Fiction

Like this again. I can’t forget you. I am writing the story that will never end in my heart. I will hold onto you. I won’t let you go. Even today, I’m in the story of you and me that hasn’t ended still, in fiction.” –Beast, Fiction (translation lyrics)



Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat berarti baginya, mereka memiliki caranya masing-masing sebagai sebuah bentuk penguatan diri. Salah satunya adalah dengan menciptakan sebuah cerita fiksi yang berlawanan dengan kenyataan yang terjadi. Kira-kira itulah inspirasi dari sebuah lagu yang berjudul “Fiction”. Somehow, someway, this song has just gotten so much into me.

I deeply in love with this song since the first time I hear it. Pertama kali aku mendengar lagu ini adalah ketika boyband Korea, B2ST alias Beast tampil membawakan lagu ini dalam perhelatan akbar M-Net Asian Music Awards (atau disingkat dengan istilah MAMA) 2011 di Singapura. Waktu itu, lagu ini dibawakan dengan aransemen yang berbeda dari versi aslinya, yaitu versi orkestra yang slow. Namun ketika lagu sampai pada pertengahan, lagu ini kembali pada tempo versi asalnya yang up beat. Setelah itu, saya mendengarkan versi asli dari lagu ini, yang semakin membuat saya menyukai lagu ini.

“Fiction” adalah lagu andalan Beast yang terdapat dalam studio album pertama mereka yang bertajuk “Fiction and Fact”, setelah sebelumnya Beast meluncurkan beberapa mini album. Lagu ini mereka tampilkan dalam comeback stage di program acara musik Korea, seperti Music Bank, Music Core, M! Countdown dan Inkigayo pada pertengahan tahun 2011 kemarin. Mendengar lagu ini, bagi mereka yang tidak paham Bahasa Korea (seperti saya) juga pasti tahu dan dapat merasakan bahwa lagu ini memiliki makna yang sedih, alias merupakan lagu galau. Itu terdengar dari melodi dan vokal dalam lagu ini. Lirik lagu ini, setelah saya berhasil mendapatkan translasi Bahasa Inggris-nya, ternyata memiliki makna yang tak kalah galau dari lagu-lagunya Mbak Adele, the Queen of galau. Bahkan bagian rap dari lagu ini pun ternyata memiliki makna yang sangat galau.

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang belum sanggup lepas dari bayang-bayang masa lalunya, sehingga ia menciptakan sebuah fiksi dan hidup di dalamnya untuk ‘lari’ dari kenyataan bahwa ia telah berpisah dengan orang yang dicintainya. “I still can’t forget you. I still can’t believe everything. Even today I can’t send you away like this.” Karena perasaannya yang terlalu dalam kepada orang yang dicintainya, orang itu tidak sanggup melupakannya. Ia bahkan tidak sanggup percaya pada kenyataan, sehingga tak mampu melepaskan orang yang dicintainya dari hati dan pikirannya. Untuk itu, ia menulis sebuah kisah fiksi yang di dalamnya menceritakan tentang ia dan orang yang dicintainya. “I’m the writer who lost his purpose. The end of this novel, how am I supposed to write it?” Ketika ia telah memulai kisah fiksinya, kemudian ia tidak tahu bagaimana untuk mengakhiri cerita tersebut. Karena dalam kisah nyata, kisah itu tidak berakhir bahagia, dan itulah yang tidak diinginkan oleh si penulis. Sementara, ia tidak memiliki kekuatan untuk mengakhiri cerita tersebut, karena memang perasaannya kepada orang dicintainya belum sepenuhnya usai. Lagi-lagi unfinished business dan unfinished feeling. Inilah yang membuatnya tidak sanggup menamatkan kisah fiksi yang telah ditulisnya.

Tak jarang seorang penulis menghasilkan karya-karya yang terinspirasi langsung dari pengalaman pribadi mereka. Bukan berarti ingin mengumbar kisah pribadi atau kegalauan diri, melainkan itu adalah cara-cara mereka untuk mencari aktualisasi diri. Namun terkadang orang lain sering menyalahartikan hal tersebut sebagai sebuah bentuk pengumbaran kisah pribadi kepada khalayak ramai. Padahal, semua orang memiliki caranya masing-masing untuk menyalurkan keresahan hati mereka, dan menulis merupakan salah satu cara yang dirasa nyaman oleh beberapa orang. Ketika tulisan tersebut telah keluar dalam bentuk artikel, puisi, cerita fiksi, maupun lirik lagu, maka itu sudah dapat dikatakan sebagai sebuah karya, bukan semata pengumbaran kisah pribadi. Sayangnya, di lingkungan masyarakat saya tidak semua orang se-open minded itu untuk menerima hal tersebut. Mungkin karena tingkat literasi media yang masih tergolong rendah. Saya harap ke depannya orang-orang dapat lebih terbuka dalam menyikapi hal seperti ini. Toh buktinya tidak selamanya galau itu berujung pada hal negatif. Kegalauan juga dapat produktif dan menghasilkan sesuatu yang indah untuk dinikmati. Contohnya saja lagu “Fiction” milik Beast ini.

Kelebihan dari lagu-lagu galau Korea adalah kebanyakan lagu tersebut dikemas dalam tempo up beat yang enak didengar sekaligus dapat membuat badan para pendengarnya ikut bergoyang, termasuk lagu “Fiction” ini. Tarian khas dari lagu ini adalah gerakan kaki pada bagian reff-nya, yang meskipun sepertinya terlihat gampang, ternyata sangat susah untuk diikuti. Saya selalu suka Beast dalam setiap penampilan live mereka di panggung ketika membawakan lagu ini. Rapper utama mereka, Yong Junhyung, memiliki suara rap yang khas dan sedikit sengau, sangat enak untuk didengar. Apalagi vokalis utama mereka, Yang Yoseob, yang menyanyi di bagian reff, suaranya sangat merdu. Namun saya paling menyukai bagian yang dinyanyikan oleh sang leader, Yoon Doojoon di bagian paling awal lagu dan sebelum reff terakhir. Suaranya terdengar dalam dan sendu.



