Melancholic Bastards

Friday, October 31, 2014

Akhirnya kita semua tiba di penghujung bulan Oktober, bulan yang 31 hari yang lalu saya nobatkan sebagai bulan patah hati, the month of broken heart. Karena itu, tema artikel di blog ini sepanjang bulan Oktober adalah patah hati. Jika sebelumnya saya membuka tema bulan ini dengan membuat daftar delapan lagu Barat yang paling mematahkan hati dari para penyanyi wanita (bagi yang terlewat bisa membaca lagi di sini), maka sekarang saya akan menutup tema bulan ini dengan membuat sebuah daftar lain. Masih tentang lagu-lagu patah hati, daftar ini adalah daftar sepuluh lagu Indonesia yang paling mematahkan hati dari para band dengan vokalis pria. Itulah sebabnya mengapa artikel ini diberi judul “Melancholic Bastards”. Selain terinspirasi dari nama salah satu grup band favorit saya, Melancholic Bitch, judul ini juga menggambarkan betapa hebatnya kekuatan musik mereka sehingga mampu meluluhlantakkan hati para pendengarnya. What a bastard, right? So, saya ingatkan sekali lagi bahwa daftar ini saya susun murni berdasarkan selera saya pribadi, bukan atas dasar survei atau jajak pendapat dari manapun. Silakan menikmati, dan selamat menyambut bulan November. Let’s move on from this month of broken heart.

10. ADA Band – Setengah Hati (2004)



Membuka daftar ini di posisi sepuluh, ada ADA Band dengan lagu hits mereka, “Setengah Hati”. Lagu ini pertama kali dirilis pada tanggal 1 Juli 2004, sebagai bagian dari album kelima ADA Band, “Heaven of Love”. Dari judul saja sudah terbaca betapa nelangsanya lagu ini, “Setengah Hati”. Lagu ini berkisah tentang seseorang yang cintanya tak terbalas. Pada hakikatnya, sebuah relasi cinta adalah dua arah. Apabila hanya satu arah saja, maka dapat terbayang sudah rasa sakit yang harus ditanggung oleh pihak yang mencinta itu. “Tertegun ku memandangmu, saat kau tinggalkan ku menangis. Bodohnya ku mengerang pun, jelas sudah takkan kau pedulikan cintaku. Mestinya t’lah ku sadari, berapa perih cinta tanpa balasmu. Harusnya tak ku paksakan, bila akhirnya ‘kan melukaiku.” Namun terkadang, seseorang tak dapat memilih kepada siapa ia jatuh cinta. Bahkan ketika cinta itu hanya sepihak saja, ia rela menanggung segala kesakitan itu. Bahkan ketika cinta itu hanya berbalas dengan setengah hati saja, telah sanggup membuatnya merasa terobati. “Mungkin ku tak akan bisa, jadikan dirimu kekasih yang seutuhnya mencinta. Namun ku relakan diri, jika hanya setengah hati, kau sejukkan jiwa ini.”

