Kampus dan Hal-Hal yang Tidak Jelas

Thursday, April 06, 2017




Sejak tahun 2008, berarti sembilan tahun (lamanya tak kuduga jadi sia-sia~~~) sudah saya berada dalam naungan sebuah instansi pendidikan yang bernama “Universitas Gadjah Mada”. Sejak saya menjejakkan kaki sebagai mahasiswa baru program studi S1 jurusan Ilmu Komunikasi, saya tidak ingat saya pernah keluar dari kampus ini. Jadi saya mulai bertanya-tanya, sebenarnya ini naungan atau jeratan? Sebenarnya saya ini dinaungi atau dijerat? (Atau jangan-jangan tanpa disadari saya sudah berubah menjadi arwah gentayangan di sini?) Anyway, ketika tema tulisan kali ini mengharuskan saya untuk menulis tentang kehidupan kampus, muncul kebimbangan dalam benak saya: saya harus menulis dalam perspektif mahasiswa atau perspektif pekerja? Saya tidak bisa memungkiri bahwa saya adalah keduanya. Pada tataran ini, saya ragu saya bisa berjarak dengan objek tulisan supaya bisa menghasilkan tulisan yang objektif. Akhirnya saya memutuskan untuk membagi tulisan ini ke dalam dua perspektif.

Sebagai Mahasiswa
Keluhan pertama saya sebagai mahasiswa Sekolah Pascasarjana program studi Kajian Budaya dan Media adalah: akses internet yang (semakin) susah di wilayah kampus. Menurut saya, sebagai World Class Research University, kampus ini seharusnya memberikan kenyamanan akses internet bagi seluruh mahasiswanya. Okelah kalau tujuannya memang ingin membatasi supaya fasilitas itu hanya bisa dinikmati oleh civitas akademika UGM saja, tetapi saya sebagai mahasiswa saja merasa kesulitan, apalagi dengan orang lain, misalnya para tamu. Setiap harinya, tidak sedikit tamu yang datang ke kampus ini dengan berbagai kepentingan. Kalau akses dibatasi pada kalangan civitas akademika saja, setidaknya ada petunjuk yang tidak hanya jelas untuk diikuti tetapi juga mudah untuk diterapkan. Informasi mengenai akun personal UGM para mahasiswa saja tidak jelas harus didapatkan dari mana dan bertanya kepada siapa. Seharusnya, universitas mampu memberikan beberapa contact person atau administrator yang dapat dihubungi via media online selama 24 jam untuk membantu akses internet di wilayah kampus. Bukannya harus mendatangi langsung kantor administrasi yang tidak jelas juga informasinya berada di mana dan harus bertemu siapa. Toh persoalan mengenai koneksi internet adalah konteks digital, lalu mengapa solusi yang disediakan oleh universitas masih dengan cara medieval alias purba? Memangnya kita sedang berada dalam serial Game of Thrones? Apabila akses komunikasi saja dipersulit, bagaimana kampus taraf dunia ini berharap para mahasiswanya dapat mengembangkan diri?
Keluhan kedua adalah: transportasi. Sebagai kampus yang masih menggaungkan diri sebagai kampus kerakyatan, universitas ini layak untuk merasa malu. Mengapa? Karena sebagai kampus yang katanya kampus kerakyatan ini, pada kenyataannya justru tidak mengakomodir kebutuhan seluruh “rakyat”nya sendiri. Isu soal lahan parkir sudah menjadi isu yang menahun di kampus ini. Solusinya adalah penambahan lahan parkir, oke, bisa diterima; saat ini lahan parkir sudah bisa ditemukan di mana-mana di pelosok kampus. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi? Sementara, aktivitas para mahasiswa tidak terbatas hanya pada kampus di mana ia berkuliah saja, melainkan juga lokasi-lokasi lain seperti misalnya Gelanggang Mahasiswa atau bahkan fakultas lain, yang jarak tempuhnya belum tentu ramah untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Solusinya adalah menyediakan sepeda yang bisa dipinjam setiap saat, oke, bisa diterima. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang tidak bisa mengendarai sepeda? Padahal, akses kendaraan umum seperti angkutan dan bus kota sudah dihilangkan sama sekali dari wilayah kampus. Padahal, tidak semua mahasiswa memiliki sumber daya untuk menyewa kendaraan seperti ojek dan taksi. Saya rasa solusi yang selama ini diberikan oleh universitas tercinta terkesan seperti tambal-sulam saja; ada masalah satu, maka diberikan satu solusi tanpa mempertimbangkan masalah tersebut secara holistik dan justru cenderung menciptakan masalah baru. Solusi yang saya tawarkan adalah pengadaan shuttle bus, atau mini bus, yang bisa digunakan oleh seluruh civitas akademika untuk bertransportasi dari satu tempat ke tempat lain dengan nyaman.

Sebagai Pekerja
Keluhan pertama saya sebagai staff asisten peneliti di pusat studi Departemen Ilmu Komunikasi adalah: (lagi-lagi) akses internet yang susah di wilayah kampus. Sebelum kebijakan akses internet diubah, saya dan rekan-rekan peneliti dan asisten peneliti sudah merasa nyaman dengan akses internet yang ada dan serba mudah. Namun, semua berubah sejak negara api menyerang. Sebagai staff memang saya mendapatkan privilege untuk akses internet dengan kabel LAN yang bisa langsung terkoneksi via laptop. Namun, itu hanya mungkin dilakukan bila saya sedang berada dalam ruang kantor. Lalu bagaimana ketika saya sedang berada di luar ruangan kantor, misalnya untuk bertemu dengan dosen, mahasiswa, atau rekan peneliti lain? Selain itu, koneksi hanya dapat dilakukan via laptop. Lalu bagaimana dengan telepon genggam? Lagi-lagi, semua itu terbentur birokrasi yang tidak mudah mengenai akun personal UGM para staff. Bagaimana mungkin akses internet di sebuah institusi pendidikan bertaraf internasional malah lebih susah dibandingkan coffee shop? Solusi yang dapat saya tawarkan cukup sederhana: berkacalah dari coffee shop.

Sebenarnya masih banyak keluhan lain terkait perspektif saya sebagai pekerja. Namun ada baiknya saya cukupkan sampai di sini saja untuk tulisan ini. Sedih dan miris, karena sembilan tahun berada dalam instansi ini saya justru merasakan perubahan yang tidak mengarah ke perbaikan. Sedih dan miris, karena sesungguhnya berada dalam instansi ini adalah bagian dari impian saya. Saya rasa benar adanya perkataan seorang teman tentang dunia pendidikan saat ini: banyak dari kita yang terdidik, namun tidak tercerahkan. Semoga saya dan teman-teman yang membaca tulisan ini termasuk dalam kaum yang tidak hanya terdidik tetapi juga tercerahkan.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Mungkin shuttle angkot lebih efisien ya, dempet dempetan sama maba unyu, bole la ya

    ReplyDelete
  2. Berkaca lah pada Coffee shop.
    Dirikan lah coffee shop.
    Hidup kapitalisme.

    ReplyDelete