Video klip dari lagu “Fiction” dibuat dengan sangat apik dengan makna yang tak kalah dalam dari lagunya itu sendiri. Aktris cantik Park Bo Young tampil sebagai model dalam video klip ini. Ia berperan sebagai kekasih dari Yong Junhyung yang telah lama berpisah. Dalam video ini, diceritakan sang pria menulis kisah fiksi dalam buku di sebuah perpustakaan. Ketika merasa putus asa dalam menulis kisahnya, ia pun pergi untuk menyusul sang gadis. Namun ternyata gadis itu justru pergi ke perpustakaan tempat buku tersebut berada. Sehingga pada akhirnya mereka berdua tidak bertemu. Sungguh tragis. Akting yang ditampilkan Bo Young dan Junhyung dalam video ini sangat total. Ekspresi sedih yang mereka tampilkan sangat natural dan benar-benar menggambarkan dengan baik ‘rasa’ dari lagu “Fiction” ini. All packages, this song is great!




Right now I’m writing such a happy story. But it’s all still just a wish.” –Beast, Fiction (translation lyrics)


* Ditulis sambil mendengarkan lagu “Fiction” oleh Beast. Terima kasih kepada Hanindya Ramadhani alias Mbak Anien, seorang B2UTY sejati yang mengenalkan saya pada lagu-lagu Beast.

* Kutipan lirik lagu “Fiction” oleh Beast. Lirik lagu berupa romanisasi (pengucapan secara latin dari Bahasa Hangul Korea) beserta dengan translasi ke dalam Bahasa Inggris.

“Ajik nan neol itji motdago
(I still can’t forget you)
Modeungeol da mitji motdago
(I still can’t believe everything)
Ireoke neol bonaeji motdago oneuldo
(Even today I can’t send you away like this)

Dasi mandeurobolge uri iyagi kkeutnaji anke aju ginagin
(I will rewrite it again, our story will not end)
Salgacheul pago seumyeodeuneun sangsilgameun jamsi modeudulge
(I will bury the fact that reality is seeping into my skin now)
Saero sseo naeryeoga sijageun haengbokhage utgo inneun noewa na
(I rewrite it once again, the start beginning with you an I smiling happily)
Nega nal tteonaji motdage baegyeongeun chulguga eomneun jobeun bang an
(In case you will leave me, the background is a small room without an exit)

Amureochi anke nege kiseuhago
(I kiss you as if there’s nothing wrong)
Dalkomhan neoui gyeoteul tteonagajil motae
(I can’t leave your sweet presence)
Urin kkeuchiraneungeon eobseo
(There is no such thing as an end for us)

Ireoke nan tto (fiction, in fiction)
(Like this again (fiction, in fiction))
Itji motdago (fiction, in fiction)
(I can’t forget you (fiction, in fiction))
Nae gaseum soge kkeutnaji anheul iyagil sseugo isseo
(I’m writing the story that will never end in my heart)
Neol butjabeulge (fiction, in fiction)
(I will hold onto you (fiction, in fiction))
Nochi anheulge (fiction, in fiction)
(I won’t let you go (fiction, in fiction))
Kkeutnaji anheun neowa naui iyagi sogeseo oneuldo in fiction
(Even today, I’m in the story of you and me that hasn’t ended still, in fiction)

Jigeum yeogin haengbokhan iyagildeulbakke eobseo
(Right now, there are only happy stories here)
Neomu haengbokhan uri dulmanui iyagiga ireoke (hyeonsilgwaneun dareuge)
(The happy story of just the two of us (different from reality))
Sseo isseo jeomjeom chaewojigo isseo
(Is written here, it’s slowly filling up)

Neoneun naegero dallyeowaseo angigo
(I run towards you and embrace you)
Pum ane angin neoreul naneun jeoldae nochi motae
(I can’t ever let you go from my embrace)
Urin kkeuchiraneungeon eobseo
(There is no such thing as and end for us)

Dasi han beon deo malhajiman
(I will say this again one more time)
Jigeum neoneun nae yeope itdago geureoke mitgo isseo nan
(Right now you are next to me, I believe like that)

Nan mokjeogeul irheobeorin jakga I soseorui
(I’m the writer who lost his purpose)
Kketeun eotteoke mamuri jieoya hae
(The end of this novel, how am I supposed to write it?)
Saranghae saranghae saranghae saranghae saranghae i se geuljaman
(I love you, I love you, I love you, I keep writing these three words)
Sseo naeryeoga mudyeojin pen nunmullo eollukjin nalgeun jongi wiro
(Setting the warn out pen on the old paper strained in tears)
Haengbokhal sudo seulpeul sudo eobseo i iyagineun
(This story can’t be happy or sad)

Jigeum nan neomunado haengbokhan
(Right now I’m still writing)
Saenggage iyagireul sseujiman
(Such a happy story of us)
Modeunge baramil ppunirago yeohjeonhi
(But it is all just still a wish)

Nan haengbokhangeol (fiction, in fiction, in fiction)
(I’m happy (fiction, in fiction, in fiction))
Uri hamkkeingeol (fiction, in fiction, in fiction)
(We are together (fiction, in fiction, in fiction))
Ije sijagingeol (fiction, in fiction, in fiction)
(Now is the start (fiction, in fiction, in fiction))
Kketeun eomneungeol (fiction, in fiction, in fiction)
(There is no end (fiction, in fiction, in fiction))”

Share:

2 komentar