9. Kerispatih – Tertatih (2010)



Berikutnya, di posisi sembilan, ada Kerispatih dengan lagu pertama yang mereka rilis paska hengkangnya mantan vokalis, Sammy Simorangkir, yang bertajuk “Tertatih”. Lagu ini sekaligus menjadi debut bagi vokalis baru mereka, Fandy Santoso, yang berhasil memberikan warna vokal yang baru nan segar pada melodi Kerispatih, yang memang terkenal sebagai grup band melankolis. Dari seluruh lagu Kerispatih yang ada, yang kebanyakan memang lagu patah hati, mengapa lagu ini yang masuk dalam daftar? Alasannya adalah vokalis baru mereka yang impresif. Jujur saya sedikit merasa pesimis dengan Kerispatih setelah mereka kehilangan Sammy yang notabene adalah ‘nafas’ dari musik mereka. Namun melalui lagu ini, mereka berhasil membuktikan bahwa mereka sanggup hidup dengan mempertahankan kualitas musik dan vokal yang tak kalah dengan ketika Sammy masih ada dulu. Untuk tingkat kegalauan lagu ini sendiri, tak perlu dipertanyakan lagi. Judulnya saja sudah “Tertatih”, apalagi liriknya, membuat hati orang terseok-seok ketika mendengarnya. “Aku berjalan di dalam kesendirian, aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu. Aku t’lah hancur lebih dari berkeping-keping, karena cintaku karena rasaku yang tulus padamu. Begitu dalamnya aku terjatuh dalam kesalahan rasa ini.” Dirilis pada tahun 2010 sebagai bagian dari album kompilasi, “Kerispatih and Friends”, lagu ini mengisahkan perasaan kehilangan seseorang yang baru saja berpisah dengan orang yang dicintainya begitu dalam. I’m a big fan of rock ballad, and this song is really satisfying my ears and soul. Ah, and I love the progressive drum sounds the most at the repeated chorus part near the end of the song. “ ... dan aku tertatih. Semua yang pernah kita lewati tak mungkin dapat ku dustai, meskipun harus tertatih.”

8. Samsons – Luluh (2007)



Di posisi berikutnya yaitu posisi delapan, ada grup band Samsons dengan lagu hits mereka yang berjudul “Luluh”. Dirilis pada tahun 2007 sebagai bagian dari album kedua Samsons yang bertajuk “Penantian Hidup”, “Luluh” adalah lagu rock ballad dengan sentuhan musik orkestra. This song is totally my style! Melodinya menusuk hati sejak bagian intro terdengar, gesekan biola dan denting piano di sepanjang lagu, iringan paduan suara yang mendampingi vokal melankolis Bams, hingga bagian paling akhir yang ditutup dengan sempurna. I really love how this song progresses from the beginning until the very end. Ditambah lagi, saya sangat menyukai videoklip yang dibuat untuk lagu ini, dengan Andhika Pratama dan Renata sebagai model di dalamnya. Jalan cerita videonya pun sejalan dengan kesedihan lagu ini, mematahkan hati. “Ingin ku yakini cinta takkan berakhir, namun takdir menuliskan kita harus berakhir.” Berkisah tentang seseorang yang tak sanggup merelakan kepergian orang yang ia cintai, “Luluh” adalah lagu patah hati yang tak boleh dilewatkan begitu saja. “Segenap hatiku luluh lantak mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu. Sungguh ku tak mampu ‘tuk meredam kepedihan hatiku untuk merelakan kepergianmu.”

7. Peterpan – Tak Ada yang Abadi (2008)



Di posisi tujuh ada satu lagu dari Peterpan yang bertajuk “Tak Ada yang Abadi”. Lagu ini dirilis pada bulan Agustus 2008 sebagai bagian dari album kelima Peterpan, “Sebuah Nama Sebuah Cerita”. Album ini adalah album the best of sekaligus album terakhir di mana Ariel dan kawan-kawan menggunakan nama Peterpan, sebelum akhirnya mengganti nama mereka dengan Noah. Lagu ini bercerita tentang perasaan seseorang yang berada di ambang perpisahan dengan orang yang dicintainya. “Takkan selamanya tanganku mendekapmu. Takkan selamanya raga ini menjagamu. Seperti alunan detak jantungku tak bertahan melawan waktu. Dan semua keindahan yang memudar. Atau cinta yang t’lah hilang.” Tak ada yang abadi. Tak ada detak jantung yang sanggup bertahan melawan waktu. Tak ada keindahan yang tak memudar. Tak ada cinta yang tak menghilang. Wew, despite all Ariel is surely a great poet. “Biarkan aku bernafas sejenak, sebelum hilang.” Dengan melodi yang menyayat hati, lagu ini sanggup mengiris-iris perasaan para pendengarnya. “Tak ada yang abadi, tak ada yang abadi, tak ada yang abadi, tak ada yang abadi ...”

