Back to 1994

Tuesday, April 08, 2014



In this world, there are words that are harder to say than dying. To the people I love, there are words that are very hard to say, when I’have to explain the hurt that I’ve caused. And to those who still unprepared when I have to tell them the truth. To the one you love, when you have to make them listen to a truth that is hard to accept, when you have to say something that is so deathly difficult, you have to think of only one thing. Better than any long words, better than any well-crafted words, the light in your eyes that says that you love them, if that’s the only thing, it’s enough.” –Sseureki (Reply 1994, 2013)

By all means, the most important aspect of a present is its surprise and unexpectedness. The present that appeared at an amazing timing, as if it were a lie, was more touching than a miracle. Present, this English word has two meanings. Gift and now. Perhaps, it means that the precious gift is the now, the very time before us. Although we constantly bickered, and pestered each other, we leaned on each other, rubbing skin. Those happy times. We were spending, a gift like time, together.” –Sung Na Jung (Reply 1994, 2013)

Living is a choice made at every moment. After all, this point in time that I’m stepping on right now is a result of those innumerable choices I made in the past. No matter which path you chose, it’s normal to have a lingering attachment to the paths you didn’t choose. That’s why there’s no such thing as a choice without regrets. That’s why there’s no such thing as a right answer in life. You need to believe that the path you choose is the right answer and make it the right answer. That’s all. Living without any regrets on the choices I made. That’s the right answer in life.” –Samcheonpo (Reply 1994, 2013)

It’s always nice to reminisce the past, to remember all those glory days from our yesterdays, to smile upon memories. There are some times in our life when we want to just stop for a while, sit back, relax, and take a look back into our own memories just like playing a movie or watching a photo album. Among many stages of life that we’ve been through, the college life might have its own features. Yes, those young and crazy days! Those days when our head held high proudly yet naively. Those days when our spirits were unstoppable. Those days when everything seemed so bright yet seemed so blur at the same time. Every feelings, every efforts, every struggles, and everything we’ve been through in those exciting and thrilling college days. Those were days when we grew up from a kid to an adult. Those were days when we experienced life. Those were days that are unforgettable. The days that some people remember as the time of their lives. “Reply 1994” is a drama series that throw us back to those days.

"Reply 1994" official poster - source: www.asianwiki.com


Kisah ini berpusat pada sebuah keluarga dari Masan yang tinggal di Seoul dan mengelola rumah kost di tempat tinggal mereka pada tahun 1994. Sang ayah, Sung Dong Il (Sung Dong Il), adalah pelatih baseball tim Seoul Twins. Sang ibu, Lee Il Hwa (Lee Il Hwa), adalah ibu rumah tangga yang merangkap sebagai ibu kost. Tinggal bersama mereka adalah sang putri satu-satunya, Sung Na Jung (Go Ara), mahasiswi tingkat pertama jurusan Computer Engineering di Universitas Yonsei. Ada pula mahasiswa tingkat akhir jurusan kedokteran yang memiliki nama julukan Sseureki (Jung Woo), pria yang sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh pasangan Sung, serta sebagai kakak sendiri oleh Na Jung, karena mereka berasal dari daerah yang sama dan sudah saling mengenal sejak kecil.
Rumah kost keluarga Sung juga diramaikan oleh kehadiran Jo Yoon Jin (Min Do Hee), gadis dari Yeosu yang merupakan die-hard-fans­ grup hip-hop Seo Taiji and the Boys, ia berkuliah di kampus yang sama dengan Na Jung; pria dengan nama julukan Haitai (Son Ho Jun), mahasiswa rekan sekampus Na Jung yang berasal dari Suncheon, pria dengan nama julukan Samcheonpo (Kim Sung Kyun) karena ia berasal dari Samcheonpo, ia juga sekampus dengan Na Jung, dan terakhir adalah pria dengan nama julukan Binggeure (Baro), junior tingkat pertama Sseureki di kampus kedokteran. Sepupu Binggeure yang memiliki nama julukan Chilbong (Yoo Yeon Seok), juga kerap bertandang ke rumah kost keluarga Sung, karena ia adalah atlet baseball universitas yang dipandang potensial oleh ayah Na Jung untuk bergabung dengan Seoul Twins.
Kisah cinta dimulai ketika pada suatu hari, Na Jung tak lagi memandang Sseureki sebagai kakak, melainkan sebagai pria. Ia jatuh cinta pada pria itu. Namun, ketika ia menyibukkan perasaannya dengan cinta terpendam terhadap Sseureki, Na Jung tidak menyadari bahwa Chilbong jatuh cinta padanya. Bahkan ketika perasaan Sseureki pun mengatakan bahwa ia juga menaruh hati pada Na Jung, kondisi yang mereka hadapi tidak semudah kelihatannya, karena orang tua Na Jung telah menganggap Sseureki sebagai anak mereka sendiri. Pria itu bahkan tumbuh besar bersama Na Jung. Di sisi lain, bagi orang tua Na Jung, Chilbong adalah sosok menantu yang ideal. Dapatkah orang tua Na Jung memandang Sseureki tidak sebagai anak, melainkan calon menantu?
Selain kisah cinta segitiga antara Na Jung, Sseureki, dan Chilbong, kisah ini juga memberi fokus pada kehidupan para pemuda di rumah kost keluarga Sung. Yoon Jin yang temperamen dan kemampuannya yang minim dalam beradaptasi. Haitai yang berusaha keras untuk menjadi pemuda Seoul yang baik tanpa meninggalkan identitasnya sebagai putra daerah. Samcheonpo yang dengan kepolosan dan keluguannya berusaha berbaur dengan kehidupan perkotaan. Binggeure yang meskipun cerdas, mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan atas apa yang sebenarnya ia cari dalam hidupnya. Bersama, di tengah pahit manisnya kota metropolitan Seoul, para pemuda itu mencari cinta dan cita. Lebih dari itu, mereka membentuk jati diri.

