Three Days

Tuesday, July 15, 2014

There’s a famous saying, “As a great power comes great responsibility.” Power, yang berarti kekuatan, namun juga dapat berarti kekuasaan, bagi manusia dapat membawa dua hal; anugerah dan musibah. Anugerah adalah ketika manusia memanfaatkan kekuasaan itu untuk hal-hal yang benar, sedangkan musibah adalah ketika manusia menggunakannya untuk hal-hal yang salah. Namun, benar dan salah adalah relativitas majemuk yang bersumber pada pikiran dan perasaan manusia itu sendiri. Ada pula sebuah ungkapan yang menyatakan, bahwa seorang penjahat bagi sekumpulan orang adalah pahlawan bagi kumpulan lainnya. Ketika batas-batas antara benar dan salah adalah buram, maka seseorang harus menentukan ke mana arah pilihannya akan menuju. Dalam serial drama Korea berjudul “3 Days”, seorang dihadapkan pada sebuah kasus yang membawanya pada pengungkapan, bahwa segala sesuatu tak selalu seperti kelihatannya, bahwa hidup adalah area abu-abu, dan manusia lah yang menentukan hitam atau putihnya.

"3 Days" official poster - source: www.asianwiki.com


Lee Dong Hwi (Son Hyun Joo), adalah Presiden Korea Selatan yang pada masa kampanye hingga awal jabatannya begitu digemari oleh masyarakat. Kini, memasuki tahun ketiga masa jabatannya, popularitas sang Presiden semaki menurun dengan maraknya kasus dan tuduhan korupsi dalam pemerintahannya. Adalah Han Tae Kyung (Park Yoochun), pemuda yang bekerja sebagai agen di Presidential Security Service (PSS) Republik Korea Selatan. Tugasnya adalah sebagai bagian dari pasukan pengawal Presiden. Meskipun saling mengenal dan hampir setiap hari bertemu di Blue House (sebutan bagi tempat tinggal dan kantor resmi Presiden Korea Selatan), Presiden Lee dan Agen Han tidak pernah saling terkait secara langsung. Hingga pada suatu malam, kisah ini dimulai. Ayah Agen Han, yang juga merupakan Chief Economist di pemerintahan, menjadi korban kecelakaan lalu lintas dan terluka parah. Pada hari di mana Agen Han mengawal Presiden Lee dalam kunjungannya ke pasar tradisional, ayah Agen Han meninggal dunia.
Pada upacara pemakaman ayahnya, Agen Han dikunjungi oleh seorang polisi wanita bernama Yoon Bo Won (Park Ha Sun), yang secara mengejutkan menyatakan kecurigaannya bahwa ayah Agen Han tidak mengalami kecelakaan biasa, melainkan pembunuhan berencana. Meskipun pada awalnya Agen Han tidak menggubris pernyataan Polisi Yoon, ia akhirnya mencoba menelusuri kasus kecelakaan ayahnya setelah melihat ruang kerja sang ayah begitu berantakan seperti dibobol seseorang. Petunjuk yang ia dapat pun mengarahkannya kepada seorang Jenderal pensiunan tentara, yang ketika didatangi Agen Han telah tergeletak sekarat. Sebelum meninggal, Jenderal itu sempat membisikkan pada Agen Han bahwa sang Presiden akan dibunuh pada tanggal 5 Maret. Mendengar hal itu, ia langsung menemui rekannya di kepolisian, Lee Cha Young (So Yi Hyun) dan menceritakan segala penemuannya. Segera setelah itu, ia memutuskan untuk menyusul sang Presiden ke villa peristirahatannya, tempat ia berada saat ini.
