Akhir Pekan dan Hal-Hal yang Diperlukan

Saturday, April 08, 2017



Katanya, akhir pekan dimulai sejak hari Jum’at malam, ketika orang-orang selesai dari rutinitas sekolah atau kerja mereka, dan berakhir pada Minggu malam, ketika mereka bersiap untuk memulai kembali rutinitas sekolah atau kerja pada hari Senin. Sejujurnya bagi saya, lupa tepatnya sejak kapan, setiap hari terasa seperti akhir pekan. Yang membedakan hanya ketika Sabtu dan Minggu saya tidak bisa ke kantor (baca: kampus). Bukan karena tidak bisa, tetapi karena malas meminta izin ke pihak SKKK alias satpam kampus untuk dibukakan pintu. Mengapa setiap hari terasa seperti akhir pekan? Mungkin karena sifat pekerjaan yang santai dan tidak selalu harus dilakukan di kampus. Mungkin juga karena seringnya saya menghabiskan akhir pekan juga dengan bekerja. Jadi, ya, setiap hari terasa seperti akhir pekan, baik itu dalam artian positif maupun negatif. Ketika tema tulisan hari ini berusaha mengajak saya untuk tidak hanya membahas soal kegiatan akhir pekan yang antimainstream, tetapi juga mengajak saya berpikir kembali tentang (benar-benar) diperlukannya kegiatan akhir pekan itu, maka mau tak mau saya melakukan refleksi atas kegiatan akhir pekan yang telah saya jalani sepanjang eksistensi saya ini.

Ketika Sendiri
Tidak menarik hal-hal yang saya lakukan pada akhir pekan ketika saya sendiri. Sebagian besar waktu saya habiskan untuk beristirahat (baca: tidur). Sebagian besar waktu yang lain saya habiskan untuk menonton serial drama Korea, atau Barat. Jika saya masih punya waktu di luar yang saya habiskan untuk tidur dan menonton serial, maka saya menghabiskannya dengan membaca buku (seringnya novel, atau buku narasi sejarah dan nonfiksi kalau saya bosan membaca novel atau tidak ada novel yang bisa dibaca). Jika saya masih punya waktu lainnya, maka saya akan menulis. Saya adalah orang yang betah berada di dalam ruang pribadi; saya bisa betah berada di dalam kamar atau rumah selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari , cukup dengan berbekal rokok dan teh atau kopi. Terkadang ketika saya suntuk berada di dalam kamar, saya akan keluar untuk mencari udara segar. Itu pun dengan catatan apabila saya sedang memiliki uang, karena ketika saya keluar sendirian, pasti tujuannya adalah ke toko buku atau ke butik, yang mana itu berarti saya akan menghabiskan sejumlah uang untuk membeli, membeli, membeli... memang dasar konsumen.
Ya, kegiatan-kegiatan itu bisa dibilang mainstream, karena saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang biasa melakukan kegiatan tersebut ketika akhir pekan. Mengenai perlu tidaknya kegiatan akhir pekan itu, menurut saya tentu saja perlu. Pertama, setiap orang butuh istirahat; tidur yang bukan saja hanya untuk bangun keesokan paginya lalu mandi dan pergi untuk bekerja atau bertemu dengan orang-orang, tetapi tidur yang benar-benar sanggup kita nikmati tanpa batas waktu tertentu untuk bangun lalu mandi dan melakukan sesuatu.  Kedua, setiap orang butuh waktu yang berkualitas dengan dirinya sendiri. Bagi saya, waktu-berkualitas-dengan-diri-sendiri itu adalah menghibur diri dengan serial drama, buku, menulis, dan berjalan-jalan seorang diri. Pada tataran ini saya menjadi sadar, bahwa saya tidak bisa mendapatkan kedua hal tersebut pada hari kerja (baca: Senin sampai Jum’at), karena pada hari-hari tersebut pasti ada saja orang yang mencari saya untuk bertemu, entah soal pekerjaan di kampus, bantuan bimbingan skripsi, atau produksi film dokumenter. Ternyata, setiap hari tidak selalu terasa seperti akhir pekan.

