The Time Traveler

Tuesday, May 27, 2014

It a was a blessing and a curse. It could be a salvation or destruction.” –Park Sun Woo (Nine: Nine Times Time Travel, 2013)

So many people have regrets in their hearts.” –Park Jung Woo (Nine: Nine Times Time Travel, 2013)

Hating your family will only hurt you.” –Oh Chul Min (Nine: Nine Times Time Travel, 2013)

If I could, I would turn back the time. That’s what people say. But if we really got the chance to turn back in time, what would we do? Undo some mistakes? Say what’s left unsaid? Do what has been undone? Prevent some damages that have been made? Or perhaps, prevent the person we love from death? Even the smallest thing we change from the past could change our entire future. But who knows that it’s a good thing? There must be some consequences, right? Indeed, there’s no such a free thing in this world. There’s always a price to pay. And human lives by reaping what they sow. Birth, fate, and death; these three things are God’s biggest mystery. But what if we, humans, try to mess with those things? What would happen when a human tries to play as God? It’s all happening in a drama series called “Nine: Nine Times Time Travel”, where a man takes a risky chance to travel back in time, changing not only his life, but also everyone surround him.
Park Sun Woo (Lee Jin Wook) adalah seorang news anchor yang tampan dan sukses. Namun, di balik segala kesempurnaan yang ia miliki, ia menyimpan masa lalu yang kelam, yang membuat keluarganya kini tercerai berai. Pada suatu hari, ia mendapat sebuah kabar yang mengejutkan dan mengharuskannya pergi ke Nepal. Di sana ia menemui juniornya, reporter Joo Min Young (Jo Yoon Hee), yang tengah ditugaskan oleh stasiun televisi tempat mereka bekerja untuk melakukan reportase di Himalaya. Sun Woo menyatakan bahwa ia ingin mengencani Min Young, bahkan menikah dengan wanita itu, tetapi hanya untuk waktu enam bulan saja. Min Young yang terbiasa dengan sikap aneh seniornya itu pun tidak menganggap serius pernyataan Sun Woo, meskipun ia tidak dapat memungkiri perasaannya bahwa ia telah lama menyukai pria itu. Tanpa Min Young ketahui, tujuan utama Sun Woo ke Nepal adalah untuk mengidentifikasi jenazah yang diduga adalah kakak Sun Woo. Ternyata benar, itu adalah jenazah Park Jung Woo (Jeon No Min).
Park Sun Woo teringat bahwa terakhir kali ia bertemu dengan almarhum sang kakak adalah setahun yang lalu. Waktu itu Park Jung Woo meminjam sejumlah uang kepadanya dan mengatakan hal-hal aneh mengenai kembali ke masa lalu, yang tidak terlalu ditanggapi oleh Sun Woo. Sejak itu sang kakak menghilang, kemudian ditemukan meninggal dunia setahun kemudian. Seluruh barang-barang peninggalan sang kakak yang ditemukan di Nepal kemudian diberikan kepada Sun Woo, termasuk sebatang dupa yang ditemukan dalam genggaman jenazah sang kakak. Sesuatu yang aneh terjadi ketika Sun Woo menyalakan dupa itu. Ia mengalami mimpi yang terasa begitu nyata. Namun pada waktu itu ia tidak terlalu mengambil pusing peristiwa aneh tersebut. Ia pun kembali ke Korea Selatan. Pada suatu hari, Sun Woo membuat gempar pemberitaan dengan mengajukan pertanyaan kontroversial ke salah satu tokoh ternama di dunia kesehatan Korea Selatan, dokter Choi Jin Chul (Jung Dong Hwan). Rupanya, orang itu memiliki keterkaitan dengan meninggalnya ayah Sun Woo dua puluh tahun silam, yang berujung pada hancurnya keluarga mereka.
Ada satu alasan besar mengapa Park Sun Woo nekad untuk mengonfrontasi dokter Choi. Ia didiagnosa menderita tumor otak stadium lanjut dan dokter memprediksi ia hanya dapat menjalani hidup normal selama enam bulan ke depan saja. Selebihnya, hanya waktu yang dapat menjawab. Sahabatnya, dokter Han Young Hoon (Lee Seung Jun), menyarankan Sun Woo untuk berhenti bekerja dan melakukan perawatan sepenuhnya di rumah sakit, namun Sun Woo menolak. Ia ingin menghabiskan sisa hidup normalnya bersama wanita yang ia cintai, Joo Min Young. Sun Woo mati-matian menyembunyikan penyakitnya itu dari Min Young, meskipun akhirnya wanita itu mengetahui semuanya dari dokter Han. Walaupun sempat terkejut, Min Young pun memutuskan untuk melakukan apapun yang Sun Woo inginkan, karena ia mencintai pria itu. Hingga pada suatu hari, Sun Woo menemukan keajaiban dari dupa yang ditinggalkan oleh almarhum kakaknya.
