Tentang Relasi Jarak Jauh: Seminggu Pertama

Saturday, June 10, 2017



source: pinterest.com

Sudah seminggu kita menjalani relasi jarak jauh ini. Berat, ya? Bagiku sangat berat. Waktu terasa lambat dan membunuh. Ketiadaan dirimu di sekitarku menimbulkan hampa yang teramat menyiksa. Seminggu pertama ini kulewati dengan sangat kurangnya tidur dan makan, serta sangat banyaknya menangis dan menyendiri, bahkan terjatuh dari motor akibat tidak berkonsentrasi di jalan. Aku yakin ini semua juga berat bagimu. Terlebih lagi, tekanan psikologis yang harus kau hadapi di sana dengan keluarga dan pekerjaan. Untuk itu, aku tidak ingin berbicara lebih jauh tentang detail penderitaan yang ku alami di sini. Satu hal yang pasti, kita berdua sedang sama-sama berada dalam masa transisi. Stress? Wajar. Kita hanya belum terbiasa. Depresi? Wajar. Kita hanya sedang menyesuaikan diri; layaknya makhluk hidup, kita masing-masing sedang beradaptasi dengan lingkungan yang asing dan benar-benar baru. Sama, walaupun dengan tataran yang berbeda.
Jika ada yang pantas disebut sebagai malaikat penyelamat dalam kasusku adalah Eric Weiner, sang penulis “The Geography of Bliss” dan “The Geography of Genius”. Berkat dia, aku terinspirasi. Apabila kita merasa tidak bahagia, maka carilah orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang tidak bahagia, lalu bicara dengan mereka, maka sedikit banyak kita akan tahu apa itu kebahagiaan. Dan walaupun hal itu tidak lantas begitu saja membuat kita bahagia, setidaknya kita telah memasuki tahap awal untuk merasa bahagia, yaitu menerima keadaan atas apa adanya diri kita. Ya, ujungnya adalah bersyukur; hal sederhana yang sayangnya sangat sulit bagi kita berdua.
Dengan susah payah aku pun mulai berbenah. Belum sepenuhnya, memang, tapi paling tidak, selama dua hari terakhir ini aku berhasil keluar dari sarangku. Lumayan, ada kemajuan. Aku sadar aku bukan orang yang mudah terbuka untuk menceritakan kisah pribadiku terhadap orang lain, bahkan kepada sahabatku sendiri yang telah kukenal sangat dekat. Oleh karena itu, aku mengikuti jejak Eric Weiner; aku akan menemui orang-orang yang sedang menjalin relasi jarak jauh. Mengapa sedang? Apabila aku bicara dengan yang telah atau sudah pernah mengalami relasi jarak jauh sekarang, maka konteksnya tidak akan sesuai. Mereka yang relasi jarak jauhnya berakhir dengan putus akan berapi-api untuk menciutkan hatiku yang memang sudah kecil ini. Sedangkan mereka yang relasi jarak jauhnya berakhir dengan bahagia (dan kini telah berjarak dekat) akan melambungkanku dalam angan yang berujung pada delusi. Tidak, aku tak butuh keduanya. Aku membutuhkan sesuatu yang nyata; riil untuk ditelaah dan diambil intisarinya.
Hari ini aku bertemu dan bicara dengan dua orang teman yang keduanya menjalin relasi jarak jauh dengan kekasih mereka masing-masing. Dari keduanya aku belajar banyak. Dan yang jelas, aku belajar tahap pertama dalam menjalani relasi jarak jauh: penerimaan (acceptance).
Adalah Yosep, akrab dipanggil Ocep. Kau pun mengenalnya. Faktanya, justru dirimulah yang mengenalkan aku lebih akrab dengan sosok Ocep ini. Dia telah menjalin relasi jarak jauh dengan kekasihnya, Melo (yang kau juga kenal), selama lima bulan. Selama lima bulan itu pula, mereka berdua belum bertemu lagi. Dan mereka juga belum tahu kapan akan sanggup bertemu lagi. Ocep di Yogyakarta, sedangkan Melo nun jauhnya di Dumai; yang mana untuk ke sana memakan satu kali perjalanan pesawat serta berjam-jam perjalanan darat. Kendala untuk bertemu adalah biaya perjalanan yang begitu tinggi yang tidak sebanding dengan kemampuan finansial Ocep. Seperti yang kita berdua tahu, ia belum baru saja lulus dan belum bekerja.
