The Forbidden Kingdom


If one does not attach himself to people and desires, never shall his heart be broken. But then, does he ever truly live? I'd rather die a mortal, with a care for someone, than to live as an immortal free from his death.” –Lu Yan (The Forbidden Kingdom, 2008)

Two tigers cannot live on the same mountain.” –Lu Yan (The Forbidden Kingdom, 2008)

Learn the form, but seek the formless. Hear the soundless. Learn it all, then forget it all. Learn the way, then find your own way.” –The Silent Monk (The Forbidden Kingdom, 2008)


Apa jadinya, jika kisah legendaris si Kera Sakti alias Sun Go Kong, diangkat ke layar lebar dengan duo master martial arts Jackie Chan dan Jet Li di dalamnya? Fantastis bukan? Itulah yang coba dilakukan oleh Rob Minkoff dan John Fusco dalam film mereka yang dirilis pada tahun 2008 berjudul “The Forbidden Kingdom”. Ini adalah film Hollywood pertama yang mempertemukan dua orang master bela diri sepanjang sejarah film dunia, yaitu Jackie Chan dan Jet Li.
Berawal dari perbincangan ringan di kantin kampus pada Senin sore bersama ketiga teman saya, Dangan, Aswin, dan Arie, akhirnya saya tertarik untuk menonton film ini. Saya selalu menyukai segala yang berbau legenda dan cerita rakyat. Apalagi yang menyangkut dewa-dewi, seperti kisah peradaban Yunani dan Romawi kuno, serta Cina kuno. Legenda tentang Raja Kera Sun Go Kong adalah salah satu favorit saya. Maka dari itu ketika ketiga teman saya menceritakan tentang film ini, saya langsung tertarik untuk menontonnya.
Terinspirasi dari kisah terkenal dalam legenda Cina kuno, “A Journey to the West”, film ini diadaptasi dari cerita tersebut dan mengambil setting pada waktu sebelum Sun Go Kong berangkat ke Barat untuk mengawal Biksu Tong. Cerita ini dibalut dengan bingkai cerita zaman sekarang, dimana seorang bocah Amerika bernama Jason terlempar ke masa lampau untuk mengembalikan senjata Sun Go Kong guna membangkitkannya dari kutukan Panglima Giok yang jahat.
Sun Go Kong yang dikisahkan lahir dari batu, dengan segala kesaktian, sifat nakal dan jahilnya ia menghadiri perjamuan para dewa-dewi khayangan. Raja dan Ratu Giok terkesima pada kemampuan Sun Go Kong, mereka menyuruh Panglima Giok untuk memberi Go Kong gelar sebelum mereka pergi untuk bertapa selama 500 tahun. Namun setelah Raja dan Ratu pergi, Panglima berkhianat. Ia mengambil toya sakti, senjata Go Kong, dan mengutuknya menjadi batu. Sebelum dikutuk, Go Kong sempat melempart senjatanya ke dunia fana, menunggu hingga orang yang tepat datang untuk mengantarnya kembali.
Akhirnya, pada abad 21, toya sakti itu ditemukan oleh Jason, bocah yang selalu di-bully oleh-oleh teman-teman sekolahnya, di sebuah toko barang antik di pecinan. Terlemparlah Jason ke masa lampau dan dimulailah perjalanannya untuk mengantar toya sakti kembali pada pemiliknya yang terjebak menjadi batu di Gunung Lima Unsur. Dalam perjalanannya, Jason ditemani oleh Lu Yan si dewa mabuk, si Burung Pipit yang cantik, dan si Biksu yang pendiam.
Apakah pada akhirnya Jason mampu menunaikan tugasnya dengan baik? Apakah ia dapat membangkitkan Sun Go Kong? Apakah ia mampu kembali ke zaman asalnya? Tonton saja film berdurasi 104 menit ini. Dijamin Anda akan disuguhkan adegan-adegan martial arts yang hebat dari duo Jackie Chan dan Jet Li. Berikut ini komentar Jackie Chan mengenai pertemuannya dengan Jet Li dalam satu film, dikutip dari Wikipedia.
“I have not worked with someone whom I’m comfortable with, in terms of movements, rhythm and natural reactions, in the last 10 years. I have done many fight scenes with others but there were usually more than 10 takes, which is a waste of time as the person may forget his moves and unnecessary injuries. When I fought with Jet, our actions were quick. We also didn’t have to do the same stunt over 20 times.”
Selain duet master film bela diri, film ini juga menampilkan aktor muda Michael Angarano sebagai Jason. Ini merupakan film comeback-nya pada tahun 2008, setelah sebelumnya ia bermain dalam film “Snow Angels” dan “Black Irish”. Yang jelas, jika Anda penggemar film-film martial arts khas Mandarin, cerita yang segar dengan jalan cerita yang ringan khas Hollywood, beserta latar belakang legenda-legenda kuno, maka film ini cocok untuk Anda tonton di waktu senggang.
 

And as one legendary journey ended, so did another journey begin.” –Lu Yan (The Forbidden Kingdom, 2008)

Share:

0 komentar