Repetisi (II)

Sunday, November 29, 2015


source: weheartit.com

Pernah pada suatu waktu kau berujar padaku melalui sebuah pesan,
“I’m worried because I care for you.”

Sudah sekitar dua minggu berlalu sejak kesepakatan itu kita buat bersama. Namun masih saja aku resah dibuatnya. Mungkin ada yang salah. Kalau skripsi dan tesis saja masih bisa direvisi, mengapa tidak demikian halnya dengan kesepakatan kita? Mungkin ada baiknya kita pikirkan kembali.

Seperti yang pernah kau bilang, menyenangkan apabila kita mempunyai seseorang yang peduli pada kita. Namun, seperti yang pernah kau bilang juga, kebahagiaan itu datangnya selalu satu paket dengan ketakutan. Rasa takut akan kehilangan. Kehilangan atas apa? Kau bilang atas kepedulian itu. Aku bilang, aku takut kehilanganmu. Dan waktu-waktu yang bisa kita dapati bila kita bersama. Sesederhana itu.
Kamu selalu bilang bahwa kamu tak bisa ‘membaca’ku. Mungkin karena aku berpikir terlalu banyak tanpa pernah bisa mengungkapkannya langsung melalui mulutku. Mungkin karena rumitku tertutup rapat oleh lapisan-lapisan lain yang kubiarkan kasat mata. Di sini akan aku coba urai satu-persatu. Tapi tahu kah kau? Sesungguhnya terkadang aku pun menemukan diriku kesusahan ketika ingin ‘membaca’mu.

Aku tertambat pada kepedulian yang kau tawarkan. Namun, seperti yang mungkin kau rasa dan sadari selama ini, aku berusaha melawannya. Mengapa? Salah satunya, karena takut. Takut apa? Pertama, aku takut akan adiksi. Adiksi hadir melalui sebentuk keterikatan. Keterikatan itu hadir melalui kepedulian. Hal ini mengarahkanku pada ketakutan kedua sekaligus terbesarku: detachment. Aku tak sanggup menemukan padanan kata yang tepat menggambarkan ‘detachment’ dalam bahasa Indonesia. Mungkin bisa disebut sebagai ‘terlepas dari keterikatan’. Dan itu yang paling aku takutkan, sesungguhnya. Sehingga yang terjadi selama ini adalah: aku merepresi. Apa yang kurepresi? Perasaanku sendiri. Aku merepresi. Telah kucoba setengah mati. Namun sepertinya aku gagal. Rasa ini terlalu besar, rupanya. Aku hanyut terlalu dalam, ternyata. Memang benar. Lemah diriku telah membuktikannya. Aku membutuhkanmu lebih daripada kau membutuhkanku. Dan kini aku tak lagi bisa menafikkan satu variabel lain di antara kita: dia.
Selama ini aku menghindari bicara tentangnya, kalau kau menyadari itu. Bukan karena aku tak mau tahu, tapi karena aku merasa cukup tahu. Cukup tahu akan batasku. Cukup tahu akan batas kita. Batas-batas yang kita konstruksikan sendiri. Kali ini aku akan melanggar batas itu. Mengapa? Ada dua hal yang mengusik perasaanku. Pertama, setelah kita berdua buat kesepakatan itu, kau menanggalkan foto dia dari dinding kamarmu. Mengapa kau lakukan itu? Mungkin tak berarti apa-apa. Mungkin hanya mencoba menghormati perasaanku. Mungkin kau hanya sedang ingin menanggalkannya saja, tanpa ada tujuan tertentu atas itu. Begitu ingin aku menanyakannya langsung padamu. Namun aku tak sampai hati. Maafkan. Namun lucunya, hal kedua yang mengusik perasaanku datang seiring dengan jawaban atas hal pertama tadi. Satu malam kau bicara tentangnya. Timing-nya memang kurang tepat, kalau boleh kubilang. Aku sedang dalam hari tersuramku karena pekerjaan. Yang kubutuhkan adalah pelukan hangat, bukan punggung bidangmu yang kau hadapkan padaku ketika tidur; terasa dingin. Yang kuinginkan adalah canda tawa, bukan sendu sedihmu. Namun lagi-lagi, bila sudah menyangkut dirimu, aku bisa apa? Kalau kau sadari, kau selalu menang atasku. Dan aku selalu menyerah, kalah.

Jadi di sinilah, lagi, kegelisahanku bermuara pada tulisan. Seperti sudah kutuliskan di atas, akan kucoba urai satu-persatu benang kusut perasaanku ini. Pertanyannya adalah, dan selalu saja sama, aku harus mulai dari mana? Hmmm, well, well. Akan aku mulai dari pemikiran yang aku dapatkan bulan lalu, ketika kau berkata padaku bahwa kalian kembali bersama.
Manusia pada dasarnya berbeda. Meski berangkat dengan premis yang sama, alur cerita tak akan berjalan sama bila dimainkan oleh aktor yang berbeda. Namun kalian menyamaratakan karakter setiap orang, sebagai upaya atas pembenaran untuk tetap bersama. Bukan salah kalian, memang. Pengalaman yang menjadikan kalian (dan aku tak tahu sebagian besar cerita yang telah kalian alami bersama). Namun tidak begitu bagiku. Yang menjadikanku adalah realitas. Dan aku percaya akan negosiasi dan kompromi. Aku bukan dia, dan aku bukan siapapun, selain diriku sendiri. Denganku, kita bisa punya akhir yang berbeda. Mungkin kau tak mau. Mungkin kau hanya pura-pura tak tahu. Jangan katakan kalau kau tak bisa, karena kau pun sesungguhnya tahu, kau sebenarnya bisa.