Orang kedua adalah Hasnun. Ia sahabatku sejak SMP dan sudah pula kukenalkan padamu. Ia dan kekasihnya, Yopi, telah menjalin relasi jarak jauh selama satu setengah tahun. Dalam jangka waktu satu setengah tahun tersebut, mereka hanya bertemu satu kali, yaitu ketika Yopi datang ke Yogyakarta selama tiga minggu. Hasnun di Yogyakarta, sedangkan Yopi tengah menuntut ilmu di Jerman; yang mana untuk ke sana menghabiskan berjam-jam perjalanan pesawat. Kendala untuk bertemu, tentu saja selain tiket pesawat Indonesia-Jerman yang sangat mahal, juga jadwal yang tidak memungkinkan karena pekerjaan Hasnun di sini dan kuliah Yopi di sana.
Ketika aku bertanya pada mereka, “Bagaimana kalian berkomunikasi?” Baik Ocep maupun Hasnun memberikan jawaban yang berbeda, namun dengan satu persamaan: harus ada komunikasi dalam setiap harinya, paling tidak, jangan sampai hilang. Perbedaannya terletak pada cara. Ocep lebih memilih untuk berkomunikasi melalui pesan teks. Baginya, pesan suara atau video justru semakin membuat rasa rindunya tak tertahankan. Sementara bagi Hasnun, yang mengaku sebagai pribadi yang pencemburu dan agak posesif, komunikasi tidak boleh terhenti. Pesan teks wajib hukumnya. Keduanya pun harus meluangkan waktu untuk pesan suara dan video. Pada tataran ini aku merasa kita tidak memiliki masalah dalam berkomunikasi. Seharusnya wajar, karena kita berdua sama-sama meraih gelar sarjana setelah bertahun-tahun belajar Ilmu Komunikasi. Pada titik ini aku harus berterima kasih padamu untuk bersedia menjaga komunikasi itu denganku. Seperti katamu beberapa hari lalu, “Justru dengan berbagi hal-hal kecil lah yang membuat relasi ini berarti.”
Aku pun langsung menanyakan satu hal yang menjadi kegelisahan utamaku, “Bagaimana rasanya? Apakah berat?” Keduanya sepakat bahwa tentu saja rasanya berat (dan mereka menatapku seolah aku menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya). Namun aku belum puas dengan jawaban itu. Aku butuh elaborasi. Kata Ocep, satu bulan pertama pasti berat, apalagi ketika sebelumnya kita dan kekasih terbiasa bersama setiap hari sebelum akhirnya terpisah jarak begitu jauh. Itulah yang dirasakan Ocep. Jawaban itu memuaskanku, karena aku memiliki konteks yang sama; kita memiliki konteks yang sama. Kita terbiasa bersama setiap hari. Aku terbiasa bersamamu setiap hari. Aku terbiasa dengan keberadaanmu di sekitarku setiap saat. Ini semua hanya soal kebiasaan. Dan hal ini diamini oleh Hasnun. Ya, hanya soal kebiasaan. Dan menurut Hasnun, setiap waktu adalah fase tersendiri dengan kadar ‘berat’ tersendiri. Dan bagi sebuah relasi jarak jauh, kadar ‘berat’ itulah yang akan mendewasakan dan memberi arti bagi relasi itu sendiri. Ya, aku setuju dengan itu. We will grow through this.
