Tentang Relasi Jarak Jauh: Paranoid dan Sekitarnya

Saturday, June 24, 2017




Minggu lalu kau menepati janjimu untuk datang ke sini. Sudah hampir tengah malam ketika kau tiba di sini, dan dengan begitu, waktu itu kita hanya punya waktu 18 jam saja untuk bersama. Bahkan tidak sampai satu hari. Aku merasa senang sekaligus sedih.
Senang, karena akhirnya kita berjumpa setelah dua minggu lamanya aku memendam rindu. Rasa senang itu semakin dipupuk dengan waktu yang kita habiskan bersama, percakapan yang berkualitas, tidur yang tidak lagi seorang diri, serta kunjungan kita ke rumah Ibu Svet. Senang yang dilingkupi rasa lega dan haru, karena aku menjumpai sosok dirimu yang sedikit lebih dewasa. Bukan, bukan dari penampilanmu. Namun, aku merasakan perubahan itu dari sikap dan lakumu. Dirimu sudah bertambah dewasa. Meskipun jalannya masih panjang, untuk melihat sosok dirimu yang makin dewasa itu, aku merasa senang, lega, dan haru.
Sedih; karena hanya 18 jam saja tenggat waktu yang ada untuk kita melepas rindu. Rasa sedih itu semakin dipupuk dengan fakta yang aku dapatkan bahwa kau ternyata singgah di tempat lain terlebih dahulu sebelum ke sini. Seandainya kau tak singgah, bukankah waktu yang kita miliki bersama akan lebih panjang? Namun sepertinya itu tak penting bagimu. Sepertinya kau lebih menikmati tempat singgahmu. Aku sudah terbiasa untuk menjadi tidak signifikan. Pun dengan kali ini. Sedih yang dilingkupi rasa takut dan gelisah, karena menjumpai sosok dirimu yang sedikit lebih dewasa. Ya, aku senang, lega, dan haru, sekaligus sedih, takut, dan gelisah. Aku takut kau tidak akan membutuhkanku lagi ketika kau telah dewasa. Aku gelisah bahwa diriku yang memang tidak signifikan ini akan semakin tak ada nilainya bagimu.
Segera setelah ku ungkapkan kegelisahanku, kau meredakannya dengan berkata bahwa tidak mungkin dirimu tidak membutuhkanku. Kau bilang, bahwa kita sampai pada titik karena kita bersama; bahwa kau sampai pada titik ini karena kau bersamaku. Dan kau berkata bahwa kita menjalani ini semua bersama-sama. Aku memilih untuk percaya padamu. Kau benar. Kita menjalani ini semua bersama-sama.
Namun beberapa hal terus mengganggu benak dan pikiranku. Hingga beberapa hari yang lalu, perasaan itu meluap menjadi amarah kepadamu. Dan seperti yang selalu kau lakukan setiap kali aku meledak marah, kau pergi dan malah mendiamkanku alih-alih mencoba menenangkanku. Ternyata, untuk hal yang satu ini kau masih belum beranjak dewasa.
Seperti yang selalu aku lakukan setiap kali aku meledak marah dan kau memilih pergi, aku mencoba mengurai sendiri permasalahanku.
Power and money; they are two things that I am afraid of the most in this world.
Dan kau memiliki keduanya. Kuasa dan uang; dua hal yang paling aku takutkan di dunia ini. Wajar ketika “kuasa” menakutkan beberapa orang. Perjalanan sejarah bangsa-bangsa telah mencatat bahwa kuasa banyak menimbulkan mala petaka, terlebih ketika tidak digunakan secara bijaksana. Namun, uang, kita semua butuh uang. Meskipun uang bukan merupakan satu-satunya kebahagiaan, ia sanggup menjadi jembatan menuju kebahagiaan itu sendiri. Lalu mengapa aku takut padanya?
Apabila ditinjau melalui pandangan Freud, semua akar permasalahan manusia bermula dari keluarga. Pada tataran ini, mungkin memang begitu adanya. Setiap kali ayahku meninggalkan ibuku untuk singgah di tempat lain, ia melakukannya ketika ia sedang berada di puncak kuasa dan uang. Aku sadar betul bahwa kau bukanlah ayahku dan aku bukanlah ibuku. Jujur, hingga saat ini pun aku belum tahu bagaimana cara menghentikan ketakutan ini.
Ketakutan atas dua hal itu merasuk dalam relungku untuk sekian lama. Tanpa aku sadari, ia muncul ke permukaan setiap kali aku mendapati dirimu menemukan tempat singgah yang lain. Dengan segera, ketakutan dan temuan itu berjalin-kelindan dalam pikiran dan benakku, menjadi benang kusut yang sekarang sedang ku coba untuk uraikan.
Kuasa, uang, tempat singgah; pikiran dan benakku tengah dikusutkan oleh tiga hal ini. Kemudian pada hari itu, kau mengabaikanku (dan tak memberikan penjelasan mengapa kau mengabaikanku, bahkan ketika aku meminta penjelasan itu). Tembok pertahananku runtuh sudah. Harga diriku (kalau aku masih punya) dihajar habis-habisan oleh insekuritas dan kegelisahan. Rasa percaya diriku (kalau masih ada) diremukkan sedemikian rupa oleh rasa takut dan ragu. Aku habis tak tersisa. Kalau saja kau tak meneleponku lebih dulu pada malam berikutnya, mungkin aku sudah tak terselamatkan. Siapa yang akan tahu? Tak ada yang tahu.
Aku mengerti bahwa ketakutan ini adalah masalah yang harus aku selesaikan sendiri. Mungkin tak akan ada yang sanggup membantuku, baik dirimu sekalipun. Aku tak meminta banyak darimu, hanya kesabaran untuk mendampingiku dalam proses melawan ketakutan ini. Dulu ketika kau masih ada di sini, setiap kali rasa takut itu datang, aku akan memandang wajahmu, dan semuanya akan kembali baik-baik saja. Namun kini setelah kau jauh, aku harus menemukan distraksi untuk mengenyahkan rasa takut itu supaya tidak menggerogoti rasionalitasku. Jadi, tolong jangan marahi aku ketika aku terlalu sering menonton serial drama Korea. Tolong jangan larang aku untuk menulis atau mengunggah tentang kita.
Ah, mengenai tulisan dan unggahan, kita telah membicarakannya, dan aku sangat berterima kasih padamu untuk tidak merenggut itu dariku. Aku sangat berterima kasih kau sanggup memahami bahwa itu semua adalah bentuk terapi yang aku berikan pada diriku sendiri untuk mengatasi kesepian (dan ketakutan) ini. Ini salah satu alasan mengapa aku merasa kau lebih dewasa. Inilah salah satu bentuk kedewasaanmu. Aku merasa lebih dari bahagia.
Satu hal lagi yang membuatku lebih dari bahagia: soal mimpi. Kau telah mengenalku cukup lama dan dalam untuk paham bahwa aku adalah orang yang susah membagi mimpiku, bahkan kepada orang terdekat sekalipun. Bukan karena aku tak mau, melainkan karena aku tak mampu. Aku tidak mempunyai rasa percaya diri sebesar itu untuk menceritakan impian dan cita-citaku kepada orang lain. Aku terlalu takut atas penolakan yang mungkin hadir dari mereka. Lagi-lagi, menurut Freud, semua terjadi karena masa kecil dan pertumbuhanku. Namun semenjak kau hadir, sedikit demi sedikit aku belajar untuk terbuka; untuk jujur atas apa yang aku rasa, bahkan atas apa yang aku takutkan. Terlebih lagi, kau menerima “mimpi”ku dengan sangat terbuka. Dan tidak hanya itu, kau menyatakan dukunganmu. Aku tidak bisa lebih berterima kasih lagi. Aku merasa lebih dari bahagia.