Kamu tak pernah bisa mengatakan “iya” padaku. Bagimu, pada akhirnya selalu aku yang harus melangkah pergi. Mungkin bagimu, aku adalah satu-satunya di antara kita bertiga yang mampu menghadapi realitas. Tak pernahkah terbersit di benakmu bahwa aku hanyalah manusia biasa? Bagiku, yang kalian lakukan hanyalah menutup mata. Lalu untuk apa aku bertahan denganmu? Aku cinta. Sesederhana itu. Aku ingin bersama. Aku ingin kita berdua menjadi. Aku ingin kau hadapi realitas, denganku. Pada tataran ini memang pemikiran Deleuze terlalu mempengaruhiku: sepanjang hidup kita mencari ‘ada’ seperti itu bisa ditemukan, mengapa bukan diciptakan? Ketimbang menemukan dan menunjukkan batas-batas yang ada, bagaimana bila kita menciptakannya? Tak lelahkah kau dengan artifisialitas yang kau jalani dengannya? Atau mungkin aku yang terlalu naif, karena percaya begitu saja ketika kau bilang padaku bahwa kini kau dengannya hanya artifisial semata? Apakah aku terlalu naif karena percaya ketika kau bilang bahwa kau menerimanya kembali atas dasar rasa iba dan tanggung jawab? Mungkin dia mengambilmu kembali karena tak ingin kau menjadi milik orang lain, terutamanya aku. Tak bisakah kemenjadian itu kita ciptakan bersama, antara kita saja? Lalu malam itu, kau berkata padaku bahwa kalian telah berpisah, lagi. Entah sampai kapan kali ini.

Melihat gundahnya dirimu malam itu ketika bicara tentangnya, perasaanku… tak terdefinisikan. Bila diibaratkan, seperti gedung roboh dalam film “Spectre” yang pernah kita tonton bersama. Hancur. Perlahan namun seketika. Sedikit demi sedikit namun seluruhnya. I hate seeing you being devastated like that. Moreover, I hate it when it’s because of someone else. Mungkin memang aku yang terlalu naif. Mungkin aku memang bukan orang yang bisa menyakitimu sampai seperti itu; tak sepenting itu hingga bisa melukaimu sedemikian dalam; tak ada signifikansinya sama sekali. Kemudian kau berkata, “Aku hanya terlalu ingin menyenangkan semua orang.” Dalam hati aku berkata, “Ketika kau tak bisa menyenangkan semua orang, ketika harus ada orang yang kau kecewakan, tak apa kalau orang itu harus aku. Sungguh, tidak apa-apa.” Lihat, kan? Kalau kau sadari, aku selalu menyerah atasmu. Dan kau selalu menang, berkuasa. Mengapa? Aku ingin kau bahagia. Sesederhana itu. Desublimasi represif, meminjam istilah Marcuse. Pikiran dan tindakan mengalami dominasi, namun secara sadar kita merasa senang dan terus melakukannya. Terlarut dan tak bisa lepas. Adiksi.

Kita bisa punya akhir yang lain. Akhir yang tak akan berujung pada repetisi. Sudah kucoba tawarkan itu padamu. Mungkin kau tak mau. Mungkin kau hanya pura-pura tak tahu. Bahwa sesungguhnya ada akhir yang lain itu. Bila bisa kunyatakan secara gamblang padamu, sesungguhnya aku tak mau repetisi itu terjadi. Ingin sekali kukatakan kepadamu: “Sudah, jangan lagi menatap ke belakang. Sayang-sayanglah hatimu itu. Kau hanya punya satu.” Namun, siapalah aku untuk berkata seperti itu padamu?
“I’m not young. I’m not pretty. Just an unworthy sick person. I don’t deserve you. You deserve better.”

Pernyataan di atas, mungkin itu hanyalah gimmick. Mungkin itu perwujudan dari rasa pesimisku. Mungkin itu hasil konstruksi atas repetisi yang mungkin terjadi. Mungkin itu simplifikasi atas berbagai alasan yang menggantung di udara.
Maaf bila tulisan ini telah melanggar batas kalian. Mungkin aku tidak berhak. Mungkin berhak. Mungkin justifikasi semata.
Mungkin efek anestesi yang telah lama memudar. Mungkin efek pre-menstruation syndrome. Mungkin efek badan yang kelelahan. Mungkin efek pikiran yang keresahan. Mungkin efek sakit kepala yang tak kunjung sirna. Mungkin efek terlalu rindu. Terlalu biru. Memar. Lebam.

Aku tahu kau punya sejuta masalah yang jauh lebih membebanimu ketimbang ini. Pun begitu denganku. Di satu sisi, tak mengapa, karena sesungguhnya tak pernah ada inginku untuk menjadi beban bagimu. Di sisi lain, aku kesulitan mencari timing yang tepat untuk mengutarakan semuanya kepadamu. Takut mengganggu konsentrasimu. Takut memberi beban. Takut meresahkanmu. Bahkan untuk sekadar mengunggah tulisan ini pun, yang sebenarnya sudah mulai kutulis sejak memasuki minggu kedua pasca kita buat kesepakatan itu. Dan akhirnya selesai di tanggal 25, walau tak kunjung juga ku unggah ke sini, hingga hari ini.

Kembali ke awal tulisan: sepertinya kesepakatan itu perlu kita revisi. Aku tawarkan padamu. Mari kita bicarakan ketika kita berdua telah sama-sama siap. Jangan sampai jadi beban. Kita bersama untuk bahagia, bukan?

“I love you. Sincerely. And that’s all I know.”

You Might Also Like

0 komentar