Kemudian aku bertanya mengenai rindu. “Bagaimana menghadapi rasa rindu?” Keduanya (karena memiliki konteks yang sama dalam hal tidak mudah untuk mengunjungi kekasih mereka), menjawab bahwa rindu tidak dihadapi, melainkan dibiasakan. Lagi-lagi ternyata soal kebiasaan. Keduanya pun sepakat bahwa aku berada dalam posisi yang jauh lebih beruntung karena Yogyakarta dan Mojokerto masih berada dalam satu pulau dan dapat dijangkau dengan satu kali perjalanan menggunakan kereta api, dengan harga tiket yang terjangkau pula. “Kalau kamu kangen, kan tinggal naik kereta lima jam saja,” ujar Ocep. Pada titik ini aku tersadar, ya, aku masih tergolong dalam orang-orang yang beruntung. Dan seharusnya aku bersyukur atas itu. Aku mengakhiri percakapan dengan perasaan lega; meminjam istilahmu, lega yang menyesakkan. Lega, karena sedikit banyak aku menemukan jawaban atas keresahanku sehingga aku sanggup memasuki tahap penerimaan atas kondisi yang baru dalam relasi ini. Sesak, karena aku harus segera membagi ini semua denganmu.
Mendengar suaramu malam ini sungguh menyesakkan. Aku tahu kau merindukanku, teramat sangat sehingga kau memilih untuk mengakhiri sambungan telepon itu begitu cepat. Ya, aku teringat ujaran Ocep mengenai pesan suara. Ini baru seminggu, dan dirimu seperti telah sampai dalam batas tekanan; seperti yang selalu aku takutkan sejak hari pertama kau pergi. Ya, itulah alasan mengapa aku mengurung diri dalam kemurungan selama beberapa hari pertama setelah kau pergi. Aku tenggelam, atau lebih tepatnya ‘sengaja menenggelamkan diri’, dalam ketakutanku sendiri. Aku rasa dirimu sedang berada pada tataran yang sama. Pada titik ini, aku harus menyebutkan satu malaikat lain yang menarikku keluar dari lubang kubur yang aku gali sendiri: Dian Arymami, alias Monic. Ya, kau sangat kenal sosok satu ini.
Aku memang tak sepandai Monic dalam meyakinkan orang lain, namun aku sangat ingin meyakinkanmu (seperti yang telah dia lakukan padaku), bahwa kita harus berhenti mencampur-adukkan antara masalah yang ‘nyata’ dan yang ‘tidak nyata’. Segala yang ada dalam kepala kita tidak nyata. Ketakutan itu tidak nyata. Ia bisa menjadi nyata karena kita terus memikirkannya. Maka dari itu, berhentilah memikirkannya. Tidak ada masalah yang berarti dalam relasi kita; kita hanya terlalu rindu pada satu sama lain, kita hanya terlalu lelah untuk tidak berdekatan dan bisa saling memeluk dan mencium. Kita saling mencintai dan saling menginginkan untuk bersama. Kita masih membaca halaman yang sama dan berbicara dengan bahasa yang sama. Relasi kita hanya sedang ditangguhkan, karena aku tak berada di dekatmu pun kau tak berada di dekatku. Ocep dan Melo, Hasnun dan Yopi, relasi mereka pun ditangguhkan, dan selama proses itu mereka berusaha untuk dapat bersama (dalam hal ini, hidup berdekatan kembali). Pun dengan kita; percayalah, aku sedang berusaha dengan caraku sendiri untuk bisa hidup dekat denganmu lagi. Dan aku harap kau melakukan hal yang sama. Untuk itu, bersabarlah.
Jujur hatiku sakit ketika kau berkata lewat telepon pada malam tadi, “Cobalah bertemu dan pergi dengan lelaki lain.” Rasanya seperti tersengat lebah di siang bolong (padahal itu malam hari dan aku yakin benar tidak ada lebah yang sedang berkeliaran di sekitarku). Pertama, apa yang kau katakan sangat di luar konteks. Tidak ada hubungannya antara sedih, sakit, dan sepiku karena jauh darimu dan menemui lelaki lain. Pointless. Percuma. Tidak ada artinya. Menemui lelaki lain tidak akan menghilangkan rasa rinduku padamu, karena yang selama ini terjadi, justru aku semakin merindukanmu setiap kali aku bertemu dengan lelaki lain (yang terjadi selama kita belum berelasi jarak jauh, dan seringnya terjadi ketika kita sedang bertengkar). Aku masih dan akan selalu mencari sosokmu di setiap lelaki yang aku temui.