Park Sun Woo menemukan bahwa dupa itu dapat membawanya ke masa dua puluh tahun silam. Ia pun tahu bahwa sang kakak meninggal dunia dalam misi pencariannya terhadap sembilan batang dupa lainnya yang konon berada di Himalaya. Mengikuti jejak sang kakak, Sun Woo mencari benda itu, dan untungnya, ia berhasil menemukannya dengan selamat. Berbekal sembilan batang dupa ajaib itu, Sun Woo memulai petualangannya untuk kembali ke masa lalu. Misinya adalah satu, menuntaskan apa yang sang kakak inginkan, yaitu mencegah kematian ayah mereka, yang Sun Woo yakini sebagai akar kehancuran keluarga mereka dulu. Satu dua hal kecil yang Sun Woo tinggalkan ketika ia kembali ke masa lalu sedikit banyak membawa perubahan di masa depan. Ia bahkan melakukan kontak dengan dirinya dua puluh tahun lalu, Park Sun Woo remaja (Park Hyunsik), dan sahabatnya, Han Young Hoon remaja (Lee Yi Kyung).
Perubahan yang terjadi hanya disadari oleh Park Sun Woo dalam alam sadarnya. Sementara itu, karena ia menceritakan soal dupa ajaib itu kepada dokter Han, sahabatnya itu pun menyadari perubahan yang terjadi dalam ingatannya. Sedangkan, orang-orang lain tidak menyadari perubahan tersebut. Dengan demikian, masa yang telah berjalan sebelum Sun Woo berkelana ke masa lalu tertinggal hanya sebagai alam alternatif bagi Sun Woo dan dokter Han. Namun ia menemukan hal lain ketika melakukan perjalanan ke masa dua puluh tahun silam, bahwa ada hal lain yang merisaukan kakaknya, Park Jung Woo muda (Seo Woo Jin), pada waktu itu, yaitu kehilangan wanita yang dicintainya. Sun Woo pun memulai perubahan besar dengan menyatukan kembali kakaknya dengan wanita itu. Namun tanpa ia sadari, langkahnya itu justru membawa Sun Woo pada satu hal yang tak pernah ia duga. Bahwa dengan mewujudkan kebahagiaan sang kakak, kebahagiaannya sendiri justru terancam, dan nyawa sang ayah juga tetap tak terselamatkan.
“Nine: Nine Times Time Travel”, yang kerap disebut dengan judul “Nine”, adalah serial drama yang ditayangkan oleh stasiun televisi kabel tvN. Serial ini terdiri dari 20 episode dan mengudara pada bulan Maret hingga Mei 2013. Lahir dari tim yang sama yang memproduksi serial drama hits “Queen In Hyun’s Man”, “Nine” memadukan unsur melodrama, romance, fantasy, dan thriller dengan apik nan cerdas. Kualitas serial ini terbukti dengan dibelinya lisensi untuk membuat remake serial “Nine” oleh stasiun televisi Amerika Serikat, ABC. Berpusat pada kehidupan seorang news anchor Park Sun Woo, “Nine” tidak hanya mengisahkan bahwa hidup adalah soal pilihan, melainkan juga bagaimana manusia harus menjalani konsekuensi atas pilihan-pilihan yang telah mereka ambil. Bahwa mendapatkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu merupakan harapan sekaligus kutukan. Bahwa hal itu dapat menjadi berkah sekaligus musibah.
Dalam hidup ini berlaku hukum sebab dan akibat. Akan selalu ada konsekuensi atas segala sesuatu yang kita pilih. Akan selalu ada risiko atas segala sesuatu yang kita lakukan. Setiap pilihan dan setiap tindakan di masa lalu adalah pembentuk dan pembawa diri kita sekarang ini. Begitu pula dengan setiap pilihan dan setiap tindakan pada saat ini akan membentuk dan membawa diri kita di masa depan kelak. Seperti apa yang terjadi ketika Park Sun Woo mengambil pilihan untuk kembali ke masa lalu dan melakukan perubahan atasnya, maka masa depan pun turut berubah, meskipun dalam bentuknya yang paling sederhana, yaitu ingatan. Salah satu alasan ia kembali masa lalu dan mengubahnya adalah karena penyesalan; suatu perasaan yang memang manusiawi. Namun manusia hidup dengan menuai apa yang telah mereka tanam; hukum sebab akibat. Dan ketika rasa penyesalan itu muncul, alih-alih terlarut di dalamnya, selayaknya kita melakukan refleksi atas hal-hal yang telah lalu, karena tak ada kata terlambat bagi masa depan yang lebih baik.
Pada dasarnya hidup memang soal pilihan. Terkadang manusia terpaku pada ambisi mereka untuk memilih yang terbaik. Seperti yang dilakukan Park Sun Woo ketika ia berusaha mengubah masa lalu keluarganya. Namun sesungguhnya, hidup bukan sekadar persoalan memilih yang terbaik, melainkan memilih yang sesuai dan sepadan. Mungkin memang seseorang harus jatuh ke titik yang paling dalam untuk dapat bangkit kembali. Mungkin memang seseorang harus merasakan sakit yang begitu pahit untuk dapat mensyukuri setiap jengkal kebahagiaan yang ia miliki. Mungkin memang yang terbaik bagi satu belum tentu terbaik pula bagi yang lain. Mungkin memang seseorang harus melewati penderitaan terlebih dahulu untuk mendapatkan akhir yang bahagia. Seperti kata orang, tak ada capaian tanpa pengorbanan, karena sesungguhnya seseorang akan mengerti arti kebahagiaan yang ketika ia pernah merasakan kesedihan.