6. Sheila on 7 – Waktu yang Tepat untuk Berpisah (2002)



Beranjak ke posisi enam, ada grup band kebanggaan kota Yogyakarta, Sheila on 7 atau yang kerap disebut sebagai SO7, dengan lagu ballad mereka yang bertajuk “Waktu yang Tepat untuk Berpisah”. Hmmm, dari judulnya saja sudah sanggup membuat para pendengarnya menghela nafas panjang. Lagu ini dirilis pada tahun 2002 sebagai bagian dari album ketiga SO7, “07 Des”, yang didaulat sebagai album Indonesia terlaris pada tahun 2002-2003 atas penjualan yang mencapai jutaan salinan. SO7 terkenal dengan lirik-liriknya yang sederhana namun puitis, serta musiknya yang easy-listening namun addictive, begitu juga dengan lagu ini, dan itulah kekuatan utama dari lagu yang super menyayat hati ini. “Dan bila kau harus pergi jauh dan takkan kembali, ku akan merelakanmu bila kau bahagia, selamanya, di sana, walau tanpaku. Ku akan mengerti, cinta, dengan semua yang terjadi, pastikan saja langkahmu tetap berarti. Bisakah aku tanpamu? Sanggupkah aku tanpamu?” Apakah benar-benar ada waktu yang tepat untuk berpisah? Apakah ada hujan yang membawa kehangatan? Apakah ada badai yang memberi kelembutan? Apakah ada perpisahan yang tidak membawa luka? “Aku tak pernah mengharap kau ‘tuk kembali saat kau temukan duniamu. Aku tak pernah menunggu kau tuk kembali saat bahagia mahkotamu. Bila kedamaian selimutmu, jangan kau kembali.” Pada akhirnya, kita memang harus merelakan orang yang paling kita cintai sekalipun untuk pergi ketika waktunya tiba, atau setidaknya mencoba untuk merelakan, seperti makna dari lagu ini. “Sehangat pelukan hujan saat kau lambaikan tangan, tenang wajahmu berbisik, inilah waktu yang tepat ‘tuk berpisah. Selembut belaian badai saat kau palingkan arah, jejak langkahmu terbaca, inilah waktu yang tepat ‘tuk berpisah.”

5. Dewa – Pupus (2002)



Daftar lima teratas dibuka dengan sebuah lagu dari grup band legendaris Indonesia, Dewa 19, “Pupus”. Lagu ini dirilis pada tanggal 5 April 2002 sebagai bagian dari album kelima Dewa 19, “Cintailah Cinta”. Pada waktu itu, Dewa 19 menggunakan nama Dewa (sebelum akhirnya sekarang kembali menggunakan nama Dewa 19), untuk menandai kembalinya mereka ke industri musik setelah lama vakum. Selain itu, “Cintailah Cinta” adalah album kedua Dewa 19 dengan formasi yang baru paska bergabungnya Once sebagai vokalis (menggantikan Ari Lasso) dan Tyo Nugros sebagai penggebuk drum. Album ini adalah salah satu album favorit saya, karena hampir seluruh lagu dalam album tak ada yang tak enak didengar. Selain itu, album ini adalah album terakhir yang merupakan sisa-sisa ‘kebaikan masa lalu’ Dewa 19, karena yahhh seperti kita tahu (atau setidaknya yang terlihat oleh saya seperti itu) bahwa kemampuan Ahmad Dhani untuk merangkai lirik sepertinya sudah jauh berkurang saat ini. Anyway, this song is everlasting. It’s a hymn for everyone who has an unrequited love. “Aku tak mengerti apa yang ku rasa, rindu yang tak pernah begitu hebatnya. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, meski kau takkan pernah tahu. Aku persembahkan hidupku untukmu, telah ku relakan hatiku padamu. Namun kau masih bisu diam seribu bahasa, dan hati kecilku bicara.” Mungkin memang tak ada hal lain selain doa, yang bisa membantu mereka yang cintanya tak berbalas. “Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku. Semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya kau pun mau.”  Satu kata untuk lagu ini; legendaris. “Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan. Kau buat remuk s’luruh hatiku.”