Agen Han yang tidak membawa kartu identitasnya sebagai agen PSS karena sedang tidak bertugas, tidak mendapatkan izin masuk dari para petugas jaga. Pada saat yang bersamaan, Polisi Yoon telah menemukan saksi yang mengatakan ciri-ciri kendaraan yang menabrak mobil ayah Agen Han dan sedang dalam pengejaran. Petunjuk yang ia temukan pun menuntunnya ke sebuah hutan di dekat villa peristirahatan Presiden. Namun, alih-alih menemukan pelaku, Polisi Yoon justru mendapati sebuah bom electromagnetic pulse (EMP), yang dengan segera meledak. Ledakan bom EMP tersebut tidak menimbulkan percikan api, melainkan melumpuhkan seluruh peralatan elektronik yang berada dalam radius beberapa kilometer di sekitarnya. Sasaran bom EMP itu tak lain tak bukan adalah villa peristirahatan Presiden. Dalam gelapnya malam dengan kondisi lumpuhnya semua alat elektronik termasuk alat-alat komunikasi, tiga tembakan terdengar dari villa peristirahatan Presiden.
Kepanikan melanda villa peristirahatan Presiden. Dua orang pengawal Presiden ditemukan tewas akibat dua dari tiga tembakan yang terdengar. Tembakan yang satunya lagi dapat diduga mengarah kepada siapa. Namun, tubuh sang Presiden tidak ditemukan di mana pun. Para petugas PSS segera melakukan pencarian atas Presiden. Saat itulah Agen Han berhasil mendapatkan izin untuk masuk ke dalam villa dan menemui atasannya, Ham Bong Soo (Jang Hyun Sung), untuk memberitahu bahwa ada ancaman pembunuhan terhadap Presiden dan memperingatkan bahwa Presiden sedang dalam bahaya. Berita padamnya listrik di villa dengan segera diketahui oleh para petugas yang berada di Blue House. Agen Lee dan Chief Secretary of Blue House, Shin Kyu Jin (Yoon Je Moon), segera pergi ke villa. Namun kedatangan mereka tak hanya untuk sekadar melihat keadaan di sana, melainkan juga menangkap Agen Han, yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan Jenderal pensiunan tentara, dan kini bahkan sebagai pelaku perencanaan pembunuhan Presiden.
Agen Han pun dengan segera melarikan diri untuk mencari dalang yang sesungguhnya, serta mengungkap misteri di balik kematian sang ayah dan menghilangnya sang Presiden. Ia percaya bahwa kedua kasus tersebut saling berkaitan, entah bagaimana, hal itulah yang ingin ia cari tahu kebenarannya. Dalam usahanya, ia mendapatkan bantuan dari Polisi Yoon, yang percaya bahwa Agen Han bukanlah dalang dari kasus kejahatan yang sedang berlangsung. Agen Lee, meskipun bertindak sesuai apa yang diperintahkan atasannya, juga tidak percaya bahwa sahabatnya adalah pelaku kejahatan. Dengan segera ia pun mengetahui bahwa pelaku penembakan di villa tak lain tak bukan adalah Agen Ham, pemimpin dari tim PSS yang bertugas. Sementara itu, pencarian Agen Han menuntunnya pada seorang jaksa bernama Choi Ji Hoon (Lee Jae Yong). Ia adalah jaksa yang memimpin investigasi atas kasus tuduhan korupsi Presiden Lee, sekaligus gembok untuk membuka kebenaran atas tragedi yang tengah terjadi. Lalu siapakah yang menjadi kunci? Kuncinya adalah Presiden, yang belum ditemukan keberadaannya.