"Reply 1994" official photo - source: www.asianwiki.com


“Reply 1994”, atau yang juga dikenal dengan judul “Answer Me 1994”, mengudara pada stasiun televisi kabel Korea Selatan, tvN. Serial drama ini terdiri dari 24 episode, termasuk episode 0 sebagai prolog, serta dua episode spesial epilog. “Reply 1994” ditayangkan pada bulan Oktober hingga Desember 2013. Banyak yang mengatakan bahwa serial ini merupakan prekuel dari serial hits 2012, “Reply 1997”. Namun, meskipun diproduksi oleh tim yang sama, memiliki tema dan konsep yang sama, bahkan beberapa cast yang sama, “Reply 1994” sama sekali tidak terkait dengan “Reply 1997” dari segi jalan cerita. Dilahirkan dari tangan dingin duet maut sutradara Shin Won Ho dan penulis naskah Lee Woo Jung, “Reply 1994” menyajikan kisah kehidupan beberapa anak muda dalam masa-masa kuliah mereka. Menariknya, kisah ini ditampilkan dalam alur maju-mundur yang alih-alih membingungkan justru membuat serial ini semakin menarik. Lebih dari sekadar kisah percintaan anak muda, “Reply 1994” secara cerdas menyuguhkan kisah apik mengenai keluarga, persahabatan, serta kehidupan manusia dalam proses pendewasaannya.
Menonton “Reply 1994” membuat saya merefleksikan kehidupan di kota saya sendiri. Semua yang pernah berkuliah pasti tahu rasanya, suka dan duka menjadi anak rantau. Utamanya, karena keluarga saya pernah mengelola rumah kost di kota asal saya yang memang merupakan kota tujuan merantau bagi para mahasiswa dari seluruh negeri. Oleh karena itu, menonton “Reply 1994” membuat saya terlempar dalam ingatan saya sendiri. Bahwa rumah kost bagi anak rantau bukanlah sekadar tempat tinggal. Ia adalah rumah keluarga, di mana mereka membentuk ikatan dengan keluarga baru mereka. Cerita terukir di sana, tempat yang mendampingi mereka menuju kemandirian dan kedewasaan, jauh dari orang tua.
Menemukan ibu kost yang “super keibuan” seperti ibu Na Jung memang sudah sangat susah ditemukan sekarang. Namun seperti itulah kondisi rumah kost yang keluarga saya kelola dulu. Saya ingat sekali ketika nenek dan ibu saya membuatkan makan sahur untuk anak-anak kost ketika bulan puasa, persis seperti yang dilakukan ibu Na Jung setiap hari yang membuatkan sarapan dan makan malam untuk anak-anak kostnya. Rumah adalah sumber kehangatan setiap orang. Rumah kost adalah “rumah” bagi mereka yang berbagi. Serial ini mengingatkan kita, bahwa rumah kost bagi sebagian orang adalah lebih dari sekadar tempat menumpang tidur dan mandi, melainkan sebuah tempat yang menawarkan kehangatan di tengah dinginnya kehidupan perantauan.
Kesempurnaan bukanlah segalanya, karena hati lah yang memilih pada akhirnya. Lebih dari kesempurnaan, hati akan membawa kita pada pilihan yang tepat. Bagi seorang Sung Na Jung, pilihan hati membawanya untuk memilih seseorang yang membuatnya merasa nyaman. Seseorang yang telah melalui suka duka dan tumbuh dewasa bersamanya. Seseorang yang sanggup memotivasinya untuk menjadi lebih baik, yang mampu menerima segala kekurangannya. Terlebih, seseorang yang ia inginkan untuk menjalani hari tua bersama. Meskipun selain orang itu terdapat pilihan lain yang jauh lebih sempurna, ia memilih pria tak sempurna yang sanggup menyempurnakannya.
Hidup adalah pilihan. Pilihan yang kita ambil saat ini akan menentukan masa depan kita, seberapa kecil pun pilihan tersebut. Melihat ke dalam kenangan berarti menengok kembali pilihan-pilihan yang telah dibuat semasa muda dulu. Sesungguhnya tidak ada pilihan yang benar dan salah. Selama kita meyakini pilihan tersebut, tak akan terwujud penyesalan atasnya. Ketika sebuah pilihan telah dibuat, maka kita harus meyakini dan mencintai pilihan tersebut dengan segenap hati. Sehingga ketika kita menengok kembali ke belakang, tak akan terbersit rasa menyesal atas pilihan tersebut. Karena pada akhirnya, diri kita sendiri lah yang menentukan kebahagiaan kita.