4. Naff – Terendap Laraku (2003)



“Terendap Laraku”, sebuah lagu dari grup band Naff, ada di posisi empat dalam daftar ini. Well, mungkin kalian akan terkejut melihat lagu ini ada dalam daftar. Mereka yang berusia lebih tua dari saya mungkin baru teringat lagi akan lagu ini ketika membacanya dalam daftar ini. Mereka yang berusia lebih muda dari saya mungkin malah baru menyadari bahwa Indonesia punya lagu seperti ini. Yup, saat ini Naff memang sudah tidak seaktif grup band lain, namun yang pasti mereka sempat meninggalkan beberapa lagu hits yang sampai sekarang masih terngiang dan teringat di benak saya, salah satunya adalah “Terendap Laraku”. It’s a genre that I love the most; rock ballad. Dirilis pada tahun 2003 sebagai bagian dari album ketiga Naff yang merupakan album self-titled, lagu ini mengisahkan seseorang yang tak sanggup menepiskan masa lalunya, yang hingga kini masih menyisakan luka mengendap dalam relung jiwa. “Resah jiwaku menepi, mengingat semua yang terlewati saat kau masih ada di sisi, mendekapku dalam hangatnya cintamu. Lambat sang waktu berganti, endapkan laraku di sini, coba ‘tuk lupakan bayangan dirimu yang selalu saja memaksa ‘tuk merindumu.” Terkadang, tak peduli seberapa lama waktu yang telah berlalu, akan selalu ada kenangan tentang seseorang bagi seorang lainnya yang takkan tergerus zaman. “Lihatlah aku di sini, melawan getirnya takdirku sendiri. Tanpamu aku lemah dan tiada berarti.” Dan pada akhirnya, luka hati selalu membawa kontemplasi diri. “Sekian lama aku mencoba menepikan diriku di redupnya hatiku. Letih menahan perih yang ku rasakan, walau ku tahu ku masih mendambamu.”

3. Padi – Semua Tak Sama (2001)



Membuka posisi tiga teratas dalam daftar ini adalah “Semua Tak Sama” dari the one and only, Padi. Again, it’s a rock ballad (yeahhh!). Dirilis pada bulan Maret 2001 sebagai bagian dari album kedua Padi, “Sesuatu yang Tertunda”, lagu ini berkisah tentang seseorang yang terikat pada bayangan orang yang ia cintai pada masa lalunya. Well, luka tak akan terasa begitu menyakitkan apabila cinta tak begitu dalam, bukan? “Dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu. Redup terasa cahaya hati mengingat apa yang t’lah kau berikan. Waktu berjalan lambat mengiring dalam titian takdir hidupku. Cukup sudah aku tertahan dalam persimpangan masa silamku.” Ironisnya, dalam cinta dan luka, segala yang menghantui justru semakin terasa nyata ketika kita berusaha menyingkirkannya. “Ku coba ‘tuk melawan getir yang terus ku kecap, meresap ke dalam relung sukmaku. Ku coba ‘tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu, mengalir mengisi laju darahku.” Memang, akan terasa sangat sulit untuk tidak melakukan perbandingan ketika kita pernah merasakan cinta yang begitu sempurna bagi kita. Tak ada yang sanggup menggantikan apa yang menjadi kehilangan kita. Tak ada yang sanggup mengisi apa yang menjadi kekosongan kita. “Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang ku sentuh, apa yang ku kecup. Sehangat pelukmu, selembut belaimu, tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu.” Namun bagian akhir dari lagu ini seolah memberi tamparan bagi kita yang tak sanggup melepaskan masa lalu. Pada akhirnya, tak ada yang harus dilakukan selain merelakan. “Sampai kapan kau terus bertahan? Sampai kapan kau tetap tenggelam? Sampai kapan kau mesti terlepas? Buka mata dan hatimu, relakan semua.”

