Hari Bumi dan Keluarga Pelangi

Monday, April 10, 2017




What about sunrise? What about rain?
What about all the things that you said we were to gain?
What about killing fields? Is there a time?
What about all the things that you said were yours and mine?
Did you ever stop to notice all the blood we’ve shed before?
Did you ever stop to notice this crying Earth, these weeping shores?
-Michael Jackson, Earth Song

Sungguh ku akui, tema hari ini sangat menarik. Apresiasi tertinggi bagi admin yang mengusulkan tema ini. Hari Bumi, yang secara internasional diperingati setiap tanggal 22 April, setahu saya dimulai dari sebuah gerakan reformasi lingkungan di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Tidak, saya tidak akan berbicara tentang sejarah Hari Bumi atau skenario sosial politik yang melatarbelakanginya, yang mana sudah banyak dibahas dan dapat ditemukan hanya dengan memasukkan beberapa kata kunci terkait pada laman pencarian Google. Saya justru tertarik dengan sebuah kata yang ditulis oleh admin pengusul tema ini, yaitu Kalpavriksha. Setelah mencari tahu lebih lanjut, Kalpavriksha atau yang orang Indonesia pada umumnya lebih kenal dengan sebutan Kalpataru, dalam mitologi Hindu diyakini sebagai sebuah pohon yang menjadi sumber kehidupan manusia di Bumi. Untuk itu, pada masa Orde Baru kita mengenal adanya Penghargaan Kalpataru, yang diperuntukkan bagi pihak-pihak yang menaruh kepedulian lebih terhadap pelestarian lingkungan hidup serta melakukan aksi nyata atas kepedulian tersebut, seperti penanaman pohon. Tidak, saya juga tidak akan berbicara tentang Kalpataru baik sebagai keyakinan maupun penghargaan. Namun, terkait Hari Bumi dan aksi tanam pohon sebagai simbol dari pelestarian lingkungan hidup, saya jadi terpantik untuk menulis tentang sebuah komunitas internasional bernama Rainbow Family.
Bagi teman-teman yang belum pernah mendengar atau tahu sama sekali mengenai Rainbow Family, mungkin ada baiknya bertanya pada Paman Google untuk mendapatkan gambaran awal mengenai komunitas ini, karena saya akan langsung membahas mengenai kaitan antara Rainbow Family dan Hari Bumi. Di rumah kontrakan yang saya tempati saat ini, saya tinggal bersama dua orang anggota Rainbow Family. Ya, meskipun komunitas ini tidak memiliki ikatan keanggotaan yang resmi, tetapi dua orang teman serumah saya ini sudah beberapa kali mengikuti perkumpulan komunitas ini (dikenal dengan sebutan “Rainbow Gathering”), bahkan turut bergabung dalam grup Facebook komunitas tersebut. Dua orang teman saya ini, Patricia dan Cyril, sekarang sedang aktif mempersiapkan Rainbow Gathering skala internasional yang akan diadakan di Pulau Jawa pada akhir bulan ini. Ya, mungkin waktu tersebut sengaja dipilih karena bertepatan dengan Hari Bumi. Nah, karena persiapan tersebut, alhasil rumah sekarang ini dipenuhi para Rainbowers (bukan istilah resmi) dari seluruh penjuru dunia. Hingga tulisan ini saya tulis, saat ini di rumah sudah ada Flo dari Jerman, Anton dari Rusia, dan Koji dari Jepang, serta dua orang lagi yang saya sudah sempat berkenalan namun lupa nama mereka karena belum sempat mengobrol. Sebagai tambahan, tetangga depan rumah adalah Rainbowers dari Indonesia bernama Brigail.
Selama bermalam-malam mereka selalu berdiskusi mengenai Rainbow Gathering ini. Alhasil saya pun jadi penasaran untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai mereka, kegiatan yang mereka lakukan, serta visi dan misi yang mereka miliki dalam komunitas tersebut. Orang pertama yang saya tanya tentu saja adalah pasangan saya sendiri yang pernah satu kali mengikuti Rainbow Gathering pada tahun 2013 di Pulau Kalimantan. Pasangan saya memberikan pandangan yang cukup kritis mengenai komunitas ini. Seperti dapat dibaca dalam berbagai sumber, Rainbow Family memiliki fokus pada perdamaian dunia dan egalitarisme, dengan isu ekologi sebagai salah satu konsentrasinya. Seperti yang bisa dibaca dari berbagai sumber pula, Rainbow Family dan ritual Gathering-nya menuai beberapa kontroversi. Menurut penuturan pasangan saya, kontroversi tersebut muncul karena adanya pergeseran makna dan pola dalam komunitas itu sendiri ketika melakukan ritual perkumpulan mereka, termasuk ketika ritual tersebut diterapkan di negara dengan kondisi masyarakat yang sangat unik, yaitu Indonesia.
