Tentang Relasi Jarak Jauh: Minggu Kedua

Saturday, June 17, 2017



Sudah dua minggu berlalu sejak dirimu mengemasi sebagian baju, semua buku, alat musik, serta alat rekammu dan pergi meninggalkan rumah ini. Bagiku, minggu kedua ini secara emosional mulai terasa ringan dibandingkan seminggu pertama kemarin. Paling tidak, frekuensi menangisku mulai berkurang, walaupun tidak menghilang sama sekali. Paling tidak, frekuensi munculnya sisi gelap jiwaku (yang pesimis, penuh insekuritas, ketakutan, dan kegelisahan) mulai berkurang, meskipun tidak seluruhnya menghilang. Namun, secara fisik, minggu kedua ini justru terasa semakin berat bagiku. Mungkin karena kali ini aku ­benar-benar sendirian di rumah ini. Fahmi pulang ke Semarang hari Senin kemarin (dan baru akan kembali ke sini akhir Juli nanti, ya, JULI). Sedangkan Patricia, ya, hanya Tuhan dan Natsumi yang tahu di mana dia berada dan kapan ia akan kembali ke rumah. Jadi ya, seperti nyanyian almarhumah Nike Ardilla, tinggallah diriku di sini sendiri. Semoga saja aku tidak alih profesi menjadi nelayan yang kemudian kehilangan arah.
Terkadang ketika sisi gelap jiwaku muncul dan mengambil alih, aku merasa marah padamu; karena pergi meninggalkanku. Karena memutuskan untuk pergi meninggalkanku seorang diri di sini. Padahal kau tahu aku telah melepaskan segalanya untuk mengikutimu ke mana pun kau pergi. Seperti yang pernah kau bilang tentangku, aku adalah anjing yang penurut; lebih tepatnya, anjingmu yang penurut (“She’s always been this obedient dog, right?” Katamu pada suatu malam, yang mungkin sudah tak kau ingat lagi karena kau mengatakannya dalam kondisi marah). Aku selalu mengikutimu ke mana pun kau pergi. Namun semua itu selalu berujung pada dirimu yang meninggalkanmu. Bukan salahmu, memang. Bukan salahmu, aku tahu dan paham semua itu. Hanya saja ketika sisi gelap yang berkuasa, rasionalku seolah berhenti begitu saja. Aku hanya bisa menangis. Menangisi betapa tidak berharganya diriku ini, karena pada akhirnya tak akan ada yang tahan hidup bersama denganku.
Ingatanku kemudian melompat-lompat dalam rangkaian kegelisahan dan rasa sendu. Ya, ini yang terjadi setiap kali sisi gelap datang mengambil alih. Aku teringat setiap kali kau menolak permintaanku untuk memotretku. Wajar saja kau tak mau, pikirku, aku hanyalah perempuan dengan wajah jelek dan pas-pasan; mana mau kau menyia-nyiakan waktu untuk memenuhi permintaanku itu. Wajar pula ketika kau jarang mau dipotret berdua denganku. Mungkin kamu malu bersanding dengan perempuan sepertiku, yang tidak bisa dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang jauh lebih cantik dan seksi di luar sana yang rela berbaris dalam antrian untuk diajak kencan semalam denganmu dan selalu mengirimkan pesan rindu kepadamu hanya setelah satu atau dua kali kencan pertama. Aku juga bertanya-tanya mengapa kau meninggalkan hampir seluruh barang yang mungkin dapat mengingatkanmu padaku; foto kita berdua, surat dariku, ah ya, aku berani bertaruh bahwa kau bahkan sudah lupa di mana kau menaruh surat yang kuberikan padamu itu. Mungkin memang tidak berarti bagimu. Mungkin kau memang tidak mau mengingatku di sana. Wajar; perempuan sepertiku. Tidak penting.
Namun tenang saja, tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali berpijak pada rasionalitas. Seperti yang pernah aku katakan berkali-kali padamu, aku ini terlalu rusak (damaged). Gelap dan terangku bisa berubah begitu cepat layaknya sakelar lampu yang korslet. Rasionalitasnya adalah: ini bukan salahmu ataupun salahku. Kau pergi karena punggungmu telah terdesak ke dinding (your back against the wall). Tak ada pilihan lain. Benarkah? Ya, setidaknya untuk saat ini. Kemudian, rasionalitasnya adalah: aku mengikutimu karena itu adalah pilihanku sendiri. Kau tidak pernah memaksaku. Pun dengan keputusan bahwa aku akan tetap tinggal di sini setelah kau pergi. Itu adalah keputusanku sendiri. Kau tidak pernah memaksaku untuk tinggal. Kau bahkan menyuruhku untuk pindah. Namun, pindah pun bukan merupakan keputusan yang bijak untuk saat ini. Pada akhirnya, manusia hidup atas konsekuensi dari pilihan-pilihan yang mereka buat sendiri. Kita masih terlalu muda untuk menyerah ketika pilihan menghasilkan konsekuensi yang mengharuskan kita bekerja lebih keras. Kita juga sudah terlalu tua untuk meratapi pilihan yang ternyata menghasilkan konsekuensi yang melenceng dari prediksi kita.