2. Romeo – Bunga Terakhir (1999)



Tiba di posisi dua, adalah one-hit-wonder milik Romeo, “Bunga Terakhir”. Lagu ini dirilis pada tahun 1999 sebagai lagu debut dari album perdana Romeo. Mengapa lagu ini berada di posisi runner-up? Well, this song is one of a kind one-hit-wonder. It’s classic and legendary. Saya sangat menyukai sentuhan musik orkestra dalam melodi lagu ini. Ditambah lagi, vokal baritone Bebi yang dalam dan berat semakin menambah nuansa melankolis dalam lagu ini. Soal lirik, tak perlu ditanya lagi; sederhana namun menghanyutkan. “Kaulah yang pertama menjadi cinta, tinggallah kenangan. Berakhir lewat bunga, seluruh cintaku untuknya.” Lagu ini berkisah tentang seseorang yang melepaskan cinta pertamanya. “Betapa cinta ini sungguh berarti, tetaplah terjaga. Selamat tinggal kasih, ku telah pergi selamanya.” Yah, cinta pertama akan selalu jadi yang paling berkesan, bukan? Karena dari dia lah kita mengenal cinta, bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Baik disadari maupun tidak, cinta pertama membentuk kepribadian kita, bagaimana kita memperlakukan cinta kita di masa depan. “Bunga terakhir, ku persembahkan kepada yang terindah, s’bagai satu tanda cinta untuknya. Bunga terakhir, menjadi satu kenangan yang tersimpan, takkan pernah hilang ‘tuk selamanya.”

1. KLa Project – Semoga (1990)



Akhirnya tiba di posisi nomor satu. Jawara dalam daftar ini tak lain tak bukan adalah grup band legendaris Indonesia, KLa Project, dengan salah satu lagu hits legendaris mereka pula, yang bertajuk “Semoga”. Lagu ini dirilis sebagai bagian dari album kedua KLa yang berjudul “Kedua”, yang dirilis pada tahun 1990 (wow, umur lagu ini sama dengan umur saya!). Mengapa lagu ini menduduki puncak daftar? Pertama, melodinya yang menyayat hati. Dibandingkan versi aslinya, sebenarnya pertama kali saya mendengarkan lagu ini adalah versi aransemen ulang yang mereka buat untuk konser “KLakustik” pada tahun 1996, yang selanjutnya termuat dalam album live concert berjudul sama. On that version, the arrangement is just awesome! It’s incorporating classical orchestra music and modern pop, with all elements from piano, violin, guitar, and even drum are blending perfectly. Kedua, liriknya yang begitu mengena. “Merenungkanmu kini, menggugah haruku. Berbagai kenangan berganti, masa yang t’lah lalu. Sebenarnya ku ingin menggali hasrat untuk kembali. Melukiskanmu lagi, di dalam benakku. Perlahan terbayang pasti garis wajahmu. Kehangatan cinta kasih dapat ku baca jelas di situ.” Yup, lagu ini bercerita tentang seseorang yang menengok kembali ke masa lalunya, dan menyadari bahwa ia telah begitu kehilangan selama ini. “Lihatlah ku di sini, memendam rindu. Setiap ku berseru, yang ku sebut hanya namamu.” Lirik pada bagian chorus dari lagu ini sungguh mengena; adakah waktu mendewasakan kita? Wahhh. It hits me right in the heart since the first time I heard it. Mendengarkan lagu ini membuat saya berkontemplasi; memikirkan kembali bagaimana saya bisa sampai pada titik ini, menelusuri jejak kenangan satu persatu serta apa-apa saja yang telah dan mungkin saya lewatkan selama ini. This song makes us reminiscing, and that’s the power of it. It’s everlasting. “Adakah waktu mendewasakan kita? Ku harap masih ada hati bicara. Mungkinkah saja terurai satu persatu pertikaian yang dulu, bagai pintaku? Semoga.”

You Might Also Like

0 komentar