Sepuluh Tahun Pertama

Wednesday, April 12, 2017



Saya lahir pada tahun 1990. Sekitar awal tahun tepatnya pada hari Kamis Legi tanggal 29 Maret. Lahir pada tahun tersebut membuat saya mengalami masa kanak-kanak hingga menjelang remaja pada sepanjang tahun 1990-an. Saya tidak begitu memiliki ingatan mengenai kehidupan di lima tahun pertama saya, yaitu pada tahun 1990 hingga 1995, kecuali beberapa memori pasif yang mengendap di ingatan dan muncul sewaktu-waktu ketika ada momen-momen pemicunya. Sepanjang lima tahun sisanya, yaitu tahun 1996 hingga 2000, saya habiskan di Sekolah Dasar, dan ingatan-ingatan itu kurang lebih masih sanggup tergambar dalam benak saya. Ketika tema tulisan kali ini mengharuskan saya untuk menulis kenangan tentang tahun 1990-an, maka saya akan membaginya ke dalam dua babak, yaitu lima tahun pertama dan lima tahun berikutnya.

Usia 0 – 5 Tahun
Keluarga saya berpindah-pindah tempat tinggal pada rentang waktu itu. Saya ingat saya pernah tinggal di Bandung dan Purwokerto. Purwokerto; kami tinggal di sana karena di kota itulah Ibu saya melanjutkan studinya. Saya ingat samar-samar bagaimana bentuk tempat tinggal keluarga kami ketika di sana. Selebihnya, saya hanya mampu mengenang melalui foto-foto masa kecil. Begitu juga dengan Bandung. Bandung adalah kota kelahiran Ibu saya. Nenek dan Kakek tiri saya dari pihak Ibu tinggal di sana hingga sekitar pertengahan 2000-an. Saya ingat separuh dari masa Taman Kanak-Kanak saya jalani di Bandung. Saya juga ingat beberapa teman saya, begitu juga dengan tempat tinggal kami (rumah Nenek dan Kakek), karena saya masih rajin berkunjung ke sana tiap liburan sekolah hingga pertengahan tahun 2000-an sebelum Nenek pindah ke Yogyakarta.
Tempat favorit saya di Bandung adalah Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani dan Kebun Binatang Bandung. Memori pasif yang paling dominan dari masa itu adalah momen-momen ketika saya mengikuti lomba mewarnai (yang mana sangat sering) dan ketika Kakek tiri saya membelikan es krim Walls yang lewat di depan rumah (yang juga sangat sering). Mungkin karena momen-momen itu, hingga kini saya punya obsesi yang aneh (bahkan mungkin mencapai taraf fetish) terhadap pensil warna dan crayon. Selain itu, es krim juga selalu mengingatkan saya pada almarhum Kakek (Eyang Bapak, saya memanggilnya) yang selalu sembunyi-sembunyi membelikan saya es krim, karena walau saya merengek seperti apapun, Ibu saya tak akan pernah mau membelikan. Astaga, saya kangen Eyang Bapak. Semoga beliau tenang di surga.
Bicara soal hidup saya di lima tahun pertama tidak bisa dilakukan tanpa membicarakan sosok Eyang Bapak. Beliau adalah sosok paling berpengaruh bagi saya pada masa itu. Mungkin seperti kebanyakan anak sulung yang lahir pada era 90-an, secara praktis saya bisa dibilang adalah anak asuhan Kakek-Nenek, karena Ibu dan Ayah saya sibuk bekerja sehingga mereka harus menitipkan saya pada ornag tua mereka. Alhasil, secara praktis saya dirawat oleh Eyang Bapak. Meskipun kami tidak memiliki hubungan darah, saya dapat merasakan bahwa Eyang Bapak memberikan kasih sayang tulus kepada saya. Yang saya ingat dari sosoknya adalah ia pribadi yang hangat dan bijaksana. Ia yang mengajari saya menggambar dan mewarnai. Ia yang mengajari saya untuk berani (berangkat ke sekolah sendiri naik angkot). Ia yang mengajari saya tentang ketulusan (untuk berbagi mainan dengan teman dan bermain bersama). Pada suatu waktu, ia membuatkan sebuah ayunan berwarna merah di halaman rumah Bandung, khusus untuk saya. Selain Bandung dan Eyang Bapak, saya tidak ingat banyak; hanya samar-samar terdengar lantunan lagu “Soldier of Fortune” milik Deep Purple yang diputar oleh Ayah.

