapa lama waktu yang telah berlalu.



Bukan film Korea Selatan namanya kalau tidak sanggup membuat penontonnya merasakan sensasi paradoks, yaitu tertawa terbahak-bahak dan menangis tersedu-sedu sekaligus. Bagaikan koin dengan dua sisinya, “Sunny” menyajikan tontonan yang sanggup menggugah dua sisi emosi terdalam manusia, yaitu kebahagian dan kesedihan. Film ini membingkai kisah persahabatan anak manusia dalam perjalanan hidup mereka. Sebagai sebuah film drama, “Sunny” menawarkan paket lengkap penggugah emosi, serta yang terpenting, kedekatan dengan realitas. Bagi kebanyakan orang, khususnya para wanita, menonton film ini akan melempar kita ke masa-masa suka dan duka yang pernah dilalui bersama para sahabat di sekolah. Kesombongan di masa muda yang indah, begitu kalau kata lirik lagu Sheila On 7. Berikut ini saya mencatat beberapa poin penting dari hasil perenungan atas film ini.
First of all, time changes, not everything, but some things do change as the time goes by. Waktu adalah variabel yang menakutkan dalam hidup. Waktu terus berjalan dan tak dapat diputar ulang. Manusia tidak dapat mengharapkan segala sesuatunya untuk selalu sama dan tak berubah. Indeed, life is filled with irony. Kondisi ketujuh sahabat dalam “Sunny” pun mengalami perubahan yang signifikan dalam rentang waktu 25 tahun mereka terpisah. Pribadi yang jauh lebih dewasa, keadaan yang tak sebebas dulu. Transformasi karakter dari remaja hingga dewasa dipaparkan dengan apik dalam film ini. Tokoh Im Na Mi yang dulu super cuek dan menyukai tantangan, kini memiliki kehidupan yang monoton sebagai ibu rumah tangga. Ia bahkan tidak mendapatkan respek yang diharapkan dari suami dan anaknya. Seo Geum Ok yang dulunya dibesarkan dalam keluarga serba berkecukupan, kini justru tidak memiliki apa-apa. Waktu merubah banyak hal, namun tidak semuanya, yang kemudian membawa saya pada poin kedua.
The second, even after many years have passed, some things aren’t meant to change at all. Beberapa hal tak lekang dimakan waktu. Salah satunya adalah kenangan. Salah duanya adalah watak. Terpisah sekian lama tak lantas membuat ketujuh sahabat dalam “Sunny” melupakan begitu saja kenangan tentang persahabatan mereka. Terlepas dari seluruh kenangan buruk, masa-masa itu adalah zaman keemasan mereka. Toh inti persahabatan tak hanya berbagi suka, melainkan juga duka. Transformasi karakter dalam film ini juga digambarkan dengan tidak meluruhkan watak asli para tokohnya. Basic character doesn’t change. Bahkan setelah dewasa, tokoh Kim Jang Mi masih memiliki pola pikir yang serupa dengan dirinya sewaktu masih remaja, baik secara sadar maupun tidak. Di samping itu, tokoh Hwang Jin Hee yang meskipun telah berusaha sekeras mungkin untuk menjadi sosok yang halus di hadapan sang suami, ketika ia bertemu dan berkumpul lagi dengan sahabat-sahabat lamanya, kebiasaannya untuk mengumpat tak sanggup ia elakkan. Tidak peduli berapa tua sudah umur seseorang, terkadang ketika mereka berkumpul lagi dengan sahabat mereka di masa muda, maka jiwanya akan kembali ke masa-masa itu.
The third, sometimes life doesn’t go the way that we expect to be, but as a human, we must live life to the fullest, enjoy every second of it, be grateful, and never give up to give out our best. Siapa yang menyangka para anggota Sunny akan berkumpul lagi karena leader mereka sekarat? Meeting your best friend after a long time, knowing that she’s dying, could you even imagine how it feels? Siapa yang mengira bahwa Ryu Bok Hee yang semasa remaja begitu terobsesi untuk menjadi Miss Korea, justru berakhir sebagai janda beranak satu yang bekerja di kedai minuman sederhana? Mungkin tidak perlu sejauh ke masa depan, coba lihat yang lebih dekat dulu saja. Tak ada satu pun anggota Sunny yang menyangka bahwa mereka akan berpisah dengan cara yang tragis. Seperti yang saya sempat singgung sebelumnya, hidup ini penuh dengan ironi-ironi yang memabukkan manusia.



