Repetisi (I)

Wednesday, November 25, 2015



source: 17alsey.co.vu

Lucu, ya?
Mungkin ketika membaca frase “Lucu, ya?” barusan, kau bisa membayangkan bagaimana suara dan nada bicaraku. Ya, aku mengatakannya terlalu sering.

Lucu, ya.
Kesepakatan itu telah dibuat, aku tahu. Namun entah bagaimana, entah mengapa, rasanya masih ada saja sesuatu yang mengganjal. Mungkin memang ini burukku. Selalu saja tak semuanya berhasil terkatakan. Selalu saja ada yang tersisa, yang pada akhirnya harus tertuliskan. Tak ada cara lain, karena mungkin sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa mengatakannya dengan mulutku sendiri. Mungkin terlalu menyesakkan bagiku. Mungkin takut menyakitimu. Mungkin takut merusak suasana antara kita. Dan berbagai mungkin lainnya yang selalu berkecamuk di kepalaku. All the time. Always. Aku selalu berkata padamu, “You’re thinking too much.” Ironisnya, justru aku yang sepertinya berpikir terlalu banyak. Saking banyaknya, kunafikkan semua. Kupaksa untuk terpendam. Kualihkan ke alam bawah sadar. Ujung-ujungnya, kutuangkan ke tulisan. Sehingga ketika kita berjumpa, tatap mata, tatap muka, kau hanya sanggup melihat yang sederhananya saja. Padahal sesungguhnya, kerumitan itu kukubur dalam-dalam.
Nah, sekarang aku bingung harus mulai dari mana. Hmmm, well, well.

Oke, aku mulai dari judul tulisan ini. Repetisi. Menurut KBBI, artinya pengulangan. Dan memang itu yang ingin aku maksudkan dengan memasang kata tersebut sebagai judul tulisanku. Repetisi. Kamu sempat bilang, kurang lebih, namun makna yang kutangkap demikian: “Kita seperti terjebak dalam siklus yang sama, dengan orang-orang yang sama.” Ya, mungkin saja. Mungkin saja iya. Mungkin saja tidak. Menurutku, tetap saja, kita punya pilihan. Aku punya pilihan. Kamu pun punya pilihan. Terjebak dalam pengulangan atau tidak? Itu semua tergantung pada pilihanku, pilihanmu, dan pilihan kita. Pertanyaannya adalah, ketika kamu merasa terjebak dalam pengulangan itu, apakah kamu benar-benar terjebak, atau sesungguhnya kamu sengaja menjebakkan diri? Menjebakkan diri pada apa? Pembicaraanmu selalu berkutat di seputar nilai dan moral. Sudah aku coba berkali-kali untuk membawamu ke tataran realitas, jauh melampaui nilai dan moral yang selalu kau pegang teguh itu. Namun selalu gagal. Mungkin kau terlalu keras. Mungkin aku terlalu lelah. Atau mungkin, encoding dan decoding kita tak bertemu makna. Sehingga yang terjadi, kau salah tangkap atas apa yang aku coba sampaikan selama ini.

Aku, kamu, kita, tak akan terjebak dalam repetisi ini, seandainya... kamu punya ketegasan. Sesederhana itu. Pun rupanya ketegasan itu menurutmu sudah ada. Dalam wujud apa? Yang aku tangkap darimu, kamu tegas untuk tidak memilih. Yang aku rasa atas itu, kamu tegas untuk tidak memilih aku pada akhirnya. Repetisi. Pada titik ini repetisi terjadi. Terlepas dari seberapa berbedanya proses yang telah kita lalui, bagimu, akhirnya tetap saja sama. Sementara tidak bagiku. Pada titik ini aku merasa “kita” nyaris kehilangan makna. Kemudian aku teringat salah seorang teman pernah bertanya, “Pernah kau minta dia untuk memilih?” Jawabku, “Aku tak mau jadi pilihan. Di samping itu, aku malas.” Dia bilang, “Kamu malas, atau kamu takut?” Mau tak mau harus kuakui bahwa bagian ini berhasil menusuk-nusuk relung hatiku yang paling dalam. Semena-mena memang. Takut? Takut. Ya, takut. Mengapa? Mungkin karena aku sudah tahu jawabannya. Mungkin aku pesimistis. Ya, memang. Pengalaman mengajariku untuk jadi demikian.Untuk apa menegaskan rasa sakit? Aku masokis, memang. Tapi tidak untuk kali ini. Pengalaman mengajariku untuk cukup tahu.
Aku tak mungkin memaksamu untuk memilih. Mungkin karena aku terlalu takut. Aku tak mungkin bertanya padamu tentang pilihan. Mungkin karena aku tak sampai hati. Mungkin itu semua hanya asumsiku. Ya, aku tenggelam dalam asumsi-asumsi yang aku bangun sendiri. Tanpa pernah berani melakukan konfirmasi padamu. Memang tak mungkin pilihan itu berakhir di aku, bukan?