Usia 6 – 10 Tahun
Ketika pindah ke Yogyakarta dari Bandung, yang saya ingat pertama kali adalah saya dimasukkan ke Taman Kanak-Kanak yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Alasannya dipilihnya sekolah itu sederhana: karena anak tetangga juga bersekolah di sana. Dan anak tetangga itu tak lain tak bukan adalah teman akrab saya. Namanya Saila Muti Rezcan, dan bicara soal kehidupan masa kecil saya takkan sanggup dilakukan tanpa membicarakan sosok Muti (sejak TK hingga SMP, saya memanggilnya Muti; namun ketika SMA, saya mulai memanggilnya Saila, seperti kebanyakan teman kami). Sedari TK hingga tamat SD saya tinggal bersama Kakek dan Nenek dari pihak Ayah. Kami tinggal di sebuah komplek perumahan dosen karena almarhum Kakek (Eyang Kakung, saya memanggilnya) adalah profesor di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Almarhum Kakek Muti juga seorang dosen, dan ya, kami sama-sama dirawat Kakek dan Nenek meskipun Muti bukan anak sulung seperti saya (dia punya kakak laki-laki ganteng bernama Bram). Anyway, kehidupan TK saya di Jogja berwarna karena adanya Muti.
Ingatan yang paling berkesan dari masa TK adalah ketika pada suatu hari saya dan Muti tidak dijemput dari sekolah. Ayah saya (yang seharusnya menjemput saya hari itu) mengira saya sudah ikut sekalian dijemput oleh Ayah Muti (yang seharusnya menjemput Muti hari itu) yang mengira bahwa Muti sudah ikut sekalian dijemput oleh ayah saya. Alhasil, kami berdua terlantar di sekolah. Anehnya, saya tidak ingat bahwa kami merasa panik sama sekali. Karena bosan menjadi dua anak terakhir yang tersisa di gedung sekolah yang sudah sangat sepi, kami pun memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Sebagai gambaran, TK kami adalah TK ABA Karangmalang (di belakang Tennis Indoor UGM) sementara rumah kami ada di kompleks perumahan UNY Deresan (dekat Percetakan Kanisius). Jadi, bisa dibayangkan jarak tempuhnya bagi kaki-kaki kecil kami pada waktu itu. Namun, anehnya, kami tiba di rumah dengan perasaan bahagia karena seolah berhasil menyelesaikan satu tantangan besar. Dan tentu saja, kaki yang super lelah.
Memasuki Sekolah Dasar, saya dan Muti satu sekolah dan satu kelas lagi. Sesungguhnya banyak kenangan bersama Muti selama kami menjalani masa SD, karena kami bertemu hampir setiap hari dan kami selalu bersama hampir setiap saat kecuali ketika tidur malam. Bahkan saya ingat kami sering mandi bersama dulu. Masa-masa SD adalah masa di mana saya menemukan bahwa kegiatan membaca adalah kegiatan yang menyenangkan bagi saya. Terlebih lagi, Muti memiliki minat yang sama. Mungkin kebiasaan “anak rumahan” dibangun sejak itu. Kami berdua bisa betah selama berjam-jam berdiam diri di teras rumah sambil membaca buku. Kami hanya melakukan permainan yang melibatkan kegiatan fisik ketika ada teman lain yang bergabung dengan kami; seperti petak umpet, engklek, gobag sodor, jek-jekan, dan pasaran. Selebihnya, waktu kami habiskan dengan membaca bersama; mulai dari komik Donal Bebek, Doraemon, Sailor Moon, hingga Detektif Conan, mulai dari majalah Bobo, tabloid Fantasi, hingga majalah kaWanku dan Gadis, hingga novel Harry Potter. Singkatnya, kami tumbuh bersama. Ada satu hal yang pernah Muti katakan dan entah mengapa hal itu sampai sekarang masih saya ingat; mungkin saking berkesannya, “Setiap kali aku baca komik aku ngerasanya kamu juga ikut baca bareng aku, jadi kalau cerita ya langsung cerita aja. Lupa kalau aku bacanya ternyata sendirian.”
Menjelang akhir tahun 1990-an, aku dan Muti menemukan kegemaran baru: Westlife. Ya, kami sama-sama menggilai boy band asal Irlandia itu dan sama-sama memilih Mark Feehily sebagai personil favorit kami. Kami mengoleksi kaset, CD, VCD, bahkan majalah yang berkaitan dengan Westlife. Waktu itu masih zamannya pin-up dan kami berlomba-lomba untuk mengoleksi pin-up Westlife, terutama Mark. Berawal dari situ, kami mulai menggemari idola-idola lainnya seperti Backstreet Boys, NSYNC, dan Britney Spears. Perlahan kami mulai meninggalkan permainan-permainan tradisional dan mulai beralih ke media cetak dan elektronik untuk mengakses segala tontonan yang berkaitan dengan idola kami.
Masa-masa itu juga masa di mana kami mulai mengenal rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Muti adalah saksi hidup ketika saya mulai naksir dengan laki-laki, mulai dari mas-mas mahasiswa yang menyewa kamar kost di tempat Eyang sampai kakak kelas kami di SD. Dia juga saksi hidup ketika saya mulai pacaran untuk pertama kalinya dengan kakak kelas sekaligus tetangga rumah kami. Ya, dia adalah saksi hidup atas cerita-cerita lugu nan konyol itu. Selain itu, Muti juga saksi hidup atas persoalan pertama yang saya hadapi dengan teman-teman sekelas di SD, yang berujung pada insiden saya mogok berangkat sekolah hingga akhirnya tangis-tangisan dan maaf-maafan. Ya, namanya juga anak perempuan. Hidup kami sudah akrab dengan drama sedari kecil. Dan begitulah secara garis besar era 90-an saya habiskan. Sampai saat ini saya masih suka tertawa sendiri apabila mengingat masa-masa itu, bahkan ketika saya menulis tulisan ini. Samar-samar terngiang lagu “November Rain” milik Guns N’ Roses yang diputar oleh Ayah.