Beberapa rahasia di dunia ini ditakdirkan untuk selamanya menjadi rahasia. Park Sun Woo berkata dalam serial ini, “Some secrets are kept as secrets for a reason.” Ya, memang selalu ada alasan di balik setiap hal yang menjadi rahasia di muka bumi ini. Namun sesungguhnya, tak ada rahasia yang abadi. Meskipun rahasia itu telah pergi dibawa mati oleh si pembawa, namun jejak-jejaknya yang tertinggal selalu dapat terlihat oleh generasi berikutnya. Ia akan terungkap seuatu saat kelak, entah bagaimana caranya. Sebuah rahasia dapat memberi pengaruh begitu besar tidak hanya bagi yang menyimpannya, melainkan juga orang-orang di sekitarnya, seperti apa yang terjadi pada Park Jung Woo. Rahasia yang disimpan begitu rapat oleh Jung Woo akhirnya terbongkar oleh adiknya, Sun Woo. Rahasia yang telah memberi perubahan signifikan terhadap nasib keluarga mereka. Rahasia yang menjadi awal dari segala problematika, yang meskipun terlalu menyakitkan ketika ia terurai satu persatu, harus terungkap pada akhirnya.
Ketika di dunia ini hanya ada satu bentuk kejahatan, yaitu pencurian, lalu pencurian atas apakah yang paling kejam? Bagi beberapa orang, pencurian yang paling kejam adalah pencurian atas kenangan. Park Sun Woo berkata dalam serial ini, “Memory? What if it’s a memory? What’s the big deal about it? It’s only a memory, it’s not the reality.” Mungkin kalimat itu terasa sederhana, namun sesungguhnya itu adalah ungkapan sarkas mengenai betapa menakutkannya ketika kenangan yang kita miliki tak lagi menjadi bagian dari realita itu sendiri. Terkadang, baik disadari maupun tidak, kenangan adalah hal luar biasa yang sanggup menguatkan manusia; yang sanggup memberi mereka pijakan ketika dunia mereka serasa goyah dan tak bersahabat; ketika kenyataan yang ada di hadapan tak lagi serasa nyata. Kenangan adalah harta, yang tak akan terganti dan sanggup ditukar oleh apapun di dunia ini.
Untuk serial drama yang ditayangkan oleh stasiun televisi kabel, “Nine” meraih rating yang cukup tinggi dengan menembus angka 5%. “Nine” juga meraih berbagai penghargaan dalam ajang-ajang populer di Korea Selatan. Plot yang solid menjadi kekuatan serial ini, bagaimana skenario disusun dengan sedemikian rapi dan cerdasnya sehingga setiap adegan memiliki makna bagi satu dan yang lainnya. Alur time travel yang menjadi latar belakang cerita pun dirangkai dengan apik dan sangat detail sehingga sama sekali tidak membingungkan dan jauh dari kata membosankan. Karakterisasi yang kuat serta pemilihan pemeran yang tepat pun menjadi keunggulan bagi “Nine”. Bukan hal yang mudah untuk menyandingkan dua lini masa berbeda dalam satu cerita, apalagi menghadirkan dua orang berbeda untuk memainkan karakter yang sama dalam dua lini masa tersebut. Namun tim produksi “Nine” sanggup mengeksekusi ide brilian tersebut dengan cemerlang. This series is surely in a different quality with another series I’ve ever watch. Moreover, the cinematography is fantastic. This series is brilliant and indeed a must watch.

History of mankind proves that the arrogance of a man, of believing that he is the only who could change the world, has led many heroes to their doom.” –Joo Min Young (Nine: Nine Times Time Travel, 2013)

For the people who have kept their roles in my life, for those who chose that fate, for being a true friend to me every time for every life, I’m thankful.” –Park Sun Woo (Nine: Nine Times Time Travel, 2013)


When I learned that I was going to die soon, I realized something. That I had loved her for those 5 years. I realized that there was not a moment that I didn’t love her. But it was too late. So I wanted to be with her for the remaining months to giver her everything I could. If she knew that I was sick, I thought that I would never see the smile of the girl I love again. That’s why I wanted to keep it a secret. What importance does that smile have? I’m trying my best to be cheerful, but I feel like I want to cry multiple times a day. It’s not just a smile, it’s everything for me.” –Park Sun Woo (Nine: Nine Times Time Travel, 2013)

You Might Also Like

0 komentar