Satu hal yang aku tahu pasti: aku mengikutimu karena aku ingin bersama denganmu, karena aku mau. Dan aku tidak akan pernah menyesali itu. Jutaan rasa sedih dan sepi tak akan sanggup menghapus ribuan kebahagiaan yang aku rasakan di setiap waktu yang aku habiskan bersamamu di sini. Yang kita punya bersama adalah nyata (real), langka (rare), dan sangat berarti.
Tadi aku sempat menuliskan bahwa minggu kedua ini secara fisik terasa lebih berat bagiku. Ya, aku benar-benar sendirian kali ini. Fahmi telah menjadi supporting system yang luar biasa dalam seminggu pertama setelah kau pergi. Ketika masih ada Fahmi, setidaknya masih ada tenaga laki-laki untuk mengerjakan pekerjaan berat. Selain itu, ia juga sering memasak. Bahkan di hari ketika ia pergi ke Semarang, ia sempat meninggalkan nasi, lauk, dan sayur untukku. Aku menjadi merasa bersalah padanya, karena aku tidak benar-benar ‘ada’ dalam seminggu pertama setelah kau pergi. Padahal aku tahu, ia juga sangat sedih dengan kepergianmu. Tentu saja hal ini tidak aku ketahui darinya langsung, melainkan dari Yura, pacarnya. Aku tidak bisa cukup berterima kasih pada mereka berdua untuk ‘ada’ di sekitarku selama seminggu pertama setelah kau pergi.
Kini setelah aku benar-benar sendirian, aku menyadari bahwa selama ini dirimu telah mengurus begitu banyak hal baik secara fisik (menyapu halaman, membersihkan kamar, membersihkan rumah, membersihkan kamar mandi, mengganti galon, mencari servis listrik ketika sedang bermasalah) maupun finansial (membayar listrik, membeli air minum, membayar tukang sampah, membayar laundry, membeli bahan makanan). Semua hal yang biasa kau urus, ditambah dengan hal-hal yang memang biasa aku urus, sekarang aku harus melakukannya seorang diri. Mungkin ini yang membuat semuanya terasa berat. Pada titik ini aku benar-benar merasa salut pada para ibu tunggal di luar sana yang mengurus rumah tangganya seorang diri tanpa sosok suami. Aku tidak bisa cukup berterima kasih padamu untuk mengurus semua hal itu sewaktu kau masih ada di sini.
Pada suatu siang aku terbangun dengan kondisi tidak sehat. Kepalaku berputar (tidak, tidak secara harafiah); fase awal dari vertigo. Seluruh badanku terasa sakit karena merindukanmu. Mungkin aku mengidap Vidi-kronis; semacam penyakit psikosomatis (sakit fisik yang disebabkan oleh sakit psikologis) yang muncul karena terlalu merindukanmu. Yah, tidak ada yang sanggup memprediksi, bahkan diriku sendiri, bahwa aku akan baik-baik saja setelah kau pergi. Tidak, tidak ada. Beberapa kali aku menolak tawaran dari Monic ataupun Syakira untuk bermalam di tempat mereka. Bukan karena aku tak mau, tetapi karena aku ingin menguji diriku sendiri; sejauh mana aku sanggup bertahan sendiri tanpa mengeluh. Aku sadar orang-orang memandangku sebagai sosok yang terlalu mandiri (bahkan kau pun berpikir demikian pada suatu masa), namun kau sendiri tahu betapa aku bisa menjadi begitu manjanya ketika bersama denganmu. Dan ya, memang, aku hanya membiarkan diriku menjadi manja ketika bersama denganmu; hanya kepadamu.
Membaca dari pesan-pesan yang kau kirimkan padaku belakangan ini, sepertinya kau sudah mulai menemukan ritmemu di sana. Aku turut bahagia. Pun bangga. Aku selalu tahu bahwa kau bisa melakukannya. Di sisi lain, beberapa pesan menyadarkanku bahwa tingkat kerinduan pun semakin meningkat dalam dirimu; mungkin bukan rindu kepadaku, tetapi lebih kepada kehidupanmu di sini. Bersabarlah. Akan ada waktunya. Namun sepertinya, meskipun sering kita rapal bersama, kata “sabar” belum menjadi sahabat kita. Semalam, pertengkaran pertama kita terjadi. Ya, mungkin bagimu itu bukan pertengkaran, tetapi bagiku itu jelas sebuah pertengkaran karena aku merasa marah padamu. Pun dari nada bicaramu kau terdengar marah padaku. “Aku kira kamu secerdas itu, tahu nggak?!” Kau membentak dengan nada tinggi layaknya tokoh protagonis dalam sinetron yang tengah kecewa mendapati kekasihnya berkhianat.