Poin pertama ini kemudian mengarahkan pada poin kedua: alih-alih menyelesaikan masalah, itu hanya akan menambah masalah. Dengan kata lain, menemui lelaki lain bukanlah solusi. Daripada aku menghabiskan waktu untuk merayu lelaki lain, lebih baik aku mengerjakan buku “A Nation of (Imaginary) Fear”. Daripada aku menghabiskan uang untuk pergi dengan lelaki lain, lebih baik aku menabung untuk membeli tiket kereta ke Mojokerto. Bersama dengan lelaki lain mungkin akan memberikanku kepuasan seksual, yang mana sifatnya hanya sementara. Sedangkan bersamamu, hanya denganmu, aku sanggup merasakan kenyamanan batin dan kedamaian jiwa yang tiada bandingannya. Tak apa kalau kau bertemu dengan wanita lain, mungkin itu membantumu, tetapi yang jelas itu tak akan membantuku. “The others are only temporary, because you are my permanent.”
If you withdraw from me because I’m struggling without you, even if you want me to meet another person, and to fill your place that you left, that space can be only filled with despair. Don’t be sorry even if you’re gone far away, because your presence will fill the inside of me as always. It won’t take too long until that day comes, when we can meet again and never be apart. Until then, please just wait for a while for me.
Bersabarlah; ini baru seminggu dan kita berada dalam masa transisi. Dirimu penuh dengan kebingungan dan kebimbangan. Wajar. Pun dengan diriku. Namun satu hal yang membuatku tetap bertahan: aku percaya. Aku percaya padamu. Dan aku tengah belajar untuk percaya pada diriku sendiri. Alih-alih menarik diri dari satu sama lain, ini adalah saat bagi kita untuk saling membantu. Dan dari situlah kita belajar. Dari situlah relasi ini menjadi dewasa. Aku tahu, perjuanganmu di sana tidak mudah. Kau berkata berkali-kali bahwa aku tidak tahu keadaan di sana yang sesungguhnya. Untuk itulah aku ingin tahu. Tunjukkan padaku. Aku akan ke sana dan tunjukkanlah padaku. Izinkan aku membantumu sebisaku. Jangan menolak, aku mohon. Saatnya aku mengutip sang Raja Pop, Michael Jackson, di sini: “Whisper three words and I’ll come running. And you know that I’ll be there. I’ll be there.” Ya, sebut namaku tiga kali, seperti Beetle Juice.
Seperti katamu, mudah bagiku untuk bicara, karena aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku memang tidak tahu apa-apa. Setidaknya, aku tahu betapa beratnya harus berdiri di antara impian yang berserakan dan kebahagiaan orang tua serta tanggung jawab moral sebagai anak. Mudah memang untuk bicara (hal-hal yang mudah dibicarakan justru biasanya adalah hal yang paling susah dilakukan), tetapi paling tidak, kata-kata adalah motivasi. Ini saatnya kita menjadi dewasa, jadi mari ganti ketakutan dengan motivasi. Saat ini, yang bisa kukatakan mengenai perjuanganmu dengan segala hal di sana adalah: yakinlah pada insting dan moralmu. Bertahan saat kamu merasa harus bertahan. Tidak usah pedulikan kata-kata orang lain. Lepaskan saat dirimu siap untuk menyudahi perjuangan. Kita masih terlalu muda untuk menyerah saat harus memasuki babak berdarah-darah. Kita juga sudah terlalu tua untuk merengek lalu mengibarkan bendera menyerah. Bertahanlah, temukan solusinya, kerjakan dan usahakan, terus lakukan hingga hatimu menyuruhmu berhenti.
Selebihnya, kau sudah tahu; aku mencintaimu.

And when your fears subside, and shadows still remain, I know that you can love me when there’s no one left to blame. So never mind the darkness, we still can find a way. Nothing lasts forever, even cold November rain.


Bantul, 10062017, seminggusetelahkaupergi

You Might Also Like

1 komentar