Berdasarkan observasi saya selama beberapa hari terakhir, sebenarnya Rainbow Family memiliki visi dan misi yang sangat mulia. Saking mulianya, visi dan misi tersebut menjadi utopis. Kepedulian akan lestarinya lingkungan hidup menjadi salah satu hal yang mempersatukan Rainbow Family, setidaknya itu yang saya temukan dari Patricia, Cyril, Anton, Flo, Koji, dan Brigail. Dalam praktiknya, salah satu kegiatan yang mereka lakukan ketika Gathering adalah menanam pohon di lokasi Gathering tersebut. Jadi, Gathering yang diselenggarakan oleh Rainbow Family ini biasanya berlangsung selama satu bulan atau lebih. Mereka akan berkemah di sebuah hutan yang jauh dari peradaban dalam kurun waktu tersebut. Praktisnya, mereka melepaskan segala atribut modernitas dan menjalani kehidupan layaknya suku pedalaman selama Gathering berlangsung. Menariknya, ketika Gathering ini adalah skala internasional, maka kita akan menemukan seluruh pegiat Rainbow Family dari berbagai negara tumpah tuah di sana; puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan. Lalu, mengapa tadi saya mengatakan “utopis”? Bayangkan saja, dengan banyaknya orang yang tinggal di dalam hutan dalam jangka waktu yang cukup lama, tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada bagian dari sistem ekologi itu sendiri yang terganggu, bukan? Padahal, cita-cita mulia dari Rainbow Family itu sendiri adalah untuk melanggengkan sistem ekologi yang ada.
Saya tidak akan menulis panjang lebar mengenai Rainbow Family di sini. Selain karena saya belum melakukan penelitian lebih lanjut, juga karena saya ingin memantik rasa penasaran teman-teman terhadap komunitas yang menurut saya unik dan menarik ini. Satu hal yang ingin saya sorot dari kaitan antara Hari Bumi dan Rainbow Family adalah, mengutip kata Flo, tidak semua aktivis lingkungan hidup mengerti dan paham betul mengenai apa yang mereka bela dan perjuangkan. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhi di sana; intrik sosial, politik, budaya, dan lain sebagainya. Pun dengan Rainbow Family, tidak semua para pegiat dalam komunitas tersebut mengerti dan paham betul mengenai apa yang dicita-citakan. Menurut pasangan saya, tidak semua orang dalam Rainbow Family merupakan sosok-sosok seperti Flo dan Anton yang cukup kritis dan well-literate. Hal ini tentunya sangat disayangkan mengingat komunitas ini sesungguhnya memiliki potensi untuk membawa perubahan pada masyarakat dunia, mengingat posisinya sebagai salah satu komunitas internasional terbesar di Bumi.
Pada akhirnya, apabila ingin menjadikan Hari Bumi bukan hanya sebagai sebuah perayaan melainkan juga sebagai momen reflektif, ada baiknya kita mengerti dan memahami terlebih dahulu mengenai apa yang harus kita bela dan perjuangkan untuk melestarikan lingkungan hidup. Dan tentu saja, itu bukan sesuatu yang mudah, karena memahami isu ekologi berarti kita juga harus mampu memahami segala intrik sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang berjalin-kelindan di dalamnya. Langkah riil yang bisa dilakukan ya apa lagi kalau bukan membaca lebih banyak dan berbincang dengan lebih banyak orang mengenai hal ini. Pada tataran praktis, bisa kita mulai dengan membuang sampah pada tempatnya; satu hal sederhana yang belum disadari dan dipraktikkan oleh banyak dari kita. Selain itu, ada baiknya kita menanam pohon Kalpavriksha kita sendiri, terlepas dari apapun keyakinan kita. Lagipula, Bumi adalah milik kita bersama. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?

What have we done to the world? Look what we’ve done.
What about all the peace that you pledge your only son?
What about flowering fields? Is there a time?
What about all the dreams that you said was yours and mine?
Did you ever stop to notice all the children dead from war?
Did you ever stop to notice this crying earth, these weeping shores?
-Michael Jackson, Earth Song

You Might Also Like

2 komentar

  1. Menarik ini. Rainbow Family. Di Jogja ada komunitasnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada Mod.. the thing is, mereka gak punya struktur organisasi, jadi gak ada kantor sekre dsb. Tapi aku ada kontak beberapa anggotanya kalau kamu tertarik, atau bisa datang langsung ke world gathering yang bakal mereka mulai selenggarakan akhir bulan ini.

      Delete