"Reply 1994" official photo - source: www.asianwiki.com


Sebelum membuat “Reply 1997” pada tahun 2012, sutradara Shin Won Ho dan penulis naskah Lee Woo Jung sebenarnya telah merencanakan “Reply 1994”, yang didasarkan atas pengalaman mereka sendiri, yang merupakan mahasiswa tingkat pertama pada tahun 1994 tersebut. Namun pada waktu itu mereka memutuskan untuk menunda produksinya dan merilis “Reply 1997” terlebih dahulu. Dengan demikian Shin dan Lee memiliki jeda waktu lebih panjang untuk mempersiapkan produksi “Reply 1994”. Hasilnya, luar biasa! “Reply 1994” mencetak rekor yang sebelumnya dipegang oleh pendahulunya, “Reply 1997”, sebagai serial drama dengan rating tertinggi yang pernah diraih oleh televisi kabel, yaitu menembus angka 11%. Banyak orang yang memperbandingkan antara “Reply 1994” dan “Reply 1997”. Saya tidak akan memilih salah satu yang lebih baik. Namun, mengingat bahwa kedua serial ini merupakan hasil karya dari tim produksi yang sama, saya harus menyatakan bahwa terdapat banyak perkembangan dalam “Reply 1994”. The team had improved. They did a great job with “Reply 1994”. Well-written script, interesting story-line and plot, splendid cast, beautiful cinematography, and clever details. “Reply 1994” is surely one of must-watch-dramas-before-you-die!




Sincerity is usually hidden behind. Since it’s so pure and delicate, the more you push it and yell at it, the deeper it hides. There is only one way to deal with it. Until the sincerity raises its head itself, you have to just meet its eyes and listen to its words. If you wait while putting your words and thoughts aside, the sincerity just pops up before you know. Any sort of pretense or haughty advice can’t be a real comfort. Comfort is usually created at the moment when sincerity is shared. If you want to comfort someone, it’s enough for you to just watch and listen to that person.” –Binggeure (Reply 1994, 2013)

Of course, there are many one-sided loves that couldn’t be confessed in this world. Those fools, who know how to escape but cannot escape. That’s why one-sided love hurts.” –Haitai (Reply 1994, 2013)

The last always passes without realizing it’s the last time. The reason why every “last” in the world is sad might be due to regret that we let it pass without realization. At twenty years old, our hearts were beating with excitement of a new challenge. Our hearts were passionate and we felt no fear. The excitement, passion, and fearlessness you can only feel when one is 20, not knowing how precious that time was, that’s how we spent the last days of our 20th year.” –Sung Na Jung (Reply 1994, 2013)

You Might Also Like

0 komentar