Namun

Wednesday, December 28, 2016




Jiwa meranggas,

lara di paras,
derai air mata menyesakkan nafas.

Masih teringat jelas malam itu di akhir bulan Desember, hujan deras yang turun, langkah kakimu yang tergesa meninggalkanku, teriakan penuh kemarahanmu.

Masih teringat jelas suatu malam di awal bulan November, ku berjalan seorang diri setelah kau tinggal begitu saja di pusat perbelanjaan megah itu.
Masih teringat jelas suatu malam di pertengahan bulan Oktober, ku dapati dirimu bermalam dengan wanita lain ketika ku tengah berada jauh di seberang pulau.

Namun ...


Masih teringat jelas pula hangat ruas jemarimu ketika meraih tanganku, mengiringiku berjalan melintasi lumpur di tengah festival musik jazz di pedesaan itu.

Masih teringat jelas pula hangat dekapanmu ketika mencoba meredakan tangisku, senyum yang kau bagi sembari menghapus air mata yang menderas di pipiku.
Masih teringat jelas pula hangat tatap matamu setiap kali kau ucap tiga kata itu untukku, disertai manis kecup bibirmu tiap kali kita melepas rindu.

Bahkan dalam jiwa yang tengah meranggas,

dengan segala lara yang menderai di paras,
dan seluruh air mata tertumpah menutup nafas,
ingatan indah tentang kita masih terpatri jelas.

Meski malam ini,

jiwaku meranggas.

M.F

You Might Also Like

0 komentar