“Datanglah sayang, dan biarkan ku berbaring di pelukanmu walaupun ‘tuk sejenak.
Usaplah dahiku, dan ‘kan ku katakan semua.
Bila ku lelah, tetaplah di sini, jangan tinggalkan aku sendiri.
Bila ku marah, biarkan ku bersandar, jangan kau pergi untuk menghindar.
Rasakan resahku, dan buat aku tersenyum dengan canda tawamu, walaupun ‘tuk sekejap,
Karena hanya engkaulah yang sanggup redakan aku,
Karena engkaulah satu-satunya untukku dan pastikan kita s’lalu bersama,
Karena dirimulah yang sanggup mengerti aku dalam susah ataupun senang.”

Kamu membacaku begitu mudah, seperti membaca buku yang terbuka. Dan itu membuatku lebih dari bahagia, namun sekaligus ketakutan setengah mati. Bertahun-tahun aku mencari tahu mengapa diriku susah terbuka kepada orang lain. Selain karena faktor keluarga dan masa kecil, mungkin juga karena golongan darah. Golongan darahku A, dan berdasarkan riset yang dilakukan oleh orang Korea Selatan (ya, mereka percaya bahwa golongan darah memiliki pengaruh dalam menentukan kepribadian seseorang), orang-orang dengan golongan darah A adalah orang-orang yang penuh analisis dan juga sensitif. Kami mudah stress dan berpikir berlebihan (overthink) terhadap semua hal. Kami keras kepala dan mudah merasa khawatir, karena kami sesungguhnya perfeksionis, bertanggung jawab, dan punya kesadaran diri yang tinggi.
Social life: Reliable and kind, type A’s will care for you like a mother, but will avoid confrontation because they dislike conflict. As a result, they may be passive aggressive when angered or hurt. Because they feel uncomfortable around people and spontaneity, type A’s might also feel awkward during crazy parties.
Love life: Type A’s don’t open up easily because they’re self-conscious, shy, and can get paranoid. Those who attempt to court type A’s will need to be patient. When a type A does eventually return your love, however, the reward is very satisfying. Type A’s are selective, and when they choose you to be their partner, they’ll let you in on all their complexities and show you sides that only you are privy to.
Uraian di atas menjelaskan mengapa aku begitu mudahnya terbuka denganmu dibandingkan dengan orang lain. Dan ya, aku bisa menjadi paranoid. Aku sedang paranoid. Dan aku mengizinkanmu untuk tahu bahwa aku paranoid; suatu keistimewaan yang tidak aku bagi detailnya kepada orang lain. Denganmu, aku bisa menanggalkan segala kepura-puraan yang melingkupiku; itu membuatku lebih bahagia sekaligus ketakutan. Namun ketika kau menerima semuanya dengan lapang dada, itu membuatku lega, tanpa rasa takut.
Aku tidak ingin kehilangan apa yang telah dan akan kita miliki ketika kita bersama; apalagi hanya karena ketakutan yang tidak sanggup aku hadapi. Aku sedang berupaya untuk menghadapi ketakutan itu.  Aku tengah berjuang untuk berdamai dengan diriku sendiri. Satu hal yang membuatku merasa yakin bahwa aku sanggup: ada kamu bersamaku.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Maaf.
Selebihnya, kau pun tahu; aku mencintaimu.

Kota Yogyakarta, 24062017, ditengahramaimalamtakbir

You Might Also Like

0 komentar