"3 Days" official photo - source: www.asianwiki.com


“3 Days” adalah serial drama action thriller yang mengudara di stasiun televisi SBS sebanyak 16 episode. Serial ini ditayangkan pada bulan Maret hingga Mei 2014. “3 Days”, atau yang dikenal juga dengan judul “Three Days”, mengadopsi format ‘real time’ yang digunakan dalam serial Amerika Serikat, “24”, dengan narasi yang terbagi dalam tiga babak, yaitu Part 1: The Prelude, Part 2: The Showdown, dan Part 3: Judgement, di mana setiap bagian berlangsung selama tiga hari atau 72 jam. Dengan dunia politik sebagai latarnya, “3 Days” mengisahkan seorang agen Presidential Security Service yang berusaha mengungkap misteri di balik kematian sang ayah yang tiba-tiba, yang ternyata memiliki keterkaitan dengan terancamnya nyawa Presiden Korea Selatan. Serial ini memberikan gambaran pada penontonnya mengenai konflik politik dan kehidupan, lebih dari itu, upaya pencarian kebenaran dan penegakan keadilan di abu-abunya dunia.
Life can’t be seen as black or white only. On the other hand, it’s a grey area. Sometimes when we think that we really know someone, it’s when we actually know nothing about them. Every man has an evil inside them, a dark side that could lure them into lust and negative things. And it’s up to the man himself whether to let the evil takes over him or he controls it. People can change, but they’re not actually changing. They just decide to let a side controls them, whether it’s the good or the bad, they choose to do it. Sometimes, their surroundings, condition, and situation are also take part in the decision. Even in the history of human kind has been told that many people choose the dark side because of it. And when it happens, it appears in a form of betrayal. Segala sesuatu tak seperti kelihatannya, dan bicara tentang pengkhianatan, ia muncul dari sebentuk rasa yang bernama kepercayaan. Ketika seseorang yang begitu kita percayai ternyata bertindak di luar kepercayaan kita, maka muncul rasa terkhianati itu. Pengkhianatan yang sesungguhnya menyadarkan manusia, lagi dan lagi, bahwa hidup adalah soal pilihan.
A good man is not someone who never makes mistake, but it is someone who dares to acknowledge their mistake, learn from it, and will never repeat it again. Hence, it takes more than a good man to be a leader. A leader needs not only good, but also brave and strong man, because after making a mistake, the world could judge him even before he could fix it. Bahkan sejarah dunia pun mencatat banyaknya pemimpin dunia yang dihujat oleh banyak pihak karena satu kesalahan fatal, tanpa melihat hal-hal baik yang telah mereka lakukan. “Karena nila setitik maka rusaklah susu sebelanga”, begitu peribahasanya. Bicara tentang menjadi seorang pemimpin, maka kita bicara mengenai dua hal mendasar, yaitu kekuasaan dan tanggung jawab. Sesungguhnya tidak ada pemimpin yang ideal di muka bumi ini, karena mereka adalah manusia, dan pada hakikatnya manusia adalah pembuat kesalahan, karena dari sanalah mereka belajar. Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan pemimpin yang sanggup bertanggungjawab atas segala bentuk kesalahan yang ia lakukan. Dalam hal ini, alih-alih menghakimi dan menghujat pemimpinnya, masyarakat seharusnya berperan sebagai pengingat dan penjaga. Before making a judgement, as a person, you should take a look at yourself first. Have you been a good man enough to judge your leader? Have you done your best enough to judge your leader?
A single rice bean can affect a weight scale; a single man can bring victory to the country in a war. Although it seems impossible, but one man can change destiny and save the day. Manusia hidup dalam pencariannya atas tujuan, dan ketika ia telah menemukan tujuan tersebut, maka ia hidup dalam usahanya atas pencapaian tujuan tersebut. Manusia membangun tujuannya dari hal-hal yang ia percaya, serta kebenaran yang ingin ia ungkap, meskipun dalam perjalanannya ia harus bertentangan dengan beberapa pihak. Bahkan sejarah dunia pun mencatat beberapa tokoh penting dunia yang berjuang atas keyakinannya justru mendapatkan tekanan dari banyak pihak. Bicara tentang melakukan apa yang ia percaya sebagai kebenaran bahkan ketika seluruh dunia berkata bahwa ia salah, pada akhirnya semua adalah soal waktu. Manusia dapat berjuang untuk membawa perubahan, memperjuangkan hal-hal yang ia anggap benar, dan waktu lah yang pada akhirnya akan mengungkap segalanya.
 Afterall, life is about revelation. Hidup ini penuh misteri, dan manusia menjalaninya untuk mengungkap dan menguak tabir atas segala misteri itu, satu demi satu. Peribahasa mengatakan, “Sepandai-pandainya orang menyimpan mayat, pasti baunya akan tercium juga”. Area abu-abu perlahan akan menunjukkan warna aslinya, apakah itu hitam atau putih. Segala sisi akan memperlihatkan sifat aslinya, apakah itu baik atau jahat. Meskipun memang tak ada kebenaran yang absolut di muka bumi ini, namun hidup tak lebih dari sekadar siklus, tak ada yang abadi. Life is a cycle. There will always be good men and bad men; two sides that stand opposite to each other while doing what they believe is right. Indeed, that is life all about. Before choosing which side is the right one, people must defeat the evil inside them first. To be able to do that, the key is humanity. As long as people don’t let the evil kills the humanity, they will never lose hope. As long as people never lose hope, the justice will be upheld.

"3 Days" official photo - source: www.asianwiki.com


“3 Days” berangkat dengan tempo yang agak lambat, sehingga para penontonnya akan sangat mudah dibuat bosan apabila hanya melihat episode pertamanya saja. Dengan lemahnya episode pertama, secara mengejutkan plot dapat berkembang pada episode-episode selanjutnya, tempo pun meningkat sehingga serial ini menjadi sangat menarik untuk diikuti kemudian. Secara adrenalin, “3 Days” masih berada di belakang serial sejenisnya seperti “God’s Gift – 14 Days” yang sangat memacu adrenalin. Secara plot, serial ini cukup cerdas dan solid dengan format ‘real-time’ yang diterapkannya. Secara dialog, masih ditemukan beberapa dialog yang terasa janggal di beberapa bagian. Secara kapasitas akting, kejutan datang dari jajaran pemeran pendukung yang semuanya tampil luar biasa. Yang sangat disayangkan justru penampilan aktor utama Park Yoochun, yang sepertinya memang lebih cocok membawakan karakter utama dalam genre komedi romantis seperti “Rooftop Prince”. Not his best performance in “3 Days”, but he surely did work hard in it. Overall, “3 Days” is nice to watch during your spare time.

You Might Also Like

0 komentar