The fourth, lovers may come and go, but best friends stay forever. That may be cliché, but that’s the way it is. Even though they’re not by our side, they remain in our heart. We may lose our feelings to lovers, but we can’t ever lose our feelings to our best friends. We may reject when lovers want to comeback, but we can’t ever say no when best friends call for us. One of the sole reasons is that best friends are not only for the good times, but also for the bad times. Especially for girls, they become closer through tears. Orang-orang mengatakan, ketika persahabatan lelaki terjalin melalui baku hantam, maka persahabatan perempuan terjalin melalui air mata. The moment when girls share their tears, that’s when their friendship becomes real. Jung Su Ji adalah satu-satunya anggota Sunny yang masih bersikap dingin kepada Im Na Mi bahkan ketika ia telah resmi menjadi bagian dari mereka. Namun mereka justru menjadi sangat dekat setelah menumpahkan isi hati dan ganjalan dalam pikiran mereka, terlebih lagi, setelah mereka menangis bersama.
The fifth, friendship is everyone’s greatest treasure, while love is their greatest journey, and family is their eternal home. Ada tiga adegan yang mungkin sederhana namun berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Pertama, tentang persahabatan, adalah adegan ketika para anggota Sunny berkelahi dengan geng perempuan dari sekolah lain. Siapa bilang tawuran hanya buat cowok? Girls are fighting too in their own way of course. Kedua, tentang keluarga, adalah adegan ketika Im Na Mi dewasa menjenguk sang ibu di rumah sakit. Sang ibu begitu senangnya hanya dibawakan tas tangan oleh putrinya, meskipun belum tentu ia sanggup menggunakan tas itu karena ia sedang sakit. Ini menyentak saya sekali lagi, bahwa di saat si anak sibuk tumbuh dewasa, terkadang mereka lupa bahwa di saat yang sama sang orang tua juga menjadi lebih tua. Ketiga, tentang cinta, adalah adegan ketika Im Na Mi dewasa mencari cinta pertamanya, hanya karena ia penasaran seperti apa dan bagaimana cinta pertamanya itu kini menjadi. Terkadang seseorang mencari lagi cinta pertamanya bukan karena ia ingin kembali, namun hanya sekadar menamatkan rasa penasaran yang tersisa.
Last but not least, the movie’s plot is going back and forth in an interesting way. Menonton film ini tidak akan membuat para penontonnya merasa pusing dengan alur maju-mundur yang digunakan oleh sang sutradara. Justru, alur maju-mundur ini berhasil diolah secara apik sehingga menjadi kekuatan dari film ini. Usually flashbacks describe the past in a distinct manner, but this movie presents the past and present in a fluid narrative flow. Sang sutradara sendiri menyatakan bahwa, “I prefer criss-crossing between time rather than just a flashback.” Perpindahan time-frame dalam film ini menunjukkan konjungsi antara keputusan-keputusan yang diambil oleh para karakter ini pada masa lalu dan masa sekarang. Melalui alur tersebut, terlihat hubungan sebab-akibat atas keputusan-keputusan yang mereka ambil.


Lahir dari tangan dingin sutradara bertalenta, Kang Hyung Chul, “Sunny” menjadi box office hits pada tahun perilisannya dan menempatkan sang sutradara menjadi one of the highest grossing directors in South Korea, setelah film pertamanya, “Speed Scandal” alias “Scandal Makers” juga menjadi hits. “Sunny” juga melambungkan nama jajaran para pemerannya, terutama para aktris muda yang menghidupkan ketujuh karakter anggota Sunny versi remaja dengan sangat apik. Film ini meraih penghargaan dalam ajang bergengsi 48th Daejong Film Awards untuk kategori Best Director dan Best Editing. Best Director juga berhasil diraih Kang Hyung Chul atas film ini dalam ajang 2011 KOFRA Film Awards Ceremony. Aktris Kang So Ra pun memeroleh penghargaan dalam ajang 48th Paeksang Arts Awards sebagai Most Popular Actress berkat perannya sebagai Ha Chun Hwa versi remaja. Selain itu, “Sunny” juga menembus berbagai festival film internasional seperti Busan International Film Festival, Mumbai Film Festival, Shanghai International Film Festival, dan lain sebagainya. What more can I say about “Sunny”? Indeed, this movie has everything. It has so many to tell. And of course, this movie is very highly recommended. “Sunny” will leave a deep impression in everyone who watches it. It’s surely very worth to watch.

Share:

0 komentar