Aku, kamu, kita, tak akan terjebak dalam repetisi ini, seandainya... aku punya kematangan. Ini ada kaitannya dengan yang pernah dikatakan Kant soal “pencerahan”. Dia bilang pencerahan adalah kebangkitan manusia dari ketidakmatangan dirinya. Ketidakmatangan itu sendiri, menurut Kant adalah ketidakmampuan untuk menggunakan pemahaman dirinya tanpa petunjuk orang lain. Pertanyaannya, sudah kah? Oke, sebelum sejauh itu, pertanyaan yang lebih tepat adalah, sanggup kah? Sanggupkah aku tercerahkan? Jawabannya ternyata belum. Aku belum mampu mencapai pemahaman tanpa petunjuk orang lain. Aku belum punya kematangan itu. Aku tak bisa memahami nilai yang kau pegang. Pada titik ini sudut pandang kita berbeda. Aku sadari itu. Aku coba hargai dan hormati itu. Aku coba menawarkanmu sudut pandang yang baru. Namun sepertinya kau tak mau. Atau kau hanya pura-pura tak tahu.

Dariku, terlalu banyak ketakutan. Kamu sendiri pernah bilang padaku, bahwa sesungguhnya aku punya banyak pertanyaan, yang kusimpan sendiri. Ya, kamu tak salah. Banyak pertanyaan yang kusimpan. Sengaja aku memilih untuk menyimpannya. Lagi-lagi, mungkin karena aku pesimistis. Mungkin karena aku penuh asumsi. Asumsi yang selalu menempatkanku sebagai objek paling tak berarti dalam repetisi ini. Tak ada posisi tawarnya. Lemah. Bisa kau hempas kapan saja kau mau. Bisa kau genggam kapan saja kau raih. Anehnya, aku menikmati itu. Sakit. Masokis. Aku tak tercerahkan. Bila bisa kutanyakan secara gamblang padamu, bagimu, adakah sesungguhnya “kita” itu?

Kita selalu berujar satu sama lain, “We never know what the future brings.” Memang benar. Empat tahun yang lalu tak terbersit pikiran bahwa kita akan sampai pada titik ini empat tahun kemudian. Pun tahun-tahun ke depan masih misteri bagi kita. Namun, seperti yang telah kusampaikan padamu, aku punya satu permintaan untuk masa depan. “Seandainya kita tak berakhir bersama, jangan pernah kau tinggal di kota ini lagi.” Kau pun mengiyakan permintaanku dengan janji. Semoga kau dapat menepati. Mengapa sampai terucap permintaan itu dariku? Karena aku tahu, aku tak akan sanggup melihat gambaranmu bersama orang lain. Tidak bila itu terjadi di sini, di kota ini. Tidak akan mampu. I just can’t bear it.

Demikian. Bila kau teliti, ada dua pertanyaan besar yang selama ini menggantung di pikiranku. Dua pertanyaan yang tak pernah dapat tersampaikan melalui mulutku. Dua pertanyaan yang menjadi representasi atas ketakutan terbesarku. Dua pertanyaan dengan dua asumsi jawaban, serta dua negasi atas asumsi jawaban itu. Namun semuanya masih tersimpan rapat-rapat. Tak terucap olehku. Namun tertulis di sini. Mungkin tersirat. Mungkin tersurat. Mungkin kau sanggup menangkapnya. Mungkin tidak. Semoga kali ini encoding dan decoding kita menemukan maknanya.
Mari kembali ke awal tulisan: kesepakatan itu telah dibuat. Mungkin memang harus begini jalannya. Aku masih punya waktu. Kita, masih punya waktu. Kalau kamu masih ingat kode yang pernah kita tulis dan sepakati bersama, saat ini aku biru.

You Might Also Like

0 komentar