Ketika Bersama Orang Lain
Dua tahun belakangan saya jarang menghabiskan akhir pekan seorang diri. Meskipun saya masih sering meluangkan waktu untuk menghabiskannya seorang diri, banyak akhir pekan yang menyita waktu saya untuk berkegiatan dengan orang lain. Kegiatan yang saya lakukan bersama orang lain pada akhir pekan pun terbagi menjadi beberapa jenis. Pertama, (lagi-lagi) soal pekerjaan; baik itu untuk kepentingan akademis maupun untuk kepentingan produksi film dokumenter. Pada saat-saat seperti itu biasanya saya bertemu dengan beberapa orang di berbagai tempat. Seringnya, saya melakukan kegiatan itu bersama pasangan saya. Kedua, reuni dengan beberapa teman lama. Kegiatan ini jarang terjadi; mungkin hanya satu kali dalam beberapa bulan. Biasanya kami berkumpul di rumah salah satu teman untuk kemudian pergi bersama ke mall atau kafe, untuk sekadar merasakan menjadi anak gaul masa kini yang nongkrong di tempat-tempat hits (baca: kapitalis muda tulen), sekaligus mencari bahan untuk dikritik, karena gambaran kehidupan masyarakat modern yang terlena oleh modernisasi seluruhnya dapat kita temukan dalam mall dan kafe.
Kegiatan jenis ketiga adalah kegiatan yang paling saya sukai sekaligus (sayangnya) paling jarang terjadi: liburan. Yang saya maksud dengan liburan di sini adalah pergi ke luar rumah, mengunjungi tempat-tempat tertentu, dengan tujuan yang murni hanya untuk mencari hiburan (dan menghabiskan uang) saja; serta yang paling penting, tidak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan. Terkadang bersama keluarga, terkadang bersama teman-teman, namun kini seringnya bersama pasangan. Jujur hingga saat ini saya masih belum bisa memilih untuk lebih menyukai pantai atau gunung, tetapi yang jelas, tujuan favorit saya ketika liburan adalah historical sites, entah itu museum, monumen, candi, pokoknya tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Mall tentu saja bukan pilihan. Bagi saya mall bukan tempat hiburan apalagi liburan. Bagi saya mall hanyalah surga yang diciptakan oleh para kapitalis untuk memperkuat perekonomian mereka dengan dalih membangun peradaban. Oke, sepertinya saya terlalu kritis dan sinis. Cukup tentang mall.

Mungkinkah akhir pekan hanya konstruksi yang menjebak kita dalam rutinitas baru yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan? Jawabannya selalu mungkin. Lagipula, seperti kata Eyang Friedrich Nietzsche, bahwa tidak ada fakta dan yang ada hanyalah interpretasi. Menurut interpretasi saya, segala yang berada pada tataran sosial adalah hasil konstruksi dari sosial (baca: masyarakat) itu sendiri. Konsep “akhir pekan” bisa jadi hanyalah konstruksi. Namun bagaimana kita menghabiskannya, kegiatan apa yang kita lakukan untuk menghabiskannya, serta bersama siapa kita menghabiskannya, itu semua kembali pada pilihan kita masing-masing. Kata Eyang Jean-Paul Sartre, menjadi manusia berarti menjadi bebas dengan pilihannya sendiri. Maka, jadilah bebas dengan pilihanmu. Jadilah manusia. Bagi saya, itulah cara mengisi waktu luang yang ideal: melakukan apa yang ingin kita lakukan. Baik kegiatan itu diperlukan atau tidak, semua kembali pada interpretasi masing-masing. Selama kita menginginkannya, mengapa tidak kita lakukan?

You Might Also Like

0 komentar