Kamu bicara soal konsep dirimu dan segala atribut yang menempel padamu. Kamu bicara soal semua hal yang aku kenal tentangmu. Katamu semua itu sudah mati. Benarkah? Aku marah. Pertama, aku marah karena kecewa. Kecewa akan apa? Bukan; bukan karena kamu berpikir bahwa aku tidak tahu apa-apa dan tidak benar-benar mengenalmu (meskipun pikiranmu itu juga begitu menyakitkan bagiku) dan bahwa aku tidak secerdas itu untuk tahu segalanya. Aku kecewa karena ternyata kau tidak mengenalku cukup baik untuk tahu bahwa aku lebih baik “menderita dalam ke-tahu-an” daripada “bahagia dalam ke-tidak tahu-an”. Kedua, dirimu sendiri yang bilang bahwa dengan berbagi dan bercerita tentang hal-hal sederhana lah yang membuat hubungan ini berarti. Namun apa yang terjadi? Kau justru mendorongku jauh dari hal sederhana yang kau anggap tidak penting itu. Aku hanya ingin mendengarnya namun kau tak ingin bercerita. Ketiga, lagi-lagi kau tenggelam dalam ketakutanmu sendiri; ketakutan atas realita, krisis identitas, jati diri, dan takut atas kehilangan dirimu yang sesungguhnya.
Mari kita mulai dengan identitas. Bahkan bagi cendekiawan yang telah memelajarinya selama puluhan tahun bahkan meraih gelar profesor, “identitas” adalah sesuatu yang cair dan penuh dengan kontestasi. Identitas pun berbeda dengan peran sosial. Berkali-kali sudah aku membahas soal ini denganmu. Peran sosial apapun yang kau sedang jalani sekarang di sana, aku yakin itu semua tidak akan mengubah seorang dirimu yang telah aku kenal selama ini. Dia akan selalu ada di dalam sana, meskipun bungkus dirinya kini tengah menjelma menjadi orang lain dan melakukan hal-hal yang dia tidak suka, bahkan benci sekalipun, dia ada di dalam sana. Pun ketika dirimu merasa kau telah berubah, bukan berarti kau memang sepenuhnya berubah. Itu hanya wujud dari dirimu yang tengah atau telah beradaptasi dengan peran sosialmu. Manusia tidak pernah benar-benar berubah, Sayang, dan kita tahu betul itu. Dan ketika melepasmu pergi ke sana, aku melakukannya bukan tanpa kesadaran bahwa dirimu akan bergeser atau bertransformasi. Aku sadar betul dengan kemungkinan akan menjadi seperti apa dirimu di sana. Dan aku tak akan kaget ketika itu terjadi. Kau tak mau itu terjadi? Tenanglah. Kau selalu punya aku untuk mengingatkanmu kembali siapa dirimu sebenarnya; dirimu yang kau inginkan.
Orang punya cara mereka masing-masing untuk peduli. Dan kau bilang bahwa kau melakukannya karena kau peduli padaku. Oke, pada tataran ini aku bisa menerimanya. Yang membuatku tidak habis pikir adalah bisa-bisanya kau meletakkan segala kepedulian itu pada perasaanmu semata tanpa menimbang bagaimana perasaanku atas semua itu. Sekali lagi, aku sangka kau mengenalku dengan cukup baik untuk tahu bahwa aku selalu senang mendengar semua ceritamu, bahkan ketika kau berpikir bahwa cerita itu tidak cukup penting untuk dibagi. Sisi pesimisku mulai berpikir, bahwa mungkin kau tak lagi menganggap hubungan ini berarti, atau jangan-jangan, sedari awal memang tak pernah berarti bagimu? Namun lagi-lagi, aku menengok ke belakang, pada semua yang telah kita lalui dan capai bersama, lalu sampai pada kesadaran; bahwa apapun yang kau lakukan, bagaimanapun caranya, kau melakukan itu semua karena kau sayang padaku. Dan aku yakin itu. Dan keyakinan itu pulalah yang membuatku memiliki kekuatan untuk menunggumu. Hari ini kau bilang kau akan datang kemari. Entah jam berapa kau akan sampai, entah sebelumnya kau akan mampir di mana dalam perjalananmu, yang jelas aku menunggu, layaknya anjing yang penurut.
Aku tahu aku bukanlah pribadi yang religius. Namun aku percaya bahwa Tuhan itu ada, dan Ia selalu ada dengan cara-Nya sendiri, dengan kebaikan. Oleh karena itu aku masih percaya pada suatu ritual sakral yang orang-orang sebut dengan berdoa, namun aku menyebutnya sebagai “berbicara” dengan Tuhanku. Dalam bicaraku aku selalu menyebut namamu. Bahwa di mana pun kau berada dan apa pun yang sedang kau lakukan di sana, semesta akan selalu menjaga dan memberkatimu.
Selebihnya, kau pun tahu; aku mencintaimu.

Bantul, 17062017, dalamsepimenunggupagi

You Might Also Like

0 komentar