Membuat tulisan ini menyadarkan saya bahwa betapa menyenangkannya memiliki teman untuk tumbuh besar bersama. Muti adalah sahabat pertama saya. Dan meskipun sekarang kami sudah jarang berkomunikasi apalagi bertemu, dia adalah orang yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidup saya. Menulis tulisan ini juga membuat saya rindu pada almarhum Eyang Bapak dan Eyang Kakung. Para Kakek itu adalah sosok orang tua yang sesungguhnya bagi saya. Meskipun sekarang mereka tak lagi ada di dunia ini, mereka telah meninggalkan banyak hal berharga bagi saya yang tak akan lekang oleh waktu. Mereka hidup bersama dalam diri saya. Mama dan Papa; tentu saja banyak kenangan dengan mereka, namun bukan itu yang ingin saya bahas sekarang. Adik-adik saya; ya, menjadi kakak memang sebuah pengalaman luar biasa, namun bukan itu juga yang ingin saya bahas sekarang. Melalui esai atas kenangan ini saya ingin memberi apresiasi terhadap sosok signifikan dalam sepuluh tahun pertama perjalanan hidup saya, yaitu almarhum Eyang Bapak dan Eyang Kakung, serta sahabat pertama saya, Muti. Mengenang kalian selalu menyenangkan sekaligus mengharukan. Terima kasih telah hadir dalam hidup saya dan mewarnainya.

You Might Also Like

0 komentar